Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Mengenang Pemimpin Bersahaja, Tuan Guru Nik Abdul Aziz [2]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 27 Februari 2015 06:55 6:55 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 27 Februari 2015 06:54
Bagikan
Bagikan

sambungan artikel PERTAMA

Oleh: Ilham Kadir

Di saat yang sama–tulis Tuan Guru–sebelum kematiannya, Raja Persia telah memerintahkan gubernur Yaman sebagai tanah jajahannya, agar mengirim polisi ke Madinah untuk menangkap Nabi Muhammad, menurut Raja Penyembah api itu, Nabi telah menjadi sumber masalah dan kekacauan di Yaman, rakyat banyak membangkang gara-gara tertarik dan menjadi pengikut Rasulullah.

Ketika dua polisi utusan Gubernur Yaman tiba di Madinah untuk menangkap Nabi atas perintah Raja Persia, justru Nabi memberitahu mereka berdua, bahwa tidak ada gunanya melakukan titah sang raja, sebab raja mereka sudah pun mati tepat pada hari ini.

Sekembalinya ke Yaman, dua polisi tersebut justru membawa kabar dari Nabi bahwa raja mereka di Persia telah pun mati dan tidak ada gunanya menjalankan perintahnya, kabar kematian sang raja ternyata justru datang dari Nabi, gubernur heran, lalu mereka pun berpikir untuk mengubah kayakinan dan peta politik, (Nik Abdul Aziz Nik Mat, 2004: 431-432).

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Dalam hal ibadah, ketakwaan, dan zuhud, Tuan Guru adalah contoh utama ulama saat ini. Pernah, ketika ia di hotel, sahabatnya meminta agar beliau tidur di atas kasur empuk (springbad), ia malah menjawab, Saya lebih baik tidur di atas sajadah ini, agar dapat dengan mudah bangun menunaikan salat tahajjud, tidur di tempat yang empuk akan mempersusah kita bangun beribadah.

Beliau hidup dalam kesederhanaan, mengenakan baju jubah dan sorban di kepala. Rumahnya pun hanya rumah kayu kampung tidak berpagar dan tidak pula dijaga polisi atau Satpol sebagaimana kepala daerah di Indonesia. Kerap dijumpai salat dalam keadaan gelap di kantornya, sebab lampu dipadamkan karena itu milik negara, sementara salat adalah urusan pribadi. Dan uniknya, siapa pun boleh bertemu dengannya. Orang-orang India dan China di Kelantan sangat cinta pada Tuan Guru.

Hal itu terwujud karena kesederhanaan dan contoh kongkrit yang ia berikan kepada rakyat. Padahal, kalau kita mau jujur, Kelantan adalah negara bagian yang paling terbelakang pembangunannya di Malaysia, sebab pemerintah pusat tidak sudi memberi bantuan pada negari yang dipimpin Tuan Guru yang berasal dari partai opisisi. Pada tahun 2009, menurut The Malaysian Insider Tuan Guru rahimahullah ditempatkan sebagai 50 tokoh Islam paling berpengaruh di dunia dan terdaftar dalam buku, “The 50 Most Influential Muslims”.

Kisah inspiratif di atas telah menjadi contoh nyata bahwa politik tidak semestinya dianggap kotor dan bernajis. Dan dunia ini, bukanlan seonggok bangkai sebagaimana paham sebagian kaum sufi, melainkan, mazra’atul-akhirah, tempat bercocok tanam agar dipetik di akhirat kelak, dan politik adalah tanaman terbaik, karenanya dapat dijadikan sebagai investasi dakwah sebagaimana dicontohkan Tuan Guru. Beliau hidup sederhana walaupun mampu hidup mewah. Bahkan, menjadikan politik sebagai media menebar ilmu, hikmah, dan kabajikan.

Saya tutup tulisan ini dengan mengutip perkataan Tuan Guru; “Kalau kita menanam lada, 40 hari akan dapat hasil, lansung bisa dijual, menanam terung, dua-tiga bulan dapat hasilnya, tapi keuntungan tidak besar karena itu hanya proyek kecil-kecilan. Jika proyek yang lebih besar seperti menanam karet, bukan 40 hari tetapi memakan waktu tahunan. Semakin besar sebuah proyek, semakin besar untungnya.”

Begitu pula pahala yang merupakan proyek paling besar, untungnya sangat besar, jadi sesuailah dengan menunggu begitu lama, yaitu setelah kematian baru dituai hasilnya. Wallahu A’lam!

Penulis  alumni terbaik Fakultas Tafsir Arabic-Islamic College of Al-Ihsaniyah, 2005, Penang-Malaysia

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Malaysia
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Mengenang Pemimpin Bersahaja, Tuan Guru Nik Abdul Aziz [1]
Tulisan selanjutnya Fatin Siap Dukung Sosialisasi Halal MUI

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

70 Guru Palestina Tak Diberi Izin, Seluruh Sekolah Kristen di Yerusalem Hentikan Pembelajaran

Berita
3 September 2026 13:38
Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
Laporan: 370 Anak-Anak Palestina Masih Ditahan di Penjara ‘Israel’
Trump Akui Perangi Iran demi Lindungi ‘Israel’ dan Barat
Erdogan Serukan Persatuan Dunia Islam dalam Perayaan Maulid di Istanbul

Terbaru

  • Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air
  • Trump Akui Perangi Iran demi Lindungi ‘Israel’ dan Barat
  • 70 Guru Palestina Tak Diberi Izin, Seluruh Sekolah Kristen di Yerusalem Hentikan Pembelajaran
  • Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
  • Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap
  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?