Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Santri Pejuang

Ahmad
Terakhir diupdate: 22 Agustus 2022 10:32 10:32 am
Ahmad
Dipublikasikan 22 Agustus 2022 10:35
Bagikan
Bagikan

Seorang pejuang harus menjadi santri dan seorang santri harus menjadi seorang pejuang

Oleh: Dr. Kholili Hasib

Hidayatullah.com | DI DUNIA pesantren, disebut santri bila memiliki karakter khusus. Almarhum KH Kholil Nawawi, dari Pesantren Sidogiri Pasuruan, pernah menjelaskan sifat santri. “Santri, berdasarkan peninjuan tindak langkahnya adalah orang yang berpegang teguh dengan tali Allah SWT  yang kuat (al-Qur’an)  dan mengikuti sunnah Rasul serta teguh pendirian dalam setiap keadaan.

Ini arti dengan bersandar pada sejarah dan kenyataan yang tidak dapat diganti dan diubah selama-lamanya. Dan Allah-lah Yang Maha Mengetahui atas kebenaran sesuatu dan kenyataannya.”

Santri, menurut KH Kholil Nawawi adalah santri pesantren yang teguh dan kuat dalam memegang ajaran al-Qur’an dan sunnah Rasulullah ﷺ. Artinya,  santri itu tidak mudah mengikuti pemikiran baru di luar ajaran salaful ummah. Justru, santri merupakan pejuang untuk menegakkan ajaran para ulama salafnya.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Syaikh KH Hasyim Asy’ari menulis kitab penting yang menjadi pedoman para santri, judulnya “Adabul ‘Alim wal Muta’allim” (Adab Santri dan Guru). Salah satu adab yang menjadi ruh perjuangan santri: dalam belajar agama harus dengan niat taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT, menyebarkan ilmu, menghidupkan agama Islam, menyebarkan hukum Allah SWT, dan menampakkan kebenaran.

Maka setiap orang yang berstatus santri harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk membersihkan pemikiran dari hal-hal yang merusak keimanan. Imam al-Syafi’i mengatakan dalam salah satu syairnya:

“Jika Anda tidak menyibukkan diri dengan kebenaran, maka ia (waktu) akan menyibukkan Anda dengan kebatilan”. Tazkiyatul fikr (pembersihan pemikiran) dilalui dengan proses penyadaran diri yang disebut riyadlah.

Proses tersebut disebut juga jihad nafsu (mujahadah al-nafs). Di kalangan ahli tasawwuf, jihad nafsu menjadi cara untuk membentuk jiwa bertakwa dan beradab yaitu jiwa yang ingatannya tidak pernah lepas dari Allah SWT dalam setiap aktifitasnya.

Imam al-Sya’rani memberi nasihat, jihad nafsu itu fardhu ‘ain yang harus dilakukan setiap hari. Mujahadah itu kewajiban yang tak terputus, sepanjang masa seorang Muslim wajib berjihad melawan hawa nafsunya. Sebab, nafsu secara terus-menerus menggoda manusia agar meninggalkan syariat Allah SWT. Maqam (kedudukan tinggi seorang hamba di sisi Allah SWT) tidak mungkin diraih tanpa jihad nafsu. Ia mengatakan: “Barangsiapa menyangka dirinya telah mencapai derajat tanpa mengerahkan usaha melawan nafsu dalam beribadah, maka sungguh itu mustahil” (Tanbih al-Mughtarin, hal. 111).

Para ulama memberi teladan santri yang shalih, yakni bersih ruhani, menjauhi segala aktifitas maksiat. “Ilmu (hafalan) tidak bersahabat dengan maksiat,” begitu bunyi nasihat Imam al-Waqi’ kepada Imam as-Syafi’i.

Imam al-Ghazali merumuskan adab santri pemula yang utama dan pertama sama dengan tirakat, yaitu mensucikan jiwa. Penjelasannya, karena ilmu adalah ibadah hati, atau shalatnya hati. Suatu shalat tidak sah bila anggota badan atau baju ada najis. Begitu pula mencari ilmu tidak sah (tidak akan sukses) jika hati ada najis (Imam al-Ghazali, Ihya’ Ulmuddini 1, hal. 67).

Adab utama berikutnya yang juga bagian dari lelaku tirakat adalah meminimalisir perkara yang berkaitan dengan kesibukan duniawi. Bahkan dianjurkan meninggalkan keluarga atau tempat tinggalnya.

Kesibukan duniawi menurut Imam al-Ghazali dapat menjauhkan dari ilmu manfaat. Sementara, berjauhan dengan keluarga atau tempat tinggal supaya seorang tidak mudah hidup enak-enakan.

