Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Memahami Esensi Syariat Qurban

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 4 September 2017 06:21 6:21 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 4 September 2017 09:00
Bagikan
ilustrasi
Bagikan

Oleh:  Ilham Kadir  

 

TUJUAN utama qurban adalah sesuai namanya, untuk bertaqarrub kepada Allah. Taqarrub adalah bentuk pendekatan kepada Allah dengan menggunakan media hewan qurban. Hari Raya Idul Adha adalah nama lain dari Hari Raya Qurban, hari di mana umat Islam berbagi kebahagiaan dengan daging qurban.

Dalam hierarki golongan orang-orang bertakwa (muttaqin) golongan muqarrabin atau yang dekat dengan Allah adalah yang paling tinggi. Mulai dari para golongan manusia saleh (shalihin), orang-orang syahid (syuhada), yang baik-baik (abror), dan muqarrabin. Maka muncul sebuah ungkapan, hasanatul-abror sayyeatul-muqarrabin. Yang dipandang baik bagi golongan ‘abror’ adalah masih dipandang buruk bagi golongan muqarrabin.

Berqurban adalah sarana menjadi muqarrabin. Dalam contoh nyata, Nabi Ibrahim yang diperintahkan Allah untuk menyembelih anaknya pun tetap patuh (lebih lengkapnya, lihat Surah As-Shaffat ayat 101-111). Maka Ibrahim dan anaknya, Nabi Ismail, menjadi golongan muqarrabin. Karena kepatuhan dan ketundukan Ibrahim dan putranya sehingga menjadi teladan bagi kita semua, umat Nabi Muhammad. Tentu saja, syariat dimaksud adalah menegakkan esensi qurban dengan menyembelih jenis hewan yang telah ditetapkan dalam syariat.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Baca: Setelah 11 Tahun, Muslimin Mahakam Ulu Baru Rasakan Daging Qurban

Penyembelihan hewan qurban adalah simbol untuk menyembelih kerakusan, ketamakan, amarah, kebodohan, keangkuhan dan segala sifat tercela yang menempel pada jiwa-jiwa kita. Karena itu, Allah juga tidak akan butuh terhadap daging qurban pengorbanan kita, hewan-hewan yang disembelih tetap milik tuannya, minimal sepertiga. Diwajibkan berbagi sebagai wujud hilangnya rasa rakus dan tumbuhnya empati kepada sesama.

Daging-daging qurban dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.(QS. Al-Hajj:37).

Lalu apalah artinya hanya seekor hewan qurban bagi yang diberi kecukupan rezeki dibandingkan dengan nyawa seorang Nabi Ismail yang sangat disayangi oleh orang tuanya (Nabi Ibrahim dan Siti Hajar)

Baca: Di Kupang, Warga Non-Muslim Termasuk Pendeta Diberi Daging Qurban 

Kenyataan kadang menunjukkan, karena kecintaan yang berlebihan terhadap harta, sebagian orang begitu berat hati untuk berqurban walaupun sekadar patungan tujuh kepala rumah tangga untuk seekor sapi, dan atau satu ekor kambing untuk satu kepala rumah tangga. Itu terjadi karena hitung-hitungan uang dan uang. Sebab sebagian orang sudah menjadikan uang sebagai dewa, dan hanya ingin mengeluarkan uangnya jika terlihat langsung secara kasat manfaatnya.

Padahal, di kota-kota besar seperti Jakarta misalnya, ada orang hanya duduk ngopi-ngopi sama kolega harus merogok kocek hingga dua juta rupiah, seharga satu ekor kambing atau sapi jika patungan. Lalu, kenapa begitu berat melepas uang demi qurban? Karena mereka tidak paham esensi qurban yang berdimensi pribadi dan spritual sosial.

Dalam kamus teologis, qurban adalah harta abadi. Artinya ia akan menjadi tabungan di akhirat kelak, dan lebih istimewa dapat menjadi kendaraan untuk melewati api neraka yang membara di bawah shirat. Dalam tinjauan sosial, berbagi daging qurban kepada sesama adalah perbuatan terpuji. Dengan berbagi nikmat, harta akan berberkah, tumbuh, lalu berkembang.

