Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ghazwul Fikr

Sunni – Syiah: Beda Ushūl Tapi Bisa Rukun?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 11 November 2015 09:01 9:01 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 10 November 2015 08:55
Bagikan
Dokumentasi Mantan Presiden Iran Ahmadinejad saat bertemu ulama Al Azhar, di mana Al Azar melarang Syiah mengembangkan diri di negeri Sunni
Bagikan

Oleh: Ahmad Kholili Hasib

Upaya menciptakan kehidupan saling toleransi antara umat Ahlus Sunnah (Sunni) dengan umat Syiah (Syi’i) merupakan harapan kita semua. Sebagaimana umat Muslim bisa hidup bertoleransi dan berdampingan baik dengan orang Kristen, Hindu dan Budha.

Perbedaan Tuhan, kitab suci dan hal-hal pokok lainnya bukan lah halangan antar umat untuk saling hormat-menghormati. Nabi Muhammad Saw itu orang yang paling toleran dengan Yahudi dan Kristen. Tetapi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassallam tidak pernah mengeluarkan statemen; Islam dengan Yahudi-Kristen itu sama, beda sedikit dalam perkara cabang agama. Sama sekali Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassallam tidak pernah bersabda demikian. Justru Nabi sering menyampaikan kesesatan dua agama ini.

Dalam isu Sunni-Syiah, sampai hari ini masih ada orang yang ‘takut’ membicarakan perbedaan ushūl (pilar-pilar agama) antara keduanya karena dianggapnya menyatakan perbedaan I’tiqad (keyakinan) adalah sumber perkelahian fisik. Padahal, antara ushūl dengan perang fisik tidak relasi sebab-akibat.

Akibatnya, perbedaan Sunni-Syiah diturunkan kepada perbedaan furuiyah (cabang agama) dan ijtihadi. Seperti baru-baru ini artikel di Harian Republika berjudul “Sunni dan Syiah Bersatu, Mungkinkah? Mengutip tulisan Prof. Dr. Musthafa al-Rifa’I Islamuna fi at-Taufiq Baina as-Sunni wa asy-Syiah yang menyatakan: “Ar-Rifa’I menegaskan, mempertemukan kedua kubu itu bukanlah hal yang mustahil. Perbedaan yang selama ini mencuat, kata dia, pada hakikatnya bukan persoalan prinsip, melainkan masalah khilafiah yang dapat ditoleransi. Pada tataran ijtihad dan tradisi ilmiah lain, misalnya, terbuka peluang Sunni-Syiah bertemu.

Baca Juga

SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!
Tuduh Islam Kaku, Dokter Muda Kristen Ini Terbungkam saat Dengar Hujjah Buya Hamka
Syubhat Seputar Al-Qur’an: Benarkah Ada 2 Surah yang “Hilang”?
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 2)
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 1)

Sepertinya, penulis artikel dan Prof. al-Rifa’i enggan membicarakan perbedaan besar yang sebenarnya. Setidaknya dua kemungkinan.

Pertama, tidak tahu fakta kitab induk Syiah. Kedua, tahu dan faham penyimpangan Syiah tapi menutup-nutupi demi menjaga kerukunan dan toleransi.

Kemungkinan pertama yaitu Prof. al-Rifai dan penulis artikel tidak tahu penyimpangan bidang ushūl aliran Syiah rasanya tidak masuk akal. Seorang professor yang menulis tentang Ahlus Sunnah dan Syiah tanpa merambah fatwa-fatwa ulama Syiah serta kitab-kitabnya, tentunya sulit saya terima.

Terlebih, buku-buku yang membuka perbedaan akidah Syiah dengan Ahlus Sunnah sudah terlampau menumpuk.

Saya masih percaya Prof. al-Rifai memegang tradisi ilmiah. Rasanya aspek-aspek penyimpangan akidah Syiah tidak perlu ditulis di ruang yang terbatas ini, sebab cukup banyak dan sering diulas di media.

Buku-buku induk Syiah juga banyak yang bisa didownload secara gratis. Pembicaraan Syiah selama ini sudah pada tingkat akidah yang paling prinsip. Syiah istna asyariyah –Syiah yang mayoritas — meyakini imamah sebagai rukun iman. Siapa pun umat Muslim yang pernah belajar dasar-dasar Islam, pasti menilai aneh imamah menjadi rukun iman. Tidak ada seorang ulama Sunni pun yang meyakini rukun iman itu bagian perkara ijtihad, khilafiyah dan furuiyyah.

Artinya, isu Syiah ini sudah bukan barang baru, tapi sudah ribuan tahun dikaji, diteliti dan dikupas oleh para ulama, cendekiawan dan sarjana Muslim. Para ulama ketika membicara Syiah, tidak lagi berbicara dalam konteks furuiyyah tapi ushuliyah. Kesalahan dalam ijtihad fikih berpahala satu, tetapi kesalahan dalam bidang ushuliyah tidak ada pahalanya bahkan bisa menjerumuskan pada status sesat.

Karena itu, saya memperkirakan beliau ada dikemungkinan kedua. Dan kemungkinan kedua ini cukup banyak ditemui. Tutup mulut atau menutup mata terhadap kelainan Syiah, karena takut terjadi konflik terbuka, perang fisik dan lain sebagainya. Sikap demikian bukanlah sikap ilmiah. Tradisi ilmiah itu apa adanya, tidak menutup-nutupi fakta dan kebenaran.