Prosesi ini merupakan kunci keberhasilan seseorang mencari ilmu. KH Hasyim ‘Asyari menjelaskan, orang berilmu adalah orang yang niat belajarnya karena mencari rida Allah, bersih hatinya, dan wara’. Bukan bermaksud untuk kepentingan duniawi, seperti untuk memperkaya, mendapatkan jabatan dan memperbesar pengaruh di hadapan orang. Bahkan, memperbanyak tidur dan makan bukanlah adab seorang santri karena hal itu akan menghalangi ilmu.. Niat yang benar dan membersihkan hati merupakan adab santri terhadap dirinya (Hasyim Asy’ari, Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim, hal..25-26).

Hal ini ditekankan secara ketat bukan saja sejak awal dalam proses belajar. Tetapi, juga wajib selama mencari ilmu.

Sebelum menulis kitab monumentalnya Ihya’ Ulumuddin, Imam al-Ghazali sampai uzlah selama 11 tahun lamanya. Meninggalkan segala jabatannya sebagai guru besar di Madrasah Nidzamiyah, rela tidak mendapatkan gaji cukup, menjauhi baju kehormatan dan kebanggannya di Baghdad. Selama itu, ia bertafakkur, riyadhoh dan membersihkan jiwanya secara ketat. Proses itu berhasil. Hingga menghasilkan beberapa karya hebat.

Maka, seyogyanya ilmu tazkiyatu nafs dan ilmu riyadhah menjadi pelajaran utama dan pertama bagi santri pemula. Adab sebelum ilmu. Adabkan jiwa terlebih dahulu, baru kemudian mensantri perincian cabang-cabang ilmu. Adab menurut Imam al-Ghazali sesungguhnya juga pendisplinan jiwa (Imam al-Ghazali, Raudhatu al-Thalibin wa Umdatus Salikin, hal. 10 – 11).

Awal yang baik merupakan pintu akhir yang baik. Santri harusnya memberi penekanan pada ilmu tasawuf. Tasawuf untuk anak, dan tawawuf untuk remaja.

Tujuan pendidikan melahirkan manusia yang baik. Manusia yang baik lahir dari proses pendidikan yang baik. Adapun pendidikan yang baik bila diawali dengan pendisiplinan jiwa yang  baik melalui tasawuf.

Maka, pengadaban jiwa bisa di-setting. Khususnya santri remaja. Misal, dibiasakan puasa Senin-Kamis. Karena puasa itu mengendalikan nafsu dan keingingan yang berlebihan. Dikontrol adab-akhlaknya. Dibiasakan ibadah-ibadah sunnah. Ditarget membaca al-Qur’an dan dzikirnya.

Maksiat sekuat tenaga  dihindari. Sekecil apapun. Imam syafi’i mengatakan: ilmu itu cahaya, dan cahaya Allah SWT tidak akan masuk ke dalam hati orang-orang yang selalu bermaksiat. Lebih-lebih maksiat menentang Allah SWT.

Pluralisme adalah bentuk maksiat yang sangat berat dosanya. Paham ini difatwakan  haram oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia) pada 2005.

Karena bertentangan dengan tauhid. Islam mengajarkan, siapapun yang ingin selamat haruslah melalui jalur Nabi Muhammad ﷺ, bukan melalui Kristen, Yahudi, Budha, Hindu dan agama-agama lain. Allah ﷺ telah memberi satu jalur saja untuk mencapai keselamatan. Bila ada sekelompok membuat jalur lain, dipastikan itu bukan dari perintah Allah SWT.

Karena itu, seorang santri yang berpegang teguh pada ajaran salaf ummah akan menentang paham ini. Berjuang agar paham pluralis tidak masuk ke dalam pesantren.

Sementara itu, orang yang berjuang menghidupkan agama dan syariat Allah SWT dan Rasul-Nya harus dibekali dengan ilmu-ilmu agama yang cukup. Agar dalam perjuangannya tidak keliru.

Dengan demikian, seorang pejuang harus menjadi santri. Dan seorang santri harus menjadi seorang pejuang. Selalu ada semangat dalam hati untuk menyebarkan ilmu dan menghidupkan agama.

Penulis adalah dosen di IAI Dalwa Bangil

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:pejuang santrisantri pejuang
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Orang Kesepian Meningkat, Australia Mengaku Alami Krisis Sipil
Tulisan selanjutnya Muhammadiyah Siap Bantu Masyarakat Kurang Mampu dalam Layanan Hukum

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Ahwa Mufakat Pilih Gus Kikin, Cicit Pendiri NU dari Tebuireng Jadi Ketum PBNU

Berita
31 Agustus 2026 11:10
Erdogan Serukan Persatuan Dunia Islam dalam Perayaan Maulid di Istanbul
Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
Presiden Iran: Jangan Biarkan Wilayah Negara Muslim Dipakai Menyerang Sesama
Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?