Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Menggagas Solusi Kriminalitas Remaja

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 15 September 2015 10:48 10:48 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 15 September 2015 10:48
Bagikan
Sejumlah remaja memacu motornya dalam aksi balap liar di Jalan Samudera Pantai Padang, Sumbar
Bagikan

Oleh: Widi Astuti, SE

DUNIA pendidikan kembali berduka. Pasalnya berulang sudah kisah pembunuhan yang dilakukan pelajar SMP terhadap temannya yang juga seorang pelajar sebuah SMP.

Hanya dikarenakan cemburu karena memiliki pacar baru dan ingin memiliki HP korban, seorang siswa sebuah SMP di Bandung pada akhir Agustus lalu telah memartil mantan cinta monyetnya yang juga siswi sebuah SMP hingga tewas. Sebelumnya seorang pelajar di Ciracas nekat bunuh diri hanya karena putus cinta dengan pacarnya. Bukan hanya dua kasus remaja tersebut yang terjadi hingga berujung pada kematian. Namun banyak peristiwa berulang terjadi yang motifnya tidak pernah terlepas dari cinta, gengsi, dan harta. Apakah yang sebenarnya telah salah?.

Menelaah Persoalan

Maraknya kasus kriminalitas di kalangan remaja sampai dalam bentuk penghilangan nyawa berulang terjadi di negeri ini. Padahal pemerintah telah memasukkan pendidikan berkarakter dalam kurikulum pendidikan. Maksud dari pendidikan berkarakter atau pendidikan moral (moral education) dalam konteks sekarang diharapkan sangat relevan untuk mengatasi krisis moral yang sedang melanda di negara kita.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Krisis tersebut antara lain berupa meningkatnya pergaulan bebas, maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja, kejahatan terhadap teman, pencurian remaja, kebiasaan menyontek, penyalahgunaan obat-obatan, pornografi, dan perusakan milik orang lain sudah menjadi masalah sosial yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara tuntas. Disamping itu pemerintah di masa Presiden sekarang juga mengkampanyekan pentingnya revolusi mental pada bangsa ini.Revolusi mental berarti warga Indonesia harus mengenal karakter orisinil bangsa Indonesia, yaitu bangsa berkarakter santun, berbudi pekerti, ramah, dan bergotongroyong.Berbagai model kampanye revolusi mental tersebut telah dilaksanakan diberbagai sekolah.Tapi kriminalitas remaja terus terjadi menimpa negeri ini.

Pola fikir (mindset) yang salah sejak lama telah tertanam dalam benak para remaja. Bahwa kehidupan yang mereka jalani untuk mendapatkan kesenangan, just having fun. Gadget, motor, pakaian yang selalu up to date ditambah keberadaan pacar selalu menjadi standar kesenangan mereka. Remaja

yang sedang dalam masa pencarian jati diri selalu ingin mencoba segala hal yang baru dan menjadikan berbagai kesenangan materi tadi sebagai tujuan hidup mereka. Sehingga wajar jika pendidikan berkarakter di bangku sekolah ataupun gerakan revolusi mental seakan sulit berhasil karena belum menyentuh perubahan pola fikir yang mendasar bagi para remaja. Masih hanya sebatas niai-nilai kebaikan yang disampaikan tapi belum mampu membrikan kesadaran yang bagi mereka. Ditambah lagi kondisi tersebut diperparah oleh dukungan lingkungan.

Ketika di seolah ditanamkan nilai-nilai kebaikan, tapi tidak demikian di lingkungan tempat tinggal mereka. Padahal interaksi mereka di bangku sekolah tidak selama interaksi mereka di luar sekolah bersama masyarakat. Berbagai nilai kebaikan itu seakan mentah ketika harus bergumul hidup di masyarakat.

Akidah Islam

Ketika melihat persoalan yang menimpa generasi penerus bangsa, menjadikan sebuah pemikiran tentang solusi riil yang mampu mengatasinya dengan tuntas. Persolan remaja bukan hanya sebatas persolan mereka saja. Akan tetapi sangat berkaitan dengan lingkungan masyarakat. Sehingga solusi pun harus komprehensif. Islam sebagai agama yang sempurna telah memberikan solusi menyeluruh terhadap berbagai persolan kehidupan. Termasuk persolan remaja.

