Oleh: Muhajirin
Sambungan artikel PERTAMA
b. Merendahkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
Dalam Kitab Mukhtaarat Min Ahaadiits Wa Khithaabaat Al-Imam Al-Khumaini, di hal 42, disebutkan khutbah Khomaini pada tanggal 15 Sya’ban 1400 H, di antara isinya:
فكل نبي من الأنبياء إنما جاء لإقامة العدل وكان هدفه هو تطبيقه في العالم، لكنه لم ينجح، وحتى خاتم الأنبياء (ص) الذي كان قد جاء لإصلاح البشر وتهذيبهم وتطبيق العدالة، فإنه أيضا لم يوفق، وإن من سينجح بكل معنى الكلمة ويطبق العدالة في جميع أرجاء العالم هو المهدي المنتظر
“Setiap Nabi datang hanya untuk misi menegakkan keadilan semata, maka visi mereka adalah mereasikan keadilan di seluruh dunia, namun mereka tidak ada yang berhasil, sampai penutup para Nabi (Muhammad) yang datang untuk tujuan memperbaiki manusia, mendidik mereka dan merealisasikan keadilan juga belum sukses, dan yang akan sukses dalam menegakkan semua misi kenabian dan merealisasikan keadilan di seantero bumi ini hanya Imam Mahdi yang dinanti-nanti.”
Dua tokoh di atas adalah diantara sekian tokoh Syiah yang senantiasa menghiasi buku-buku Syiah, dan menuai banyak pujian dan sanjungan serta pengakuan sebagai sosok fenomenal di dunia Islam dalam kacamata Syiah.
Akan tetapi seklumit kontroversi dua tokoh besar di atas cukup memberikan gambaran bahwa sebenarnya Syiah tidak konsisten dalam menentukan sikap, bersikap menolak At-Tawhidi namun bersikap loyal total terhadap Al-Kulaini dan khomeini.
ABI dan Ijabi tidak ekstrim?
Jika memang demikian halnya lalu bagaimana dengan buku-buku yang dikeluarkan oleh penerbit-penerbit Syiah baik dari pihak ABI (Ahlu Bait Indonesia) maupun IJABI (Ikatan Jamaah Ahlu Bait Indonesia)?
Jika dua organisasi Syiah Indonesia ini tidak ektrim, pasti buah pikirannya tidak pula ekstrim. Tapi marilah kita lihat dalam buku-buku mereka, dalam versi Indonesia:
Buku Kecuali Ali
Buku ini ditulis oleh Abbas Rais Kirmani dan diterjemahkan oleh Musa Sahab dari judul “Ali Oyene-e Izadnemo” diterbitkan oleh Al-Huda atau ICC Jakarta, cetakan pertama : Rajab 1430/Juli 2009.
Dalam halaman 143-144, tertera adu domba dua Amirul Mukminin:
“Dalam khutbah syiqsyiqiyah, Imam Ali as mengkritik salah satu dari tiga khalifah berikut, kritik terhadap Abu Bakar: “Dia Abu Bakar sangatlah mengetahui bahwa saya adalah orang yang paling layak menjadi khalifah dan apakah benar datangnya baju ke-khilafahan hanya bagi tubuh saya? Di masa kekhilafahannya bagai seseorang yang merasakan duri di mata dan tertusuk tulang di tenggorokan, “Demi Allah, anak dari Abu Quhafah (Abu Bakar) telah mengenakan baju kekhilafahan, padahal dia mengetahui bahwa saya seperti poros dan penggilingannya (kekhilafahan adalah hak saya). Air bah telah menimpa ku, tapi burung tidak akan terbang tinggi, kecuali akan kembali kepadaku.”
….. Kemudian Imam Ali as mengatakan, “Aneh, pada masa kekhilafahannya, Abu Bakar memohon maaf atas pelanggaran kekhilafahannya, namun di sisi lain beliau mengukuhkannya, untuk orang lainnya jika wafat nanti. (mengisyaratkan atas kemunafikan).”
Buku Antologi Islam (edisi revisi)
Buku ini diterjemahkan dari judul aslinya “Encyclopedia of Shia”, Penerjemah : Rafik Suhud, Anna Farida, Sri Dwi Astuti, Ana susanti, Diani Mustikaati. Diterbitkan oleh Al-Huda atau ICC Jakarta, Cet ke III, Rabiul Awal 1433/Februari 2012.
Buku ini mencela Ibunda Aisyah Radhiyallahu Anha (Hal 67):
“Kelakuaan buruknya di depan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam mencapai puncaknya ketika beliau sedang shalat, dia menjulurkan kakinya di tempat sujud. Ketika beliau sujud dan mencubit kedua kakinya, dia menarik kakinya, ketika beliau berdiri untuk melanjutkan shalatnya, dia julurkan lagi kedua kakinya.”
“…. Dengan sifat yang semacam itu, layakkah dia dimasukkan ke dalam Ahlu Bait yang telah disucikan sesuci-sucinya oleh Allah Subhanahu Wata’ala?, membantah Nabi saja sudah cukup untuk menunjukkan ketidak murnian ketaatan dan kecacatan dalam hal keshalihan dia malah memarahi dan menjauhi, memata-matai, mencurigai, bahkan menuduh Rasulullah saw sebagai berpura-pura menjadi nabi.”
Di Hal : 69, tertera:
“laporan-laporan lemah yang mengklaim adanya cinta yang berlebihan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallamkepada Aisyah senyatanya adalah dibuat oleh musuh-musuh Ali…”
Di halaman 655, buku ini merendahkan Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu:
“Abu Hurairah adalah seorang Yahudi menjadi Muslim pada Hari Khaibar yang terjadi satu tahun setelah perjanjian Hudaibiyah dan hanya tiga tahun hidup bersama Nabi.”
“Setelah Abu Hurairah masuk Islam, ia tidak punya apa-apa, ia biasa meminta orang-orang untuk membaca ayat Al-Qur`an bukan karena ingin memperoleh kebaikan dari Al-Qur`an. Ia ingin orang tersebut merasakan secara keagamaan dekat dan meminta Abu Hurairah ikut makan malam atau makan siang dengannya. Ini merupakan fenomena terkenal sebagai menggabungkan perut dan agama (menggabungkan agama dengan uang, perut, kekuatan … atau hal-hal yang remeh).” (halaman 658)
“Kemungkinan orang ini melakukannya, demi keuntungan pribadi, pengaruh, dan motivasi politik/sosial sangatlah tinggi, dan kita harus mengkhawatirkan hal itu….” (Hal 662)
“Tidak ada yang suci mengenai pribadi-pribadi sahabat ini, secara khusus Abu Hurairah, yang harus mencegah seseorang mencari kebenaran dengan menyelidiki dan mengevaluai ulang perbuatan-perbuatan mereka..” (Hal 664)
Buku The Shia Asal Usul dan Keyakinannya
Judul asli “The Shia, Their Origin and Beliefs” karya Hasyim Al-musawi diterjemahkan oleh Ilyas Hasan, diterbitkan oleh Penerbit LENTERA, cetakan pertama tahun 1996.* (BERSAMBUNG)
Penulis pemerhati masalah keagamaan