Oleh: Afriadi Sanusi
BANYAK hal yang perlu dipelajari dari Malaysia antara lain; Malaysia memperoleh kemerdekaannya dengan jalan diplomasi di meja rundingan. Pemilu Malaysia (PRU), tanggal 9 Mei 2018 juga sukses mengganti rejim yang telah berkuasa lebih dari 61 tahun dengan tanpa pertumpahan darah, kekerasan dan pengrusakan yang banyak merugikan bangsa dan infrastruktur negara sebagaimana yang sering berlaku di negara berkembang seperti Thailand, Myanmar, Afrika, Philipina, Indonesia, Arab dan sebagainya.
Pemimpin yang ada pula menerima dengan lapang dada proses demokrasi itu untuk menghormati kehendak dan suara rakyat yang inginkan perubahan. Yang paling mengagumkan adalah pendukung partai pemerintah yang kalah juga menerima keputusan itu dengan lapang dada tanpa menimbulkan kekerasan dan ancaman.
Sementara pendukung partai yang menang tidak merayakan kemenangan itu berlebihan melalui euforia kemenangan.Tiada perarakan, pesta pora kemenangan selain puji syukur kepada Allah dan doa selamat yang banyak di share dalam group media sosial disaat media mainstream nampaknya masih berpihak pada pemerintah yang lama.
Para pendukung partaiyang menang pula tidak menabik dada bangga merasa paling berjasa mengganti rejim apalagi inginkan balas jasa berupa jabatan, pangkat dan uang.
Perdana Menteri terpilih pula sejak awal lagi menjelaskan bahwatiada aksi balas dendam terhadap mereka yang kalah selain proses penegakan hukum (rule of law) yang harus dihidupkan di bawah bidang kuasa yudikatif.
Tindakan profesional yang dilakukan petugas keamanan seperti Polisi yang berhasil menyekat anarkisme dan tindakan Komite Pemilihan Umum Malaysia (SPR) yang melambat-lambatkan pembacaan hasil PRU menurut saya juga adalah bahagian dari strategi menghalang berlakunya kekerasan antara pihak yang kalah dengan pihak yang menang.
Para bawahan ini sepenuhnya bekerja untuk kebaikan bangsa dan negara walaupun pimpinan atasan mereka terpaksa atau dipaksa harus memihak pada pemimpin ketika itu.
Hikmah
Ada beberapa hikmah yang dapat kita pelajari pada PRU ke 14 Malaysia yang menyebabkan jatuhnya rejim Barisan Nasional yang telah berkuasa selama lebih 61 tahun di Malaysia, antara lain;
Pertama; pemimpin jangan lambat membaca gelombang kebangkitan kehendak dan suara hati nurani rakyat. Tetap maju dan tidak mundur sebagai pemimpin walaupun hanya menang secara minoritas pada PRU ke 13 dulu.
Baca: 60 Tahun Berkuasa di Malaysia Barisan Nasional Kalah Pemilu
Kebangkitan rakyat yang sudah diperlihatkan semenjak tahun 1998 lagi yang dipimpin oleh Anwar Ibrahim di Malaysia. Ini adalah sebuah gerakan ketuanan rakyat untuk menyedarkan rakyat akan hak-hak mereka sebagai pemilik mutlak tanah air mereka. Gelombang kebangkitan rakyat ini menurut perhatian saya tidak pernah surut walaupun dihadapi dengan berbagai-bagai tekanan, penipuan, ancaman dan penyalahgunaan kuasa lainnya dari penguasa dan pengusaha.
Kedua; belalah dan perjuangkanlahkonsep ketuanan rakyat yang diperjuangkan di atas. Sistem monarki dan sistem pemerintahan kuno yang mendewakan dan mengagungkan pemimpin sudah lama ditinggalkan.
Pemimpin diktator, kuku besi, zalim akan selamanya dimusuhi rakyat. Di sisi lain pemimpin menjelma bagaikan raja-raja baru dengan keangkuhan dan kesombongannya. Padahal perjuangan ketuanan rakyat telah melahirkan rakyat yang berjiwa merdeka.
Sehingga pegawai negeri, polisi, tentara, guru dan PNS lainnya tidak memilih partai pemerintah. Ini karena mereka sangat sadar bahwa mereka diangkat, bekerja dan digaji adalah untuk kepentingan negara dan bangsa bukan untuk kepentingan presiden apalagi untuk kepentingan partainya presiden. Mereka sadar bahwa presiden, menteri, dan jabatan politik lainnya adalah bersifat sementara yang setiap waktu boleh diganti dalam proses demokrasi.