Dari sini muncul filosofi perintah qurban, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikan salat karena Tuhanmu, dan berqurbanlah. Sesungguhnya oraang-orang yang membenci kamu adalah yang terputus, (QS. Al-Kautsar: 1-3).

Maka para elite dan warga negara ini jika mengaku beriman dan bertakwa, harus mengambil makna esensi dari qurban. Belajar dari Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Nabi Ismail. Keluarga ini dapat menjadi model prilaku penuh keikhlasan dan tunduk patuh pada perintah Allah.

Bahwa adanya segelintir manusia atau golongan yang menguasai mayoritas kekayaan negara serta menyebabkan kesenjangan sosial merupakan bukti lemahnya jiwa pengorbanan di negeri ini.

Baca: Pertanyaan-pertanyaan Terkait Hewan Qurban

Rontoknya jiwa kenegarawan yang ditandai kian menguatnya kebiasaan mengutamakan kepentingan diri dan kroni di atas kepentingan publik boleh jadi penyebab utamanya adalah tidak adanya kesediaan berqurban sebagai kanopi suci yang diajarkan para nabi.

Dalam suasana hari raya Idul Qur’ban ini, maka memaknai esensi qurban sebagai wadah meraih kedekatan kepada Allah sekaligus untuk mendekatkan diri pada sesama. Bagi siapa pun, utamanya para politisi yang akan bertarung tahun depan (Pilkada 2018), akan lebih baik jika mendekatkan diri kepada Allah dan rakyat sekaligus melalui media qurban.

Dan bagi yang belum mampu menunaikan syariat qurban, setidaknya harus punya azam dan niat yang kuat agar pada tahun mendatang juga mampu berqurban. Sebab niat yang baik namun belum terlaksana sudah dicatat satu kebaikan. Namun jika benar-bemar terwujud akan dicatat sepuluh kali lipat. Itulah keutamaan umat Nabi Muhammad yang seharusnya jadi amalan utama. Selamat Hari Raya Idul Adha, 1438 Hijriah!

Anggota MIUMI Pusat, Pimpinan Baznas Enrekang

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:daging kurbanesensi qurbanhewan kurbanQurban
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Presiden Jokowi Desak Myanmar Hentikan Kekerasan terhadap Etnis Muslim Rohingya
Tulisan selanjutnya Bom Peninggalan PD II Dijinakkan, 60.000 Warga Frankfurt Bisa Kembali ke Rumah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Miftachul Akhyar Sebut Ikhtilaf Bukan Ancaman, tapi Penggerak Pemikiran Umat

Berita
11 Agustus 2026 13:30
‘Israel’ Kembali Langgar Gencatan Senjata, Bunuh Kepala Polisi Gaza
Wamenag Minta Masyarakat Tenang, Kasus Promosi Miras di The Sounds Project Harus Diusut Tuntas
Kantor Perdana Menteri Pemerintah Kurdistan Diserang Drone
Kibarkan Bendera Palestina, Ratusan Warga Yunani Hadang Kapal Pesiar Wisatawan ‘Israel’

Terbaru

  • Nasib Pengungsi Rohingya, Mau Pulang Harus Minta Izin Pemerintah Myanmar
  • Sebut Orang Palestina Bukan Manusia, Menteri ‘Israel’ Serukan Pembunuhan Massal
  • Takuti Warga ‘Israel’, Netanyahu Pajang Wajah Para Pemimpin Muslim di Baliho Pemilu
  • Raja Yordania akan Melawat ke China
  • Kantor Perdana Menteri Pemerintah Kurdistan Diserang Drone
  • HUT ke-81 RI, MUI: Mari Jaga Moral Bangsa dari Penyimpangan Seksual
  • Haedar Nashir: Indonesia Milik Bersama, Kemakmuran Rakyat Harus Menjadi Agenda Utama
  • Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo
  • Turki dan Saudi Perkuat Kerjasama Energi, Usai Sepakati Pakta Pertahanan Makkah
  • 22 Persen Yahudi ‘Israel’ Dukung Usir Warga Palestina ke Luar Negeri

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?