Oleh: Alim Puspianto
Hidayatullah.com | KEIMANAN dan ujian ibarat dua sisi mata uang yang selalu berpasangan. Tidak mungkin ada keimanan tanpa adanya sebuah ujian di dalamnya. Bagi setiap manusia yang telah menyatakan beriman, Allah SWT pasti akan mengujinya. Sebagaimana firmanNya. ”Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji ?”. Dengan adanya ujian akan ketahuan sejauh mana kadar kualitas keimanan seseorang. Karena memang hakikat sebuah ujian adalah sarana untuk mengangkat derajat seorang hambah di sisi Allah SWT. Apakah ia sudah betul betul beriman atau hanya lips service semata. Mari kita sejenak meneladani sebuah proses perjalanan seorang hamba dalam memegang erat keimanan dan totalitas dalam ketaatan kepada Allah SWT.
Sebuah Ujian Keimanan
Belajar dari kisah inspiratif yang terbadikan dalam kitab suci Al Qur’an Al Karim. Sebuah kisah yang sarat dengan nilai nilai keimanan dan ketaatan kepada Allah SWT. Yaitu kisah Nabi Ibrahim AS, beliau adalah seorang Nabi sekaligus kepala keluarga. Walaupun sudah membina bahtera rumah tangga sekian lama, namun ada sebuah kegundahan yang dirasakannya. Yakni Allah SWT belum mengarunianinya seorang putra.
Dengan umur yang tidak lagi bisa dibilang muda dan rambut yang sudah mulai memutih, Nabi Ibrahim AS tetap sabar dan pasrah dalam mengahdapi coban tersebut. tentunya dengan senantiasa bermunajat kepada Allah SWT. Sebagaimana tercantum dalam Al Qur’an “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) termasuk orang-orang yang saleh” (Q.S As-Shaffat: 100).
Hingga suatu ketika Allah SWT akhirnya mengabulkan permintaan Nabi Ibrahim AS. Beliau dikaruniai seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama Ismail. Dengan kehadiran buah hati tercinta, Nabi Ibrahim AS merasa sangat bahagia. Hampir seluruh waktunya dihabiskan bersama Ismail kecil. Seluruh kasih sayang ia curahkan sebagai bentuk rasa syukur atas kemurahan Allah SWT. Beliau tanamkan nilai nilai tauhid kepada Ismail, dengan harapan kelak ia bisa menjadi pelanjut perjuangannya.
Namun di saat kecintaan seorang ayah kepada anaknya benar benar dirasakan oleh Nabi Ibrahim AS, Allah SWT mengujinya. Sebuah ujian ketaatan dan pembuktian keimanaan yang sangat luar biasa. Ujian yang seakan meremukkan hati Nabi Ibrahim AS, ujian yang begitu memilukan jiwa dan pikirannya. Ujian itu berupa perintah untuk menyembelih Ismail, seorang putra yang telah ditunggu-tunggu kedatangannya. Seorang putra yang akan mengisi dan menghiasi kehidupannya dan menjadi inspirasi serta penerus estafeta perjuangannya.
Fakta membuktikan bahwa kecintaan dan ketaatan Nabi Ibrahim AS terhadap Allah SWT mampu mengalahkan kecintaan beliau kepada putra semata wayangnya. Dengan kekuatan iman dan ketaatan total, Nabi Ibrahim AS seakan mematrikan sebuah prinsip dalam hatinya bahwa Allah SWT pasti lebih tahu mana yang terbaik untuk hambaNya. Nabi Ibrahim AS pun langsung bergegas menunaikan perintah yang diterimanya. Yaitu seuah perintah untuk menyembelih anak semata wayangnya. Sungguh sebuah bukti ketaatan total seorang hamba kepada Tuhannya. Hingga Allah SWT mengabadikan kisahnya dalam kitab suci Al-Qur’an untuk mejadi pelajaran bagi perjalanan hidup umat manusia.
Allah SWT berfirman, “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (Q.S Ash Shaaffaat:102)
Buah Dari Ketaatan
Sungguh Nabi Ibrahim AS telah membuktikan betapa ketaatan pasti akan berbuah kebaikan. Sebuah keteguhan keyakianan yang merupakan bentuk totalitas ketaatan telah dibayar kontan oleh Allah SWT. Kasih sayang dan ke maha besaran Allah SWT termanifestasikan dengan digantinya Ismail dengan seekor domba. Nabi Ibrahim AS tetap melaksanakan perintah Allah SWT tanpa harus kehilangan anak kesayangannya. Lebih dari itu bahwa buah dari ketaatan yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS memiliki dua dimensi sekaligus. Pertama yaitu dimensi vertikal sebagai bentuk penghambaan dan bukti ketaatan menjalankan perintah Allah SWT. Kedua dimensi horisontal, dimana peristiwa besar yang awalnya berdimensi Hablum minallah ternyata mampu memberikan dampak di wilayah sosial kemasyarakatan Hablum ninan nas.
Ibadah qurban yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS sebagai bukti penghambaannya kepada Allah SWT ternyata bisa berdampak dan memberikan manfaat kepada masyarakat luas. Hal ini terlihat ketika daging hewan qurban dibagikan kepada masyarakat luas. Khususnya masyarakat atau tetangga kurang mampu yang mungkin masih jarang mengkonsumsi daging. Maka alangkah bahagia dan senangnya hati mereka ketika menerima daging qurban tersebut.
Dari kisah tersebut kita bisa melihat bahwa ujian atau perintah seberat apapun jika dijalani dengan penuh ketaatan, insyaAllah akan berakhir dengan kebaikan. Apalagi dikuatkan dengan kesadaran bahwa sesuatu yang menimpa kita pasti Allah SWT telah memperhitungkannya. Sebagaimana FirmanNya, “Allah tidak membebani seorang hamba melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. QS. Al Baqarah: 286. Dengan kesadaran tersebut pasti kita tidak akan berkeluh kesah ketika ditimpa ujian. Apalagi sampai menyerah dan putus asa terhadap kondisi yang ada.
Pada akhirnya, setidaknya kita bisa memetik pelajaran dari sejarah agung yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS tersebut. Bahwasanya tiada keimanan tanpa adanya sebuah ujian, bila ada keimanan tanpa ujian maka itu pasti sebuah kemustahilan. Karena hakikat ujian adalah sebuah media untuk meningkatkan kwalitas dan mengangkat derajat pribadi kita di mata Allah SWT. Kisah ujian ketaatan yang kemudian disyariatkan untuk umat Islam berupa ibadah Qurban ini juga mengajaran kepada kita tentang kemahabesaran dan kasih sayang Allah SWT kepada hamba hambaNya.
*Anggota Pemuda Hidayatullah Jatim, dan Pengasuh STAI Luqman al-Hakim, Surabaya