Oleh: Nurhayati
Hidayatullah.com | SAAT Al-Qur’an menjelaskan tentang Al-Furqon (Pembeda) hal ini berarti umat harus benar-benar paham, bahwa pertarungan haq dan bathil bukan hal yang tidak ada, hal itu sangat nyata bahkan terus berlangsung, hingga kehidupan kita saat ini.
Terbukti, belakangan muncul sebuah artikel hasil pemikiran akun feminis yang menyatakan bahwa pelacur jauh lebih berdaulat atas tubuh dan hidupnya, dibandingkan wanita yang menjadi seorang istri.
Sontak saja, artikel itu membuat banyak pihak “turun” memberikan respon. Sampai-sampai Salim A. Fillah pun ikut memberikan komentar.
“Menjadi istri kalian sebut perbudakan. Menjadi PSK kalian sebut berdaulat. Syaithan asli yang dibelenggu tidak akan sesat pikir ini. Yaa Rabb…,” cuitnya melalui akun twitternya @salimafillah.
Jagat twitland sempat heboh dengan cuitan akun Magdalene yang menyatakan, “Mereka yang berprofesi sebagai pekerja seks secara mandiri, cenderung lebih merdeka dan berdaulat akan tubuh dan dirinya. Mereka bebas menentukan kapan menerima pesanan, menentukan jenis pelanggan yang akan dilayani, atau genre yang ingin ditampilkan.”
Seakan menjadi sebuah kesengajaan, narasi bathil seperti itu dihadirkan di tengah-tengah umat sedang berpuasa. Tetapi inilah sebuah realitas bahwa umat Islam dalam perjalanan waktu hari ini dan ke depan harus benar-benar semakin dekat dengan din ini agar selamat dari narasi-narasi yang seakan gagah namun rapuh dan lebih mengarah pada musibah.
Hal itu wajar, mengingat feminisme kata Gus Hamid dalam bukunya, Minhaj, menyebutkan bahwa fenisme adalah “worldview intursion” yaitu konsep lain dari teori yang berasal dari teori worldview asing.
Dalam kata yang lain, narasi dari kaum feminis sudah pasti bathil dan karena itu umat harus memahami agar tidak terpedaya apalagi terperosok pada cara berpikir sesat seperti itu.
Islam tidak mengenal teori kesataraan gender, sebab peran lelaki dan perempuan di dalam Islam adalah sinergis-kolaboratif, bukan face to face untuk baku hantam alias dipertentangkan dan dibentur-benturkan.
Feminisme adalah gerakan yang lahir dari peradaban Barat yang semula disebut gerakan emansipasi. Selanjutnya feminisme dan aahirnya menjadi kesetaraan gender.
Dengan demikian, narasi mereka bahwa menjadi istri berarti menjadi budak tidak lebih dari sangkaan yang tidak berdasar, nyata menegasikan nalar sehat, dan mengingkari sejarah dan fitrah manusia itu sendiri.
Terlebih kala membandingkan wanita yang menjadi istri dengan pelacur adalah sebuah komparasi yang tak berdasar dan sulit dinalar. Itu sama saja dengan membandingkan air minum dengan air comberan. Lantas mereka mengatakan, air comberan lebih sehat daripada air minum. Na’udzubillah.
Wanita dalam Islam
Sebenarnya, semenjak Islam datang derajat kaum wanita tidak lagi direndahkan bahkan Islam datang untuk memuliakan wanita.
Kita ketahui bersama pada zaman jahiliyah anak perempuan dikubur hidup hidup, dan apabila wanita ditinggal mati oleh suaminya mereka diasingkan dan berakhir dengan lemparan kotoran binatang, dan masih banyak contoh lainnya bagaimana martabat wanita diinjak-injak saat Islam belum datang.
Jadi ada semacam gagal, yang cenderung disengaja dan menyimpulkan bahwa Islam adalah agama yang menindas wanita dengan alat ukur sosial modern yang sudah barang tentu akan terus berubah seiring dengan perkembangan waktu.
Islam telah mengatur sebaik mungkin peran, fungsi dan tugas antara kaum laki laki dan kaum perempuan. Lalu dimana letak ketidakadilannya?
Mengikuti dalil Al-Qur’an mengenai laki-laki merupakan pemimpin bagi perempuan, makna yang tersampaikan di sini bukan berarti laki-laki berhak semena-mena memperlakukan wanita. Bukan seperti itu!
Akan tetapi, karena Allah menciptakan laki-laki memiliki kemampuan untuk memimpin dan melindungi kita. Secara fisik dan emosi jelas lelaki memang tidak sama dengan wanita. Pada saat yang sama ketika lelaki disebut pemimpin bagi wanita, kata pemimpin dalam Islam lebih berkonsekuensi tanggungjawab daripada eksploitasi.
Justru lelaki yang tidak mau menikah dan menjadikan wanita sebagai pemuas hawa nafsu belaka dengan mendatangi pelacur itulah yang seharusnya diprotes dan digugat oleh kaum feminis. Mengapa justru wanita yang menjaga kesucian, harga diri dan kehormatan diri yang direndahkan.
Kembali pada soal peran, kita sebagai kaum wanita mempunyai tugas mengayomi karena Allah memberikan kita kelebihan dalam hal berkasih sayang.
Andai kata kaum perempuan yang diberi tugas untuk memimpin sedangkan kita tidak memiliki kemampuan tersebut. Bagaimana bisa?
Dari sini jelas bahwa dengan adanya Islam derajat wanita telah sempurna diangkat dan dihormati. Jadi berhentilah “jualan” feminisme di negeri ini, jauh dan tak rasional serta ahistoris dengan kultur bangsa ini.
Di balik Feminisme modern yang selalu mengatakan kita harus open minded, mungkin saja mereka terlalu tutup mata bahwa sebagian besar pekerja seks komersial dieksploitasi oleh mucikari, lagipula prostitusi itu merupakan bentuk purba dari eksploitasi terhadap wanita, dimana tidak sedikit wanita menjadi kehilangan harga diri, masa depan, dan martabat.
Sekarang kembali kepada umat Islam, jika gagal memahami agamanya bukan tidak mungkin akan terjerumus. Dan, apakah benar, secara logika saja, kalau wanita Indonesia berdaulat itu berarti harus menjadi pelacur?*
Mahasiswi STIS Hidayatullah Akhwal Syakhsiyyah Semester VI