Oleh: Ady Amar
Hidayatullah.com | HIRUK-PIKUK suara kekuasaan yang dipertaruhkan di 2024 sudah ditabuh kencang. Bukan sekadar suara yang ditimbulkan, tapi justru getaran suara itu yang bisa dirasakan.
Suara yang ditabuh itu susul menyusul ditampakkan-didengungkan. Ada suara yang indah didengar, tapi ada pula suara parau menusuk kalbu.
Suara-suara itu akan terus menerus diperdengarkan. Pertanda sejak awal persiapan itu sudah dimulai. Maka suara-suara yang dimunculkan itu baru satu jenis suara tabuhan dari sekumpulan yang sama.
Suara yang diperdengarkan itu tidak bersahut-sahutan, setidaknya belum bersahut-sahutan. Baru satu pihak yang aktif memperdengarkan tabuhan suaranya.
Sedang pihak yang lain hanya mendengarkan saja, tanpa membalas suara-suara yang diperdengarkan itu. Sepertinya belum waktunya suaranya diperdengarkan.
Bersuara pun tampaknya juga pilih waktu yang tepat, sambil mengawasi suara “seberang sana” yang terus menerus diperdengarkan, itu karena punya keleluasaan bersuara.
Suara yang diperdengarkan, itu bukan suara tambur yang nikmat didengar dengan hentak pukulan berirama saban waktu
Suara yang terdengar itu suara manusia lewat tingkah polah menyambut Pilpres 2024. “Tambur” pemanasan dan siasat atas nama strategi dan kebijakan dimunculkan.
Maka suara-suara memekakkan akan terus ditemui sepanjang jalan panjang menuju perhelatan mencari figur pemimpin negeri dengan seabrek persoalan dan hutang menumpuk.
Memimpin negeri dengan segudang persoalan, tetaplah diperebutkan dengan ikhtiar keras, penuh tantangan, menjijikkan, dan terkadang menghalalkan cara haram.
Tanda-tanda Itu Sudah Muncul
Siapa yang nantinya akan memimpin negeri di 2024, ini mulai digadang-gadang. Itu hal biasa. Tidak ada yang salah. Persiapan yang panjang, berharap hasil pun sesuai.
Maka setidaknya penjajakan “perkawinan” antarpartai sudah mulai didengungkan. Siapa dijodohkan dengan siapa… Sekali lagi, tentu perjodohan antarpartai.
Untuk menguatkan penjajakannya itu tepat alias tidak salah, maka perlu dilakukan survei kelayakan, untuk menguji elektabilitas pasangannya.
Jika pasangan yang dijodohkan itu kurang terangkat elektabilitasnya, maka segala cara bisa dimungkinkan, dan itu lewat make up dan sekaligus mark up. Itu kerja wilayah konsultan politik.
Dari pihak petahana, meski Jokowi tidak lagi bisa menjabat, tapi tentu partainya, PDI Perjuangan, akan tetap ingin calonnya bisa lagi duduk sebagai RI-1 atau setidaknya RI-2.
Maka sudah mulai digadang-gadang “perjodohan” antara Partai Gerindra dan PDI-Perjuangan. Dan itu antara Pak Prabowo dan Ibu Puan Maharani.
Tampaknya ini pasangan ideal yang bisa ditampilkan pihak petahana. Pasangan yang sama-sama “darah biru” dalam perpolitikan negeri ini.
Tampaknya pasangan ini sulit digantikan dengan calon lainnya, misal Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah. Atau dipadukan dengan tokoh dari unsur lainnya.
Pasangan Prabowo-Puan, ini tampaknya hampir pasti jadi kenyataan. Sulit digoyang oleh pasangan lainnya. Maka tugas lembaga survei sekaligus konsultan politik mengangkat terus elektabilitasnya.
Bisa jadi yang akan maju dalam kontestasi Pilpres 2024 dimungkinkan hanya dua pasangan saja. Antara kubu petahana, dan kubu oposisi yang diwakili PKS dan Partai Demokrat.
Siapa lalu yang dimunculkan kubu oposisi, masih belum jelas. Tampaknya kubu oposisi hanya mendengarkan saja tabuhan yang dimainkan kubu petahana tanpa bersahutan.
Tahun 2024 masih tiga tahun lagi. Maka segala kemungkinan bisa saja terjadi. Politik masih cair. Dan menjaga “irama tabuhan” jika waktunya dimungkinkan bukan perkara mudah.
Benang Merah Bisa Dirajut
Bunyi-bunyian bisa didengar, bahkan jenis bunyinya bisa ditelusuri asalnya dari mana, dan itu suara bunyian apa.
Begitu pula kejadian politik akhir-akhir ini, mustahil berdiri sendiri. Pastilah ada musababnya.
Maka benang merah dari setiap kejadian (politik) itu bisa dianalisa taut menaut antara satu kejadian dengan kejadian lainnya.
Hingar bingar nyaris kudeta pada Partai Demokrat, itu bisa ditarik benang merahnya pada Pilpres 2024. Kok bisa demikian?
Jika kudeta itu berhasil, maka Partai Demokrat, sebagai partai oposisi akan dilebur dalam barisan pendukung pemerintah.
Dan lalu, PKS akan ditinggal sendirian sebagai partai oposisi tanpa nilai tawar. Menjadi partai tidak diperhitungkan. Oposisi ompong.
PKS tidak dapat berbuat apa-apa dalam Pilpres, karena tidak dapat mencalonkan jagoannya sebagai Capres/Cawapres.
Tampaknya model Pilkada Solo, yang memenangkan Gibran Rakabuming Raka, putra sulung Presiden Jokowi, akan dipakai sebagai model, dan itu dengan upaya kudeta.
Pada Pilkada Solo, hanya PKS yang tampil sebagai oposan tanpa mendukung calon yang ada. Sedang partai lainnya, termasuk Partai Demokrat, berkoalisi mendukung Gibran.
Lawan Gibran pada Pilkada Solo, bukan siapa-siapa, dan berasal dari rakyat biasa, ikut dari jalur independen. Cawalinya konon berprofesi sebagai penjahit, dan Cawawalinya entah berprofesi sebagai apa, konon ketua RW.
Lalu spekulasi yang muncul, bahwa rival Gibran itu rival yang diada-adakan. Menjadi tidak nyaman jika tiada lawannya, misal harus melawan bumbung kosong.
Bisa juga ditelusuri benang merah, ditolaknya revisi UU Nomor 7 Tahun 2017, tentang Pemilu, bagian dari upaya mengganjal Anies Baswedan untuk bisa mengikuti Pilgub tahun 2022.
Dengan tiadanya revisi itu, maka Anies tidak dapat lagi mengikuti Pemilihan Gubernur di tahun 2022, ia akan menganggur sampai tahun 2024. Ia akan sepi dari pemberitaan.
Segala kemungkinan dalam waktu dua tahun itu bisa dibuat, agar ekektabilitas Anies Baswedan tersungkur. Itu memang keahlian kerja lembaga survei.
Suara tabuhan akan terus terdengar sampai waktunya, begitu pula benang merah dapat dirajut dari satu kejadian ke kejadian lainnya. Dalam politik semuanya mungkin bisa terjadi.
Sayup-sayup suara dari kejauhan terdengar… terdengar dengan suara tidak terlalu jelas, terdengar Anies dan AHY akan disandingkan dalam perhelatan di 2024.
Karenanya, antisipasi perlu dilakukan, dan benang merah kejadian dalam politik, itu pun bisa dirajut, disambungkan… Sampai di sini paham? (*)
Kolumnis, tinggal di Surabaya