Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mimbar

Teka Teki Manuver Prabowo

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 21 Oktober 2019 09:34 9:34 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 21 Oktober 2019 09:34
Bagikan
Prabowo Subianto (dirangkul Jokowi) saat memberikan ucapan selamat kepada Joko Widodo dalam pelantikan sebagai Presiden periode kedua di Gedung MPR/DPR, Jakarta, Ahad (20/10/2019).
Bagikan

MANUVER politisi senior negeri, Prabowo Subianto belakangan memang menyita perhatian, pasalnya mantan Danjen Kopassus itu terlihat “mesra” dengan Joko Widodo sebagai pemenang Pilpres 2019. Tidak berhenti di situ, Prabowo juga sowan ke beberapa partai koalisi pemenangan Jokowi-Ma’ruf.

Respons pengamat pun beragam, ada yang menilai biasa, ada yang menilai serius, bahkan ada juga yang menilai tidak etis. Terutama kala mengacu pada konsep demokrasi yang sebenarnya, dimana dalam sebuah negara, diperlukan kehadiran yang namanya oposisi.

Rocky Gerung termasuk yang menilai langkah Prabowo tidak tepat dan dengan gaya khasnya ia mengucapkan sebuah kalimat yang mendorong agar para pendukung Jokowi selama ini mengusir Prabowo yang beroposisi terhadap pemerintahan Jokowi.

Pengamat lainnya bahkan menyatakan jika Gerindra masuk pemerintahan maka demokrasi di negeri ini masuk dalam bahaya.

Pandangan demikian memang ada benarnya, terutama jika mengacu pada sistem demokrasi itu sendiri yang menghendaki oposisi dalam berlangsungnya sebuah pemerintahan, guna tetap terwujudnya check and balance.

Baca Juga

Pesan Khutbah Jum’at H. Agus Salim Tahun 1928: Persatuan Lahir dan Batin
Jabatan Tambah Tinggi Justru Ditangisi
Bahkan Kita Harus Mendidik Anak sebelum Kelahirannya
OKI, Hujan yang Berhenti, & Pemimpin Dunia yang Dinanti
50 Menit, Menjaga Syiar Islam di Tana Toraja

Namun demikian, benarkah manuver yang dilakukan Prabowo akan menjadikan pemerintahan Jokowi-Ma’ruf lima tahun mendatang semakin buruk karena asumsi dan konsistensi sistem demokrasi tidak diterapkan sebab Prabowo tidak memilih menjadi oposisi?

Atau, justru manuver ini merupakan bentuk pertaruhan reputasi yang cukup berani dilakukan oleh seorang Prabowo yang sempat dekat dan hormat kepada para habaib dan ulama?

Benarkah pria yang dikenal dengan kalimat akan timbul dan tenggelam dengan rakyat itu telah kehilangan idealisme dan kecintaannya kepada negeri?

Secara umum, logika manusia bisa memahami bahwa untuk sebuah kemajuan bangsa dan negara serta rakyat Indonesia, maka semua elemen, termasuk individu, lebih-lebih partai politik dapat berkiprah secara langsung dengan kapasitas dan keahliannya. Dalam hal ini, apakah harus melalui sistem demokrasi itu sendiri atau melalui inisiatif pribadi sepenuhnya dapat dilakukan sejauh memang didasari niat mulia dan demi kemajuan bangsa dan negara.

Dalam kata yang lain, tidak patut rasanya, Prabowo dengan sikap politiknya yang belakangan diambil, dinilai serta-merta negatif dan (pasti) destruktif hanya karena tidak mengambil posisi oposisi. Fungsi check and balance sebenarnya bisa hadir di dalam kubu pemerintahan sendiri jika memang komposisi kabinet yang ada tidak semata-mata didasari oleh kepentingan pragmatis, melainkan juga pemikiran jangka panjang untuk kemajuan Indonesia.

