Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Mengurai Gagalnya Kesejahteraan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 2 Oktober 2011 05:33 5:33 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 2 Oktober 2011 05:33
Bagikan
Bagikan

Oleh: Edi Setiawan

PERTARUNGAN ideologi pada Abad ke-21 antara kapitalisme dan sosialisme berdampak pada miliaran umat manusia bahkan umat Islam. Indonesia dengan penduduk Muslim terbesar di dunia sangat dipengaruhi dengan ideologi besar tadi. Pertarungan antara komunisme dan kapitalisme telah menghantarkan neoliberalisme sebagai pemenang dari kapitalisme. Kita tahu semua, kapitalisme sangat menganjurkan resep peran swasta dalam pembangunan ekonomi, apalagi pembangunan sosial dalam konteks kebijakan sosial.

Dalam perkembangannya, Indonesia yang memiliki sumberdaya alam yang luar biasa tidak bisa memanfaatkan dengan maksimal. Sumber daya alam yang melimpah ruah digerogoti para pemilik modal asing yang akut dengan nuansa kapitalisme. Ideologi kapitalisme sudah masuk dalam ruh ekonomi yang dapat menimbulkan dampak negatif kepada peran negara sebagai institusi yang seharusnya memiliki peran penting dalam mengelola alam secara optimal.

Harus diakui bahwa globalisasi memang berdampak besar pada eksistensi negara sebagai pengendali ekonomi. Berbagai masalah ekonomi, sosial dan politik di Indonesia seringkali disebabkan oleh kegagalan negara dalam memainkan perannya. Negara sebagai institusi paling absah menyediakan pelayanan sosial dasar bagi warganya seharusnya tidak boleh membiarkan warga negara berada dalam posisi tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.

Kenichi Omahe, dalam bukunya The End of Nation-State, membuat orang terperangah. Betapa tidak pemikirannya secara eksplisit mengumumkan berakhirnya ‘nation-state’ atau ‘negara-bangsa’. Lenyapnya negara itu adalah sebuah keharusan saat kegiatan ekonomi global semakin meningkat. Omahae secara sepintas menunjuk pada hilangnya negara-bangsa dikarenakan bahwa elected officials lebih kerap melayani konstituen dari aktor-aktor global seperti pejabat dari IMF, World Bank, WTO, ataupun CEO dari perusahaan multinasional.

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

Pada elected officials tadi lebih sering mempunyai tuntutan yang berbeda, bahkan bertentangan dengan tuntutan rakyat. Tidak hanya negara bangsa yang hilang Mishra (2000) secara tegas dalam bukunya Globalization and Welfare State menyatakan bahwa globalisasilah yang telah membatasi kapasitas negara dalam melakukan perlindungan sosial.

Lembaga-lembaga Internasional disinyalir telah menjual kebijakan ekonomi dan sosial kepada negara-negara berkembang dan negara-negara Eropa Timur agar memperkecil pengeluaran pemerintah, memberikan pelayanan sosial yang selektif dan terbatas, serta menyerahkan jaminan sosial kepada pihak swasta.

Bahkan Francis Fukuyama (2005) dalam bukunya State-Building: Governance and World Order in the 21st Century, menunjukkan bahwa ada pengurangan peran negara dan fungsi strategis yang akan memperparah kemiskinan dan kesenjangan sosial, melainkan pula menyulut konflik sosial dan perang sipil yang meminta korban jutaan jiwa.

Gambaran sederhana tersebut menjelaskan adanya paradoks besar dalam paradigma kesejahteraan. Pasca krisis Keynesian tahun 1980-an, transformasi paradigma kapitalistik mengalami lompatan ekstrim ke arah neoliberalisme. Kesadaran Keyness akan adanya sesuatu yang salah dengan kapitalisme justru hilang tanpa bekas hanya karena kegagalan negara dalam mengelola perekonomian.

Neoliberalisme semakin tidak memberikan tempat bagi negara, bahkan untuk melakukan kebijakan demi keadilan sosial. Subsidi, jaminan pelayanan publik dasar, dan jaminan sosial lainnya dianggap inefisiensi. Pendidikan, kesehatan, dan hak-hak dasar manusia justru menjadi komoditas yang diperdagangkan.

Neoliberalisme telah menjadikan sistem ekonomi kapitalis dan sistem perdagangan bebas sebagai alat untuk melahirkan kejahatan pasar. Meminjam bahasa John Perkin sebagai kejahatan Korporatokrasi yaitu jaringan yang bertujuan memetik laba melalui cara-cara korupsi, kolusi dan nepotisme dari negara dunia ketiga dan cara kerjanya mirip seperti mafia.