Inilah logika yang keliru. Bicara perbedaan adalah sumber konflik sosial. Pertikaian fisik bersumber dari pembicaraan tentang beda keyakinan. Logika ini sepertinya mirip pikiran Charles Kimball, penulis buku When Religion Became Evil (edisi Indonesia berjudul Kala Agama Jadi Bencana diterbitkan Mizan Bandung tahun 2003) bahwa menyatakan agama itu sumber perang sosial antar pemeluk agama.

Justru seharusnya, kita perlu menempatkan Syiah secara ilmiah dan terbuka. Menempatkan pada ruang ilmiah berarti mengakses kitab-kitab Syiah dan pemahaman pelakunya. Sedangkan menutup-nutupi fakta adalah pengkhianatan terhadap tradisi ilmiah.

Dalam artikel Republika di atas, ada kesengajaan secara jelas untuk melakukan kebohongan publik. Penulis mengatakan bahwa Imam Ja’far al-Shadiq adalah Syiah. Pihak Syiah sendiri pun sampai sekarang kesulitan membuktikan pengakuan Imam Ja’far al-Shadiq bahwa dirinya penganut Syiah. Apalagi menunjukkan mata rantai sanad imam Khomeini dengan Imam Ja’far al-Shadiq.

Jika benar Syiah sekarang ini mengikuti Imam Ja’far, maka kita persilahkan menjunjukkan sanad keilmua yang bersambung sampai kepadanya. Justru sanad itu dimiliki para dai dari tariqah Ba’alawi yang menganut madzhab Sunni Syafi’i. Hal itu bisa dicek dalam kitab Syamsu Dzahirah. Persambungan nasab dan sanad ilmu dikupas di sana.

Di kalangan Sunni, Imam Ja’far ini dikenal sebagai gurunya para ulama madzhab. Tidak pernah dikenal sebagai Syiah. Justru anti Syiah.

Dalam Kitab al-Masyru’ al-Rawi Imam Daruquthni menulis kisah sikap Imam Ja’far al-Shadiq terhadap orang Syiah. Diceritakan bahwa Imam Ja’far al-Shadiq, keturunan Ali keempat, menunjukkan amarahnya kepada pencaci Abu Bakar. Ia mengatakan, “Ali berlepas diri dari orang yang membenci Abu Bakar dan Umar. Jika sekiranya aku berkuasa, maka aku akan mendekatkan diri kepada Allah swt dengan memerangi orang yang membenci keduanya (Abu Bakar dan Umar)” (Al-Masyru’ al-Rawi, I hal. 86).

Imama Ja’far al-Shadiq juga suatu suatu kali berwasiat kepada Salim bin Abdullah bin Umar: “Wahai Salim, cintailah Abu Bakar dan Umar, dan berlepas dirilah dari musuh mereka berdua karena keduanya adalah imam pemberi petunjuk.” (Imam al-Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubala’ VI hal. 256).

Wasiat Imam Ja’far al-Shadiq bukan sekedar wasiat. Wasiat beliau mengandung pesan ‘jauhi Syiah, karena mereka mencela Abu Bakar dan Umar r.a’. Syiah sendiri mengklim Imam Ja’far adalah Imam mereka, namun sang Imam sendiri berlepas diri. Imam Ja’far begitu dielukan sebagai Imam para Ahlul Bait.

Ketegangan Sunni-Syiah yang selama ini terjadi ternyata disebabkan oleh gerakan Syiahisasi yang isinya melukai Sunni karena mencaci Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassallam. Prof. Dr. Mohammad Baharun, menyatakan tawaran untuk mengurangi ketegangan menghadapi masalah Syiah ini, kiranya perlu diupayakan lebih dulu untuk peredaan ketegangan dengan prinsip-prinsip sebagai berikut:

Pertama, diimbau agar Syiah tidak melakukan syiahisasi melalui ceramah dan buku-buku kepada umat yang sudah menganut akidah Aswaja, apalagi isinya dapat melukai keyakinan Sunni.

Kedua, mereka yang melakukan penistaan/penodaan terhadap agama dengan melaknat Shahabat dan istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam berupa buku-buku dan ceramah maupun yang merespon-nya dengan kekerasan harus diselesaikan secara hukum.

Ketiga, karena perbedaannya pada wilayah ushul, maka agar direkomendasikan mereka hanya bekerjasama di bidang mu’amalah saja, bukan di bidang aqidah, ‘ubudiyah dan siyasiyah (Majalah AULA Desember 2012).

Jika prinsip ini bisa dijalankan, maka tidak ada persoalan seorang Syiah tetap jadi Syiah, yang Sunni tetap menjadi Sunni. Keduanya bisa beraktivitas sosial bersama, bahkan berolahraga bersama adalah mungkin. Namun, menyama-nyamakan Ahlus Sunnah dengan Syiah pada tataran akidah adalah mustahil. *

Anggota Majelis Ulama Muda Indonesa (MIUMI) Jawa Timur

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:akidahImam Ja’farpersatuansunnisyiahtaqrib
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Munas IV Hidayatullah Tetapkan Ketua Umum Periode 2015-2020 Tanpa Voting
Tulisan selanjutnya [Video] Begini Cara Ibu Gaza Melepas Putranya yang Syahid

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal

Berita
31 Mei 2026 05:00
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelGhazwul Fikr

Populernya Hamas, Meredupnya Otoritas Palestina dan Mahmoud Abbas

22 November 2023 12:10
ArtikelGhazwul Fikr

6 Narasi Sinisme Perjuangan Palestina = Propaganda Zionis

10 November 2023 16:45
Ghazwul FikrTsaqafah

Sekularisme dan Liberalisme  

2 Desember 2022 12:55
Ghazwul FikrTsaqafah

Membangun Peradaban Bermartabat

13 November 2022 09:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?