Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Genosida Rohingya dan Matinya Nurani Dunia

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 22 Mei 2015 07:18 7:18 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 22 Mei 2015 06:59
Bagikan
Pembakaran Masjid Jami' di Meikhtila Myanmar 2013 oleh aktivis Buddha. 20 korban meninggal, ribuan mengungsi
Bagikan

Oleh: Inggar Saputra

KEKERANGAN yang diperankan Myanmar (Burma) kepada Muslim Rohingya terus bergulir belakangan ini. Dengan berdalih imigran gelap, negeri Asia Tenggara yang dikuasai militer ini terus berusaha membumihanguskan kelompok minoritas tersebut. Tanpa belas kasihan, kelompok militer dibantu biksu Buddha berjiwa ekstrimis membunuh, mengusir dan membiarkan etnis Rohingya kelaparan dan kehilangan hak hidupnya. Sungguh menyedihkan negeri yang pernah mendapatkan kepercayaan sebagai pemimpin ASEAN gagal membendung konflik kemanusiaan di negaranya.

Jika mengacu kepada nilai Hak Asasi Manusia yang berkembang secara umum, kita melihat bahwa pengusiran dan kekerasan pemerintah Myanmar terhadap warganya termasuk pelanggaran terhadap hak seseorang untuk mendapatkan kebebasan dan hak untuk hidup. Ketika demokrasi mengguncang hampir banyak negara, Myanmar justru masih terjebak praktek pola kepemimpinan otoriter dengan penguasaan dominan negara kepada rakyatnya. Ada hak hidup manusia yang dirampas dengan dilarangnya pedagang Myanmar melakukan kegiatan jual beli kepada etnis Rohingya sehingga menyebabkan bencana kelaparan.

Selain memboikot secara ekonomi, kekejaman pemerintah Myanmar juga tampak dengan terbunuhnya jutaan Muslim Rohingya selama 30 tahun terakhir. Mereka dibunuh karena mereka Muslim. Padahal, hak beragama menjadi pilihan hidup setiap manusia sehingga sangat kontradiktif ketika negara merenggutnya secara paksa.  Tak ada satupun pembenaran yang dapat dipakai, ketika perbedaan agama menjadikan negara memberlakukan hukum rimba kepada warganya.

Ironisnya, kekejaman pemerintah mendapatkan dukungan kelompok biksu sebagai pemuka agama Buddha di Myanmar. Salah seorang Biksu asal Mandalay, Ashin Wirathu dengan dalih populasi Muslim yang semakin tinggi membuat gerakan “969”, sebuah gerakan ekstrimis anti Muslim yang bertujuan menebarkan kebencian kepada Muslim Rohingya. Dalam setiap ceramahnya, pria yang dijuluki majalah Time sebagai ‘The Face Of Buddhist Terror’ mengajak setiap warga Myanmar mengusir Muslim Rohinya. Tak berhenti dalam ceramah, dirinya juga memimpin demonstrasi agar Rohingya direlokasi ke negara dunia ketiga dan menyalahkan Rohingya atas kekerasan yang sering terjadi di Myanmar. [Baca: Biksu Budda Pembenci Muslim Rohingya Jadi Sorotan Dunia]

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Sekarang, Muslim Rohingya yang dizalimi, berusaha berjuang menyelamatkan diri dengan menyeberang ke negara lain. Mereka berharap ada kehidupan yang lebih baik, mengingat sulit sekali bertahan melawan rezim militer yang keras kepala ini. Beberapa ribu diantaranya kini sudah memasuki wilayah Indonesia khususnya Aceh. Sambutan rakyat Aceh sungguh dapat diacungi jempol, dimana mereka menilai Rohingya adalah saudara seiman dan seaqidah sehingga perlu mendapatkan bantuan semaksimal mungkin. Tanpa disekat batas geografis, suku dan etnis, mereka sepenuhnya siap menampung manusia yang terusir dari negaranya karena mengatakan “Saya adalah seorang Muslim.”