Neoliberalisme memaksa negara miskin ikut dalam pasar bebas. Bukan sebagai stakeholder yang kompetitif, namun hanya sebagai pemberi ruang investasi asing dengan menghilangkan segala macam bentuk hambatan. Di lain pihak, negara-negara kaya justru semakin ‘sosialis’ dengan memperkuat solidaritas dalam IMF, World Bank, dan WTO.

Kemudian sumber daya dunia terdistribusi relatif merata di antara segelintir negara kaya dan korporasi Internasional.

Gagalnya model negara kesejahteraan yang diterapkan para perumus kebijakan ekonomi dan politik akibat hantaman dan serangan hebat krisis ekonomi, seharusnya dijadikan bahan pelajaran yang bagus untuk merenungkan kembali kesalahan apa yang telah negara ini lakukan. Terlebih, Indonesia adalah negara yang paling sulit keluar dari belenggu krisis ekonomi sampai pemerintah Orde reformasi.

Hasilnya potret buram kesejahteaan semakin menjadi, bukannya negara kesejahteraan yang didapat melainkan terjadi ketimpangan sosial yang tajam. Padahal negara kesejahteraan dipandang sebagai bentuk keterlibatan negara dalam memajukan kesejahteraan rakyat yang berimplikasi pada mencuatnya bukti-bukti empirik mengenai kegagalan pasar (market failure) pada masyarakat kapitalis dan kegagalan negara (state failure) pada masyarakat sosialis.

Sebaiknya pemerintah melakukan restrukturisasi ekonomi, mengefektifkan kembali kapasitas-kapasitas yang dimilikinya sehingga pemerintah memiliki posisi tawar (bargaining position) yang kuat dalam menindak tegas para konglomerat yang tidak kooperatif dan menjadi modal kuat dalam melakukan negosiasi dengan lembaga-lembaga keuangan internasional. Dengan begitu, legitimasi pemerintah dengan sendirinya akan menguat.

Untuk itu negara ini tidak boleh dipenjara oleh kepentingan elit asing. Negara ini harus menjadi pelopor dalam merumuskan kebijakan sendiri tanpa kungkungan negara lain. Jangan sampai negara ini berubah menjadi oligarki yang dikendalikan sekelompok orang atau kekuatan tertentu (plutokrasi) apalagi menjadi negara bagi para pencuri (kleptokrasi).Semoga

Penulis adalah Peneliti PSAP dan Intelektual Muda Muhammadiyah

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Berjihad dengan Zakat, Dongkrak Ekonomi Umat
Tulisan selanjutnya Takut Diboikot, Mesir Revisi UU Pemilu

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Artikel

Pena Muballigh Menentukan Masa Depan Peradaban Islam

Artikel
21 Juli 2026 07:00
Obituari: Zeyd Baktir, Penggerak Sunyi di Jalan Dakwah
Starmer Mundur Burnham Menjadi Perdana Menteri Inggris Ke-7 Kurun Satu Dekade
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
Buya Amirsyah Ajak Seniman Muslim Bangun Peradaban Bangsa Melalui Kebudayaan Islam

Terbaru

  • Belanda Resmi Larang Impor dari Permukiman Ilegal ‘Israel’ Mulai September
  • MUI: KUII VIII Jadi Forum Dialog Umat dan Negara, Bahas Hukuman Mati Koruptor hingga Tata Kelola Tambang
  • ‘Israel’ Larang Masuk Siapa Pun yang Menyebutnya Negara Apartheid
  • MUI Akan Surati Presiden dan Kapolri Terkait Penangkapan Warga Negara Palestina
  • MUI Bersama 87 Organisasi Islam Sudah Siap Gelar KUII ke-VIII, Bahas Berbagai Isu Nasional dan Global
  • Pembelian Minyak Iran oleh China Sudah Berkurang, Kata Menteri Keuangan Amerika Serikat
  • Spanyol Lumpuhkan Argentina di Piala Dunia 2026, Warga Gaza Bergembira
  • ConocoPhillips Kuasai 42 Persen Saham Proyek Ladang Minyak Iraq yang Digarap BP
  • Akmal Sjafril: Lembaga Dakwah Perlu Banyak Diskusi
  • Raja Charles Kunjungi Masjid Cambridge, Erdogan: Langkah Penting Lawan Islamofobia

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?