Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

PKI, Indonesia, dan China [2]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 28 Januari 2017 05:15 5:15 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 27 Januari 2017 17:17
Bagikan
Bagikan

Sambungan artikel PERTAMA

 

Oleh: Beggy Rizkiyansyah

 

China saat ini membangun salah satu proyek terbesarnya yang kontroversial di Sri Lanka, yang menyebabkan kerusuhan (http://www.forbes.com/sites/wadeshepard/2017/01/08/violent-protests-against-chinese-colony-in-hambantota-sri-lanka-rage-on/#7b50efc829ed).

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Sejak 2008 setidaknya ada 30 ribu pekerja China di Sri Lanka. Sedangkan di China, sejak menurunnya gelombang ekspor China dua tahun lalu, kini setidaknya ada 37 juta pengangguran di China. Maka menjadi hal yang logis bagi pemerintah China untuk membuka lapangan pekerjaan bagi warga mereka di proyek-proyek di negara-negara satelit seperti Sri Lanka, dan tampaknya termasuk di Indonesia, yang saat ini dihebohkan dengan gelombang pekerja dari China. https://www.theguardian.com/world/2015/feb/06/sri-lanka-approves-chinese-port-project-to-avoid-misunderstanding-with-beijing

Ekspansi China dengan perangkap hutang mereka juga menjerat Kamboja, di mana China menghapus hutang Kamboja sebesar 90 juta dollar dan  ditukar dengan dukungan Kamboja atas perselisihan China dengan negara-negara ASEAN soal Laut China Selatan.

Di Afrika, Angola, Nigeria dan Zimbabwe juga dalam genggaman China. Di Zimbabwe, hutang Zimbabwe dibatalkan dan ditukar dengan kebijakan berlakunya mata uang Yuan.

PKI, Indonesia dan China [1]

Melihat semua kasus-kasus dimana banyak negara terjerat dalam Debt Trap (perangkap hutang), harusnya membuat kita berpikir agar Indonesia jangan sampai terjerat hal yang sama. Belum lagi masukya gelombang tenaga kerja baik legal maupun ilegal yang melukai rasa keadilan bagi pekerja di Indonesia. Apalagi Indonesia adalah salah satu negara yang dilalui Jalur Sutra Maritim China (Maritime Silk Road) yang amat ambisius, Dari Shanghai melalui Indonesia, Sri Lanka, Nepal, Maladewa Hingga Kenya dan seterusnya menembus ke Eropa. Maka melihat persoalan kecondongan pemerintah Indonesia dengan China tak tepat jika dilihat dengan kacamata (isu) PKI atau komunis.

Indonesia saat ini jelas-jelas mengidap liberalisasi ekonomi (dan hal lainnya) secara akut. Penguasaan sumber daya, mekanisme pasar yang mencekik rakyat miskin, membuat jurang ketimpangan di Indonesia semakin lebar. Bank Dunia, tahun 2015 lalu merilis laporan yang mencengangkan. Laporan itu menyatakan ketimpangan ekonomi di Indonesia semakin melebar. Menurut laporan tersebut, Pada tahun 2002, 10% warga terkaya Indonesia mengonsumsi sama banyaknya dengan total konsumsi 42 persen warga termiskin, sedangkan pada tahun 2014 mereka mengonsumsi sama banyaknya dengan 54% warga termiskin. Rasio Gini yang mengukur tingkat ketimpangan meningkat dari 30 (tahun 2000 ) menjadi 41 (tahun 2014), yaitu angka tertinggi yang pernah tercatat.

Penguasaan kekayaan yang memusat di Indonesia termasuk yang terbesar di dunia, di bawah Rusia dan Thailand. Di Indonesia, 10% orang Indonesia terkaya menguasai sekitar 77% dari seluruh kekayaan di negeri ini. Satu persen orang terkaya bahkan memiliki separuh dari seluruh kekayaan. (World Bank , Ketimpangan yang Semakin Lebar, Executive Summary: 2015).

Presiden Jokowi Terima Kunjungan Partai Komunis Tiongkok

Sepak terjang gubernur Ahok pun semakin mempertajam kesenjangan, ketimpangan dan ketidakadilan di Jakarta. Reklamasi adalah salah satu proyek yang akan mengukuhkan ketimpangan di Jakarta. Sudah saatnya kita fokus mempersoalkan hal ini ketimbang terbawa arus isu komunis(me) atau PKI.

Bagi rakyat Indonesia sudah jelas komunisme menimbulkan trauma mendalam. Namun seringkali kita melihat komunisme sebagai hantu. Disebut berbahaya, namun alih-alih ditelaah dan dikaji untuk diketahui segala keburukannya dan kekurangannya, kita hanya merasa cukup mengenal komunisme lewat film G30S-PKI. Tidak heran jika sekarang ada jurang pengertian yang menganga antara generasi muda yang tak cukup tahu tentang komunisme (dan akhirnya menganggap sepele) dengan generasi lebih tua yang menolak komunisme tapi tak cukup menjelaskan.

Jika kita memang menolak komunisme dan mengkhawatirkan keburukannya, maka sebaiknya kita menuruti saran Bung Hatta, salah satu orang yang dibenci oleh PKI dan dianggap provokator pemberontakan Madiun. Menurut Bung Hatta, selama masih ada kemiskinan dan ketimpangan, di situlah komunisme akan tumbuh subur. Memerangi liberalisasi ekonomi (neo-liberalisme), menghapus ketimpangan, ketidakadilan terhadap rakyat kecil, dan fokus mengawal kasus penistaan agama oleh Ahok lebih bermanfaat ketimbang membuang-buang energi soal isu PKI dan komunisme.*

Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ideologi marxis-leninisIndonesia dan ChinakomunismePartai Kebangkitan BangsaPartai Komunis IndonesiaPartai Rakyat DemokratikPKI dan IndonesiaPRD
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Birokrat Muslim Akhir Zaman
Tulisan selanjutnya Risau Kondisi Bangsa, Alumni dan Mahasiswa UI Deklarasikan “Bangkit untuk Keadilan”

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya

Berita
31 Agustus 2026 22:46
Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
Mayat Hanyut Hingga ke India, Korban Jiwa Banjir Nepal-China 750 dan >3.000 Orang Hilang
Mengapa Kolombia Ingin Pulihkan Hubungan dengan ‘Israel’?
Sering Rugikan Pabrik Senjata ‘Israel’, Palestine Action Ditetapkan AS sebagai “Kelompok Teroris”

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?