Dalam pandangan Islam remaja bukan lagi dipandang sebagai anak-anak. Akan tetapi sebagai manusia dewasa yang telah terikat dengan keharusan mentaati hukum-hukum Islam. Aqil dan Baligh menjadi standar mereka wajib mentaati aturan-aturan dari Allah Subhanahu Wata’ala.

Ketika mereka telah aqil dan baligh, maka mengajak dan mengawal mereka untuk berfikir tetang jati diri mereka harus terus dilakukan. Jati diri mereka hanyalah sebagai hamba bagi Penciptanya.Tak ada pilihan lain bagi mereka selain mentaati perintah Alloh Subhanahu Wata’ala. Kebahagiaan dan kesenangan yang harusnya mereka kejar adalah ridlo dan surganya Alloh Subhanahu Wata’ala. Ridlo dan surga Alloh Subhanahu Wata’ala hanya akan bisa teraih jika mereka berhati-hati dalam menjalani kehidupan ini dengan menjadi hamba yang takwa. Kesenangan hidup di dunia ini adalah fana. Ada akhiratyang abadi. Ada pertanggungjawaban hakiki dalam setiap perbuatan di dunia ketika nanti di akhirat. Ada surga dan neraka sebagai tempat kembali yang abadi. Semua itu harus tertancap kuat pada diri para remaja.

Tak cukup hanya dengan pelajaran agama di sekolah yang sangat singkat, ataupun ditambah pendidikan berkarakter serta gerakan revolusi mental. Penekanan terbangunnya kesadaran akan kebenaran dalam beraqidah harus menjadi pola fikir yang mendasar bagi remaja. Dan hal tersebut tak boleh hanya berhenti pada remaja saja namun berkesinambungan dengan masyarakat pada umumnya.

Keluarga menjadi awal penanaman kesadaran beraqidah pada diri remaja. Orangtua harus mampu mengawal anak-anak mereka beraqidah secara benar dan konsekuen terhadap aturan-aturan dalam aqidahnya. Demikian juga sekolah serta lingkungan masyarakat harus memiliki kesadaran tersebut serta memberikan kontrol ketika terjadi berbagai pelanggaran.Termasuk sistem yang diberlakukan oleh negara sebagai insititusi yang menjaga dan melindungi masyarakat, harus mampu mengawal agar rakyatnya sadar dalam beraqidah serta memberikan sanksi yang tegas bagi para pelanggarnya.

Ketika Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam menjadi kepala negara di Madinah, tertoreh dalam tinta emas sejarah kemuliaan dan ketinggian Islam. Saat itu banyak para remaja Islam tidak menjadikan kesenangan duniawi sebagai tujuan hidup mereka.Bukan harta ataupun materi lainnya yang mereka kejar melainkan ridlo dan surga Alloh Subhanahu Wata’ala. Sehingga di usia belia mereka turut dalam bebagai jihad yag terjadi masa itu. Dan kegemilangan itu terus berlanjut dimasa Khilafah Islam. Banyak pemuda Islam yang menjadi ilmuwan, maupun menjadi panglima perang. Maka hanya ketika aqidah Islam ditanamkan secara kuat dan diterapkan dalam Khilafah Islam sajalah yang telah terbukti mampu menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan, termasuk menjadikan para remajanya menjadi para pahlawan yang memberikan kontribusi riil bagi kemajuan masyarakat, bukan menjadi sampah masyarakat.Waallhua’lam.*

Anggota DPD II Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia Tulungagung

 

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:kenakalan remajaorangtuaPemudaremaja
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Crane yang Jatuh di Masjidil Haram Buatan Jerman, Bukan China
Tulisan selanjutnya 10 Bekal Dakwah untuk Pemuda/Pemudi Muslim [1]

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Presiden Iran: Jangan Biarkan Wilayah Negara Muslim Dipakai Menyerang Sesama

Berita
28 Agustus 2026 09:20
AHWA Tetapkan KH. Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU 2026–2031
Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
Bahtsul Masail Qanuniyah Muktamar ke-35 NU akan Bahas RUU Perampasan Aset

Terbaru

  • Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
  • Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap
  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?