Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Partai Ummat, Layakkah Jadi Harapan?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 2 Oktober 2020 09:36 9:36 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 2 Oktober 2020 09:35
Bagikan
Amien Rais saat mengisi Dialog Kebangsaan Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Unismuh Makassar
Bagikan

Oleh: Imam Nawawi

 

Hidayatullah.com | PERISTIWA baru kembali mewarnai kehidupan rakyat Indonesia, kali ini terobosan dari tokoh bangsa yang juga penggerak reformasi, Amien Rais, yang baru saja mendirikan partai baru, bernama Partai Ummat.  Sebuah partai yang ditegaskan bapak Reformasi Indonesia, Profesor Dr Amien Rais membawa tekad akan bekerja dan berjuang bersama anak bangsa lainnya melawan kezaliman dan menegakkan keadilan.

Sisi yang penting diperhatikan oleh umat Islam utamanya adalah apakah kehadiran partai baru di bawah kepemimpinan Amien Rais ini layak menjadi harapan, di tengah kehidupan perpolitikan Tanah Air yang sebagian kemampuannya telah tersandera oleh kepentingan sesaat?

Menjawab itu kita butuh memperhatikan dua hal setidaknya. Pertama sosok Amien Rais itu sendiri. Kedua, sistem demokrasi di Indonesia yang mau tidak mau untuk mewujudkan sebuah perubahan struktural, mau tidak mau harus melalui jalur politik praktis, dan ini membutuhkan kendaraan berupa partai politik.

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

Pada dasarnya Amien Rais adalah sosok yang konsen dalam gerakan politik moral bahkan sampai pada puncak kepemimpinan di sebuah ormas Islam besar di negeri ini, yakni Muhammadiyah. Amien Rais berubah haluan menjadi sosok pejuang politik secara praktis kala reformasi bergulir dan ia mendirikan dan menjadi Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN)

Meski demikian dalam buku Amien Rais dari Yogya ke Bina Graha disebutkan bahwa ternyata mantan Ketua MPR itu tetap dominan menggunakan gaya memimpin Muhammadiyah, yakni tegas, lugas dan tidak suka zig-zag. Alias berani mengambil risiko.

Sangat berbeda dengan kebanyakan politisi yang selalu mencari aman, mengkalkulasi untung rugi dalam bertindak. Ini sebabnya, mengapa sosok Amien Rais skealipun telah menjadi ketua partai, tetap dipandang sebagai tokoh moral.

Namun yang tak dapat digugat, Amien Rais memang sosok pemberani, dengan maju berjuang di bidang politik bersama PAN jelas Amien Rais adalah sosok pemberani.  Pertanyaannya, mengapa di usia yang sangat senior seperti sekarang dan di tengah partai politik, utamanya partai politik Islam seakan-akan lumpuh dalam menjalankan fungsi utamanya membawa aspirasi rakyat, Amien Rais masih begitu percaya diri mendirikan partai baru?

Bisa jadi, sebagai sosok pejuang, cendekiawan, dan juga politisi, Amien Rais tak bisa berkenalan dengan kata istirahat, apalagi menarik diri dari politik, terlebih situasi bangsa Indonesia pasca Reformasi ternyata tak banyak berubah, apalagi menjadi lebih baik. Baharudin Lopa pernah berkomentar tentang dosen ilmu politik itu. “Ia – Amien Rais – sudah berhasil merobohkan. Kini, rakyat menunggu bagaimana ia membangun.”

Dalam kata yang lain, Amien Rais merasa sangat bertanggungjawab terhadap masa depan bangsa. Dan, selagi ada kesempatan berbuat, mengapa tidak, dimaksimalkan kesempatan yang ada dengan terobosan-terobosan baru, termasuk dengan ijtihad baru, kembali mendirikan partai baru, Partai Ummat. Dan, ini adalah mental seorang pejuang, dimana orientasi hidupnya dalam berkiprah bukan semata keberhasilan, tetapi yang jauh lebih penting adalah konsistensi dan semangat untuk terus berjuang. Menang kalah, berhasil tidak, itu soal belakangan.

