Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ghazwul Fikr

Penghamba Palu Arit

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 13 Mei 2016 14:26 2:26 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 13 Mei 2016 14:16
Bagikan
Ade Puji Kusmanto (31), warga Brebes, Jawa Tengah, diamankan aparat lantaran memakai kaos 'Tauhid' dianggap ISIS. Putri Indonesia 2015, Anindya Kusuma makin populer setelah mengenakan kaos Palu Arit
Bagikan

Oleh: Lutfi Subagyo

 

BAPAK masih belum kelihatan sosoknya, namun bau anyir itu sudah sangat dikenal ibuku. “Bapakmu datang,” kata ibu. Kakakku kemudian mengendap di balik dinding sesek (bambu) dan melihat bapak datang dengan sesuatu di tangannya.

Ya pedang itu, ditutup dengan daun pisang lalu dibersihkan di sumur dan diasah lagi, selalu begitu. Kadang menjelang pagi bapak baru datang atau saat surup menjelang Magrib. Itulah fragmen tahun 1965, saat bapak yang dibesarkan di keluarga besar Muhammadiyah turut serta ‘membersihkan’ orang-orang Partai Komunis Indonesia (PKI).

Aku pernah bertanya soal ini sebelum bapakku meninggal, karena pedang yang kini menghitam itu masih di simpan dengan baik di rumah. Ia menceritakan banyak kisah. “Kalau kita tidak menghabisi mereka, kitalah yang dihabisi,” kata bapak.

Baca Juga

Amerika dan Perang Salib Baru?
Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu
SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!
Tuduh Islam Kaku, Dokter Muda Kristen Ini Terbungkam saat Dengar Hujjah Buya Hamka
Syubhat Seputar Al-Qur’an: Benarkah Ada 2 Surah yang “Hilang”?

Cerita itu masih disambung dengan cerita lain yang lebih ngeri.

Kakakku bahkan bercerita, kala itu, anak-anak muda desa berbondong minta ilmu kebal.  “Mbah Guru menyembelih ayam Cemani, lalu kita ngaji dan kemudian satu per satu tes senjata tajam, kedotan, kebal. ” kata kakakku saat itu.

Mbah Guru yang dimaksud adalah kakekku yang saat itu menjadi Kepala Desa Bedingin, sebuah desa terpencil dan kering kerontang di Lamongan Jawa Timur.

“Tiap malam selalu ada suara Asu Ajak (anjing liar lokal, seperti Dingo di Australia) , tiap malam kita takut, sehingga sebelum Magrib kita sudah di rumah,” ceritanya.

“Apalagi semua lelaki selalu bersenjata tajam, entah itu pedang, arit atau keris. Pokoknya ngeri, “ katanya.

PKI tahun 1965 memang telah menjadi fragmen sejarah kemanusiaan yang tragis. Sampai tahun 80-an, saat saya SD, harus mengayuh sepeda angin 30 kilometer hanya untuk nonton bioskop sejarah kelam ini.

Tentu saja cerita tentang penggalangan PKI yang membuat banyak petani tak berdosa ikut menjadi korban juga aku dengar. Hanya karena ulah provokator, lelaki satu desa bisa dihabisi karena dianggap anggota PKI, padahal mereka hanya setuju orasi ‘orang asing’ yang tiba-tiba datang dengan membawa cerita-cerita surga, bagaimana hebatnya kaum proletar bila bersatu.

Garis itu tiba-tiba menjadi amat tipis, garis benar salah, garis teman, saudara akhirnya saling serang. Dan diskursus itu tentu tidak meninggalkan Islam.

Dunia adalah sebuah simbol, gerakan adalah sebuah gambar. Islam babak belur di negeri ini hanya karena ‘ISIS wave’, sebuah organisasi yang mengaku sebagai pasukan ‘the black banner’ yang akan membangkitkan Islam, seperti saat Khalifah Umar menguasai duapertiga dunia.

Sekarang, orang yang memakai kaus bergambar stempel Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassallam harus berurusan dengan polisi.

Bayangkan, orang Muslim tak bisa seenaknya memuja Nabi nya sendiri, karena takut dinilai terindikasi ISIS. Orang-orang Muslim seperti saya sangat percaya bahwa masa ini memang bukan masa Muslim jaya, namun masa dimana Islam berdarah-darah menderita.

Betapa orang sangat mudah terbunuh hanya karena dicap “teroris” yang difinisinya tidak jelas. Termasuk definisi radikal yang dianggap membahayakan, padahal dalam kamus besar bahasa Indonesia, radikal artinya adalah “mendasar”. Padahal kalau beragama ya memang harus radikal, artinya harus mendasar, agar pemahamannya tidak salah.

Akhirnya, saya cuman ingin ngomong ini; “Bagi Anda yang saat ini teriak-teriak membela demokrasi dengan mengatakan pemerintah berlebihan soal kaos Palu Arit dan kebangkitan Komunis adalah ilusi siang bolong. Minta agar mereka dibiarkan, karena itu melanggar HAM. Sementara saat pemerintah menangkap orang berkaos Muhammad atau tauhid, Anda teriak dan memasang spanduk ada Islam terjangkit ISIS dan teroris. Mungkin saudara kita yang selalu begitu itu kurang piknik”.*

Penulis mantan wartawan, pemerhati media massa

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ISISPartai Komunis IndonesiaPKIsyariat Islamtauhid
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya “Seruan HAMKA pada Angkatan Muda Melayu [2]
Tulisan selanjutnya Tujuh Injeksi Iman

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’

Berita
13 Juli 2026 18:00
Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
ASN Jabar Bisa Dipecat Jika Terbukti Jadi Bagian Kelompok LGBT, Wagub Erwan Tegaskan Sanksi Terberat
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul Fikr

Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 2)

25 Juni 2025 15:30
Ghazwul Fikr

Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 1)

25 Juni 2025 14:09
ArtikelGhazwul Fikr

Populernya Hamas, Meredupnya Otoritas Palestina dan Mahmoud Abbas

22 November 2023 12:10
ArtikelGhazwul Fikr

6 Narasi Sinisme Perjuangan Palestina = Propaganda Zionis

10 November 2023 16:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?