Jika ditimbang secara sederhana, tentu saja memajukan bangsa Indonesia lebih mudah dilakukan jika berada di dalam pemerintahan daripada berada di luar pemerintahan (menjadi oposisi). Sekalipun, hal ini juga tidak bisa digeneralisir. Tetapi, jika melihat sejarah partai oposisi selama ini di Indonesia, umumnya hanya mampu melakukan kritik tajam, namun saat mendapat giliran berkuasa, ternyata tak mampu juga konsisten dengan sikap-sikap politiknya selama menjadi oposisi.

Sisi berikutnya, benarkah Prabowo tidak melakukan perhitungan matang dengan manuver politiknya belakangan ini? Tentu saja Prabowo menyadari bahwa pilihan politiknya belakangan ini akan mengundang beragam reaksi dari publik. Akan tetapi, mengapa hal itu justru tetap dipilihnya, tentu bukan tanpa latar belakang dan tujuan yang jelas. Terlebih andai pun dirinya benar-benar masuk dalam koalisi pemerintahan konsistensinya semakin dinantikan oleh rakyat.

Mengacu pada hal tersebut, maka terobosan Prabowo tidak sepenuhnya negatif, justru pada sebagian pihak langkah tersebut memberikan nuansa baru dan tentu saja harapan akan kontribusi Prabowo secara lebih konkret bagi rakyat Indonesia. Sekalipun, tidak sedikit yang atas itu semua menjadi distrust kepada Prabowo.

Sekarang, bola sudah di tangan Prabowo, akankah dia konsisten dengan kepribadiannya, sehingga terjawablah teka-teki yang berkeliaran. Atau sebaliknya, Prabowo benar-benar telah kehilangan jati dirinya.

Mengkritisi Demokrasi

Prabowo yang berhasil menyita perhatian publik dan mengundang teka-teki luas banyak kalangan secara tidak langsung membuka ruang bagi semua pihak untuk memandang demokrasi secara lebih kritis.

Mungkin tidak sampai pada tahap demokrasi harus dibatalkan, tetapi apakah demokrasi di Indonesia harus ideal atau mungkin sama persis dengan di Amerika Serikat yang konsisten dengan konsep oposisi. Kalau pun dikritisi secara lebih mendalam, maka itu sah-sah saja sebagai inisiatif bersama untuk sampai pada tujuan utamanya kita berbangsa dan bernegara, yakni kesejahteraan rakyat.

Kini, mungkin saatnya kita melihat secara cermat, apa sebenarnya yang akan dilakukan oleh para wakil rakyat, politis, elite, dan tentu saja apa yang akan jadi pilihan kebijakan Prabowo ke depan.

Jika memang mengarah pada kesejahteraan rakyat, maka itu jauh lebih penting daripada sekadar konsisten dengan komposisi koalisi pemerintahan dan oposisi. Sebab, baik partai yang di pemerintahan dan oposisi semua dipilih oleh rakyat, maka sudah sepatutnya mereka bersatu mengabdikan diri untuk kepentingan rakyat. Titik.*

 

Imam Nawawi | Sekjen Syabab Hidayatullah

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:demokrasioposisipartai politikpemerintahpolitikPrabowo Subianto
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Sertifikat Halal LPPOM MUI Tetap Berlaku
Tulisan selanjutnya Lazis Muhammadiyah Dukung Program Hapus Tato IMS

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Berita
15 Juli 2026 21:25
Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Mimbar

Problem Pendidikan Islam

28 Desember 2022 11:20
Mimbar

Tujuan Kita Tak Sekadar Madinah sebagai Kawasan, Tapi Peradaban di Dalamnya

28 Desember 2022 11:00
Mimbar

Ustad Aris Munandar yang Saya Kenal

26 Desember 2022 11:45
Mimbar

Non-Muslim Pun Merasa Nyaman Bersyariah, Lalu Mengapa Kita Ragu?

14 Desember 2022 21:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?