Sekalipun secara fisik, seperti disampaikannya pada awak media CNN kala berkunjung ke kediamannya di Gandaria, Jakarta pada Mei 2018. “Saya merasa makin tua juga, makin banyak kekurangan, tak sekuat dulu, makin cepat ngantuk. Kadang-kadang baru baca buku 10 halaman sudah ngantuk Ada pemerosotan kemampuan fisik, maupun mungkin juga mental. Tapi so far so good, Alhamdulillah.”

Namun sebagaimana manusia, bukan berarti tak ada kritik untuk profesor ilmu politik itu. Sri Bintang Pamungkas dan Faizal Assegaf pernah mengkritik bahwa Amien Rais sudah melenceng dari semangat reformasi, karena dalam kapasitasnya sebagai Ketua MPR (1999-2004) terjadi empat kali amandemen UUD 1945.

Bahkan jauh, dalam benak publik mungkin juga muncul pikiran, mendirikan PAN saja tidak berhasil mengendalikan dan mencapai kekuasaan. Apalagi dengan partai yang baru ini, jangan-jangan nanti keluar lagi dan membikin partai baru lagi.

Namun, tidak bisa dipungkiri dalam system demokrasi, perubahan struktural hanya bisa dicapai melalui kendaraan bernama partai politik. Partai politik adalah lembaga yang legal dalam demokrasi yang boleh berkontestasi dan mewarnai kebijakan suatu negara.

Dengan kata lain, jika tidak ada partai politik yang dibentuk dan dijadikan harapan, semua idealisme, gagasan, dan keluhuran nilai di masyarakat tidak akan pernah benar-benar menjiwai arah kebijakan negeri ini. Oleh karena itu, kendaraan bernama partai politik tidak bisa dinafikan begitu saja.

Dalam hal ini, langkah Amien Rais sangat luar biasa, ia rela berkorban dan melangsungkan apa yang disebutnya sebagai ijtihad politik. Usia yang sangat senior tak menghalangi ia tetap melangkah optimis, bahwa sebuah gagasan besar dalam bidang politik harus tetap ditanam, walau harus dengan kembali mendirikan sebuah partai baru. Partai yang secara momentum lahir dalam keadaan luar biasa, umat Islam kehilangan figur, cenderung terintimidasi dan kerap mengalami persekusi.

Jika nama Ummat yang disandang partai Amien Rais ini benar-benar mengakomodir harapan rakyat dan umat ini, bukan tidak mungkin Partai Ummat akan memiliki idealisme dan konsistensi tinggi. Namun, hampir selalu, perjalanan partai politik di Indonesia, terutama partai politik Islam hanya merekah di awal kelahiran, lalu kehilangan keseimbangan sehingga tersandera oleh ragam logika kepentingan.

Tetapi, dengan pengalaman panjang secara teori dan praktis di lapangan politik praktis, patut diduga, kali ini Amien Rais benar-benar memiliki formula baru untuk Partai Ummat benar-benar mampu mengambil kekuasaan untuk keadilan dan kesejahteraan umat dan rakyat.

Kita tunggu, bagaimana kelanjutan perpolitikan di Tanah Air. Akankah Partai Ummat benar-benar menjadi pembeda dan benar-benar konsisten serta layak menjadi harapan. Atau kah, ini hanya sebuah siklus biasa, dimana partai baru lahir dengan semangat tinggi lalu layu karena terkooptasi kepentingan-kepentingan pribadi. Allahu a’lam.*

Penulis Ketua Pemuda Hidayatullah

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Amien RaisPANPartai Ummat
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Syirik, Kezaliman Paling Tinggi
Tulisan selanjutnya Penindasan Baru China terhadap Agama Minoritas telah Menarget 10.000 Muslim Utsul

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar

Berita
14 Juli 2026 17:00
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?