Pemimpin akan datang dan pergi, sementara mereka akan tetap berbakti pada negara dan bangsa tanpa mengira siapa pun dan dari partai mana pun yang menang dalam pemilu. Bahkan di suatu negeri yang agak kental budayaberajanya, partai yang disokong oleh pihak istana secara peribadi kalah total di negeri tersebut.
Artinya mereka menyadaribahwa suara rakyat adalah kekuasaan tertinggi di negara mereka. Inilah antara hasil perjuangan ketuanan rakyat yang menghasilkan rakyat yang berjiwa merdeka tanpa merasa takut dengan kekuasaan yang bersifat sementara.
Ketiga; jangan menciptakan musuh melalui rejim anti kritik dengan memecat para petinggi negara yang dianggap kritis. Mendikte institusi negara untuk kepentingan mempertahankan status quo demi kepentingan individu dan partainya.
Pemimpin bagaikan manusia super yang mampu berbuat apa saja tanpa menghiraukan konsep pembagiankuasa dalam teori triaspolitica legislatif, judicative dan eksekutif. Ini karena rakyat mencatat dan mengingat semua bentuk kezaliman dan penyalahgunaan kuasa yang pernah dilakukan oleh pemimpin mereka dan sebagai balasnya mereka tidak akan pilih lagi partai dan pemimpin yang zalim serta menyalahgunakan kuasa tersebut.
Keempat; jangan mengabaikan suara tokoh intelektual cendekiawan masyarakat. Beberapa tokoh yang diakui kehebatannya dan memiliki ramai pengikut akar umbi seperti Tun Dr Mahathir yang ramai peminat di tanah air terutama di Kedah, Muhyidin Yasin yang ramai pengikut di Johor, Rafidah Aziz yang didengarkan suaranya oleh orang Perak, Rais Yatim yang menjadi tokoh di Negeri Sembilan, Zety Akhtar Aziz yang dikagumi oleh para ekonom. Tun Daim, Rais Yatim, Rafidah Aziz sebagai tokoh veteran juga telah menyatakan dukungan pada koalisi oposisi, Pakatan Harapan.
Semua tokoh hebat tersebut melakukan safari politik ke pelbagai negeri untuk mengajak masyarakat mendukung Pakatan Harapan. Beberapa negeri yang disebutkan di atas ternyata berhasil dikuasai oleh partai Pakatan Harapan hasil daripada effect para tokoh tersebut.
Kelima; pemimpin jangan mengabaikan kritikan kalangan akademik seperti tentang bahaya investasi China yang tidak adil dan membahayakan masa depan bangsa dan negara. Proyek raksasa tersebut diberikan bukan atas dasar tender terbuka, tidak transparant, sangat mahal, membawa pekerja dari China dan berbagai-bagai kelemahan lainnya yang jelas melanggar konsep good governance, demikian menurut pandangan tokoh akademik.
Keenam; jangan anggap enteng gerakan para profesional, think thank dan aktivis dalam koalisi apapun, karena ia telah mendatangkan hasil yang memuaskan. Ada murabbi yang bergerak di belakang layar, ada pemuda dinamik yang bergerak di alam nyata dan dunia media, tindakan Selangor mematahkan anggaran 1500 Ringgi pejabat kerajaan yang di lawan dengan bonus tiga bulan gaji oleh Pakatan Harapan.
Strategi meraih simpati dengan dugaan kezaliman yang dilakukan oleh Lembaga Pendaftaran partai politik Malaysia, RoS (Registrar of Societies), SPR, Jaksa Agung, Komisi Anti Korupsi Malaysia (SPRM), bendera partai yang dirusak dan sebagainya. Strategi Pakatan Harapan menaikkan bendera partai pada hari-hari terakhir menjelang hari Pemilu dan berbagai-bagai strategi yang mantap lainnya.
Ketujuh; jangan membuat rakyat marah karena mereka adalah ‘bos’ yang mengangkat dan menggaji pemimpin (sebagaimana sistem demokrasi). Salah satu contoh adalah, isu yang membuat rakyat Malaysia marah adalah tentang tenaga kerja China yang datang berserta proyek yang ada. GST atau pajak 6% juga sangat membebankan kehidupan rakyat. Kasus uang 1MDB yang penuh kontroversial juga membuat masyarakat sangat marah pada Najib Razak.
