Oleh: Nugra Fatah
Ketegangan meningkat antara Rusia dan Turki setelah tembakan F-16 Turki menjatuhkan SU-24 Rusia. Sebagai Negara besar, Rusia tentu malu jika membiarkan tindakan Turki tanpa sanksi. Akhirnya sanksi ekonomi dijatuhkan oleh Presiden Rusia, Vladimir Putin. Warga Rusia diminta meninggalkan Turki. Visa ke Turki ditutup, impor barang dari Turki dikembalikan dan pasokan gas dipotong 20%.
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan mencoba meminjam godam NATO untuk menekan Rusia, tapi tampaknya tidak bekerja efektif. 10 tahun lalu Turki meminjam hukum demokrasi Uni Eropa untuk menggebuk barisan sekuler Turki, ia berhasil. Militer Turki berhasil dikandangkan, Erdogan dan AKP melesat tapi juga mengkhawatirkan Eropa dengan kebangkitan Ottoman.
Rencana Erdogan kali ini untuk mengadu NATO dan Rusia sudah terbaca pihak Barat. Bulan ketika Turki dan Rusia tegang, Erdogan langsung kontak NATO dan konferensi pers, tapi kali ini ketika pesawat Rusia jatuh, Erdogan langsung menelpon Obama, tidak lagi NATO.
Mengapa? Karena NATO sudah gerah dengan ‘game’ Erdogan. Hasilnya, mantan petinggi NATO US minta Turki keluar dari NATO dan pejabat Prancis juga minta Turki keluar atau Perancis yang keluar.
Mr. Erdogan dengan Pan Islamisme sudah terbaca, dan jika salah langkah, Turki malah bisa dikucilkan baik dari sekutu NATO maupun dari koalisi Rusia.
Turki mungkin bisa memainkan kartu pindah ke koalisi Rusia lalu Rusia menempatkan persenjataan dan pangkalan di Turki, Eropa akan jantungan. Akan tetapi bisakan Turki bersama dengan Iran? Inilah ganjalannya.
Turki dan Arab plus Qatar tidak akan mampu menghadang baik blok Barat maupun blok Timur secara hitung-hitungan kekuatan militer.
Dalam sejarahnya pada masa melemahnya Turki, Turki pernah kalah perang melawan Rusia pada abad 18 sehingga Turki kehilangan banyak wilayah yang sangat luas pada bagian barat dan utara. Turki pun pernah caplok Inggris saat perang dunia pertama.
Kita boleh berbangga dengan kekuatan Turki saat ini, tapi jika dikepung Negara-negara besar, Turki bisa kelabakan, dampaknya banyak negeri Islam pun menjadi semakin lemah tanpa advokasi Negara ‘Islam’ di barisan Negara maju.
Untuk sementara, memang ada baiknya Erdogan menurunkan tensi dengan Negara besar khususnya Rusia yang memiliki ribuan senjata nuklir.
Kalaupun pecah perang dunia ketiga, Turki Negara paling depan yang terkena dampak peperangan. Semoga pertolongan Allah senantiasa menaungi umat Muslim sedunia. Amin.*
Penulis buku “Panglima Surga”, follow twitter @nugrazee