Para biksu tertangkap kamera ikut dalam aksi kekerasan Muslim Rohingya di
Para biksu tertangkap kamera ikut dalam aksi kekerasan Muslim Rohingya di Meikhtila Myanmar 2013

Penerimaan positif masyarakat Aceh kepada Muslim Rohingya bagaikan penawar dahaga ketika hampir semua negara Asia Tenggara sibuk mengangkat tangan atas derita Muslim Rohingya. Dengan berdalih “bukan urusan saya” mereka sibuk membela kebobrokan junta militer dan mengabaikan nilai kemanusiaan, keadilan, persamaan, demokrasi dan keimanan yang seharusnya hadir dalam kehidupan sebuah negara. Secara lebih jauh, mereka sudah memberikan proses keteladanan yang buruk, sebab ketika masyarakat negara itu menerima baik Muslim Rohingya, pemerintahnya justru menolaknya.

Sementara itu, sikap lebih memalukan dipraktekkan Indonesia sebagai pemimpin kawasan regional Asia Tenggara (ASEAN) yang bersikap pasif. Ketika pemerintah provinsi dan rakyat Aceh habis-habisan membela kelompok tertindas ini, justru pemerintah pusat tak mampu berperan aktif dalam menghentikan kekerasan yang dilakukan negara anggotanya ini .

Tak ada satupun perkataan Jokowi yang mengecam perilaku buruk militer dan kelompok Buddha. Sebagai pemimpin ASEAN, Jokowi agaknya lebih sibuk dengan kegiatan seremonial ASEAN dibandingkan memikirkan upaya meminimalisir konflik di kawasan regional yang membutuhkan partisipasi Indonesia di dalamnya.

Tak jauh berbeda, komunikasi antar pejabat negara juga berjalan dengan buruk. Presiden Jokowi dan Menlu Retno memang berjanji akan menolong dan mengurus kebutuhan warga Rohingya yang terdampar di Indonesia. Di tempat lain, TNI pun menjamin akan memberikan bantuan maksimal kepada pengungsi Rohingya baik makanan, obat-obatan dan lainnya. Tetapi pasca menerima bantuan, mereka diminta kembali ke negaranya dan tidak diperkenankan masuk wilayah Indonesia. Belakangan, tanpa rasa malu, Wakil Presiden Jusuf Kalla sempat memperkeruh suasana dengan menilai Muslim Rohingya sebagai pencari suaka yang hanya mencari kerja di Indonesia. Tak ada pembelaan secara utuh di kalangan pejabat negeri ini, semua sibuk memikirkan kepentingannya sendiri.

Menghadapi bencana kemanusiaan atas Muslim Rohingya, umat Islam perlu bangkit untuk bersama-sama menguatkan barisan sehingga mampu bergerak menyelamatkan saudara seimannya. Bantuan finansial sangat diperlukan untuk membeli segala kebutuhan makanan, selimut, pakaian dan lainnya. Selain itu, penyebaran opini untuk melawan pemberitaan buruk harus dilakukan para pejuang media Islam.

Terpenting, jangan pernah berhenti mendoakan agar Muslim Rohingya diberikan kesabaran, ketabahan dan tetap bersemangat menjalani kehidupannya meski ancaman terus berdatangan. Muslim Indonesia juga wajib mendorong pemerintah Indonesia khususnya Presiden Jokowi untuk memainkan peran aktifnya dengan mendesak Myanmar menghentikan genosida di negaranya. *

Ketua Humas dan Informasi Himpunan Mahasiswa Muslim Pasca Sarjana (HIMMPAS) UI

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:AcehASEANJoko widodomuslim RohingyaPengungsi RohingyaRohingya
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Sya’ban Bulan yang Dilalaikan Manusia
Tulisan selanjutnya Cinta Allah, Pasti Cinta Sahabat

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

STAI Al Bayan Gelar Wisuda Angkatan II, Ketum DPP Hidayatullah Pesankan Alumni Kuatkan Takwa Hadapi Tantangan Zaman

Berita
27 Agustus 2026 10:14
Bahtsul Masail Qanuniyah Muktamar ke-35 NU akan Bahas RUU Perampasan Aset
Komandan Tentara Suriah Era Assad Tewas Saat akan Ditangkap
Mayat Hanyut Hingga ke India, Korban Jiwa Banjir Nepal-China 750 dan >3.000 Orang Hilang
Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?