Di sisi lain, harga barang keperluan jadi sangat mahal setelah berbagai-bagai subsidi bahan keperluan pokok dicabut.
Kedelapan; sebagai peringatan kepada petinggi negara dan kita semua bahwa pangkat, jabatan, harta dan kedudukan semuanya adalah milik Allah Ta’ala yang setiap waktu bisa diambil-Nya kembali. Untuk itu gunakanlah ia untuk mencapai ridha Allah sebaik mungkin. Perdana Menteri dan petinggi negara lainnya secara automatik akan diganti semuanya.
Kehidupan mereka akan bertukar secara total. Yang selama ini ada sopir, pengawal, pakai kenderaan, rumah, perhiasan mewah, disanjung, dipuji, diiyakan setiap ucapannya, sekarang semua akan berubah. Mungkin bank akan menarik kenderaan, rumah, perhiasan mewah yang mereka hutang selama ini. Atau sebahagian mereka akan hidup dalam penjara yang penuh dengan penderitaan dan kesakitan.
Tiada lagi gelak ketawa, senyum sombong angkuh dan bongkak yang selama ini mereka perlihatkan. Kata-kata mereka tidak akan didengar lagi dan sejarah mereka akan jadi sempadan dan pengajaran buruk untuk generasi akan datang.Orang yang tiada iman akan mengalami tekanan jiwa, sementara yang kuat imannya menganggap ia sebagai sebuah cobaan saja.
Kesembilan; jadilah ahli akademik yang profesional dan objektif bukan penjilat. Banyak para pengamat dan akademisi yang bersikap Asal Bapak Senang (ABS) dengan mengemukakan hujjah yang subjektif dan cenderung mendukung pemerintah sebelum ini akan tamat riwayat akademik mereka.
Di Universiti mereka akan dianggap tidak memiliki integritas dan tidak akan didengarkan lagi pendapat-nya.
Kesepuluh; media haruslah objektif bukan untuk mencari keuntungan sementara. Berbagai-bagai media yang pro pemerintah selama ini telah ditinggalkan oleh masyarakat sehingga diperkirakan media-media tersebut akan rugi dan atau akan menjadi penjilat kepada tuan mereka yang baru pula.
Kesebelas; petinggi negara harus menganggap kerja sebagai ibadah kepada Allah. Jangan melanggar hukum manusia dan hukum Allah. Kemungkinan akan banyak petinggi negara yang selama ini bertindak di luas kerangka konsep trias politica akan diganti setelah ini. Mereka yang korup, dzalim dan menyalahgunakan kekuasaan akan segera dihukum dan diganti dengan mereka yang lebih baik.
Kedua belas; pengusaha harus menghargai rakyat sebagai konsumen yang membuat mereka jadi kaya selama ini, bukan penguasa ataupun partai. Para toke yang selama ini memberi orang politik biaya yang banyak untuk kampanye agar mereka dapat proyek pemerintah, akan rugi besar dan akan mengancam masa depan bisnis mereka selepas ini.
Ketiga belas; jangan melawan guru karena dalam dunia persilatan dikatakan guru akan menyimpan satu dua ilmu yang tidak diajarkan sebagai senjata jika suatu hari muridnya melawan guru. Perdana menteri Malaysia (PM) sebelum ini telah melawan gurunya dengan berbagai-bagai cara –yang boleh dikatakan– mendurhakai pada gurunya. Walaupun PM yang lama telah berguru pada PM yang baru puluhan tahun lamanya, namun nampaknya sang guru tidak mengajarkan semua ilmunya.
Jika dilihat dari masalah yang membuat rakyat Malaysia marah –hingga membuat tumbangnya penguasa lama– dan mengganti pemerintah mereka hampir sama dengan masalah yang berlaku di Indonesia saat ini, di mana dominasi investasi China berserta tenaga kerjanya terjadi, penyalahgunaan kekuasaan, melanggar konsep trias politica dan sebagainya yang diuraikan di atas.
Sementara kedudukan PM sebelum ini yang didukung oleh minoritas hampir sama dengan Jokowi yang hanya mendapat 70. 997. 833 (37 %) suara dibadingkan 119. 309.301 rakyat tidak memilihnya (hampir 63%) dengan perincian 62 juta pemilih prabowo dan 57 juta Golput.) pada pilpres 2014.*
Penulis mendapat PhD Student Islamic Political Science di University Malaya Kuala Lumpur, juga pengurus Cabang Istimewa Muhammadiyah Malaysia