Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ghazwul Fikr

Menangkis paham SePILIS ala Buya HAMKA

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 4 Maret 2014 11:36 11:36 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 4 Maret 2014 11:35
Bagikan
BUYA HAMKA
Bagikan

Oleh: Beggy Rizkyansyah

“ORANG-ORANG yang turut menyebarkan paham dalam masyarakat yang akan menegakkan kendornya rasa perjoangan, rasa jihad menegakkan cita Islam, bukan saja menjadi pelopor membawa ke jalan kafir, bahkan itulah pengkhianat-pengkhianat yang membawa nama Islam untuk menghancurkan kekuatan Islam.”[“Dari Hati ke Hati”,  Hamka, Pustaka Panjimas Jakarta. 2002. Jakarta]

Itulah kalimat peringatan yang tegas sekali bunyinya dari seorang ulama Indonesia, Buya Hamka. Peringatan ini ia lontarkan, untuk mengingatkan para pemuda untuk menentang dengan tegak segala macam isme-isme (paham) baru yang diimpor dari barat, untuk menyebarkan rasa keragu-raguan atau melemahkan iman dalam Islam. Tulisa-tulisan semacam ini digoreskan oleh Buya Hamka dalam periode selepas Orde Lama. Dari tahun 1960 sampai 1970an. Analisis Buya Hamka memang tidak salah. Ia menandaskan pemuda-pemuda Islam, yang justru menjual agamanya itu, ditandai dengan penyakit rendah diri. Menurutnya pemuda-pemuda itu,

“…mentang-mentang sudah dibawa orang bergaul dalam masyarakat yang agak ‘barat’ sifatnya, dia belum merasa progressif kalau belum turut bersorak mengatakan bahwa Islam, harus pandai menyesuaikan diri kalau mau maju,”demikian tulis Buya HAMKA.

Tepat sekali pengamatan beliau. Bahkan hingga saat ini, betapa banyak saat ini pemuda-pemuda Islam, membawa-bawa nama Islam untuk menyebarkan paham-paham yang sebenarnya menghancurkan Islam. Mereka selalu menyandingkan nama Islam di depannya; Islam liberal, Islam inklusif, Islam progressif, dan lain-lain. Selalu yang mereka dengungkan, bertujuan demi kemajuan Islam. Namun kenyataannya, apa yang mereka perjuangkan selau bertolak belakang dari cita Islam. Alih-alih menengakkan, malah meruntuhkan. Paham yang diasongkan pemuda-pemuda itu pun, tak jauh-jauh dari sekularisme, liberalisme dan pluralisme. Menurut Buya Hamka orang-orang sekuler bukanlah orang yang mempunyai kesadaran agama. Agama bagi mereka hanyalah iseng belaka.

Baca Juga

SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!
Tuduh Islam Kaku, Dokter Muda Kristen Ini Terbungkam saat Dengar Hujjah Buya Hamka
Syubhat Seputar Al-Qur’an: Benarkah Ada 2 Surah yang “Hilang”?
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 2)
Pluralisme dan Sekularisme: Sebuah Proyek (Seri 1)

Lembaran sejarah mencatat, bukan hanya pada zaman transisi Orde Lama ke Orde Baru saja, paham-paham pemuda itu didengungkan. Soekarno pada tahun 1930-1940-an beberapa kali menuliskan pengertiannya tentang Islam. “Islam is progress. Islam itu kemajuan,” katanya. Soekarno terang-terangan menyodorkan negara sekuler sebagai syarat kemajuan Islam. Diangkatnya Kemal Attaturk sebagai teladan.[ Islam Sontoloyo: Pemikiran-Pemikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam, Ir. Soekarno Sega Arsy. 2009. Bandung]

Pendapat ini menuai kritik berbagai tokoh Islam, termasuk Mohammad Natsir. Mohammad Natsir yang menguasai, tidak saja literatur sarjana barat yang dipakai Soekarno, tetapi juga mengikuti buku berbahasa Arab, yang Soekarno hanya tahu judulnya saja, seperti buku Syekh Abdurrazik yang berjudul Al-Islam wa Usul-ul-hukm. Polemik mereka di media massa hingga menjadi salah satu polemik yang pantas kita kenang. [M. Natsir. Sebuah Biografi. Jilid 1, Ajip Rosidi, Girimukti Pasaka. 1990. Jakarta]

Tulisan Soekarno yang terang benderang, membawa sekularisme berjubah pembaruan Islam ini, mendapat tentangan keras pula dari A. Hassan. Tulisan Soekarno berjudul ‘Me-muda-kan Pengertian Islam’, mengusung sekularisme Turki dan banyak mengutip pendapat intelektual sekuler Turki. Tulisan ini kemudian ditanggapi dengan tegas oleh A. Hassan, salah seorang tokoh Persatuan Islam (Persis). Menurutnya Soekarno dalam bicara masalah agama, tidak bisa hanya mengutip pendapat orang-orang dan memberi contoh kejadian di negara lain, tanpa mengetengahkan dalil. Ia menasehati, sebaiknya Soekarno jangan hanya mengekor dan mengambing. [Pembaharuan faham Islam di Indonesia. Dialog Bung Karno – A. Hassan. Penerbit Sumber Ilmu. 1986. Yogyakarta] Maka ditulislah tanggapan terhadap Soekarno itu dengan judul menyindir; “Membudakkan Pengertian Islam”.

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
12Halaman selanjutnya
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Tiga Gunung: Prolog ‘Lapis-lapis Keberkahan’
Tulisan selanjutnya RUU Pengelolaan Keuangan Haji Diharapkan Selesai 2014

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Feature

Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

Feature
30 Mei 2026 17:30
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelGhazwul Fikr

Populernya Hamas, Meredupnya Otoritas Palestina dan Mahmoud Abbas

22 November 2023 12:10
ArtikelGhazwul Fikr

6 Narasi Sinisme Perjuangan Palestina = Propaganda Zionis

10 November 2023 16:45
Ghazwul FikrTsaqafah

Sekularisme dan Liberalisme  

2 Desember 2022 12:55
Ghazwul FikrTsaqafah

Membangun Peradaban Bermartabat

13 November 2022 09:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?