Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Kudeta Itu Primitif

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 2 Februari 2021 10:08 10:08 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 2 Februari 2021 09:50
Bagikan
Bagikan

Oleh: Ady Amar

Hidayatullah.com | Senin (1/2/2021), media terutama media online dikejutkan dengan dua peristiwa “kudeta” yang tidak boleh terjadi di alam demokrasi.

Dua peristiwa itu adalah kudeta di Myanmar, dan upaya “nyaris” kudeta pada Partai Demokrat.

Kudeta di Myanmar, yang menahan tokoh politik terkemuka Aung San Suu Kyi dan presiden Myanmar Win Myint.

Kudeta yang dilakukan militer, tentu sebuah upaya mengembalikan Myanmar pada pemerintahan diktator militer.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Sebelum ditahan, Suu Kyi, menulis sepucuk surat yang meminta rakyat untuk melawan perlakuan militer.

Suu Kyi (75 tahun), putri dari pendiri Republik Myanmar, Jenderal Aung San, muncul sebagai simbol perlawanan atas pemerintahan militer yang otoriter.

 

Kudeta Myanmar, atau kudeta di mana saja adalah tindakan primitif. Merampas hak seseorang, yang didapat dalam proses demokrasi dengan cara paksa, dan tentu inkonstitusional.

Kudeta itu tindakan primitif yang tidak boleh terjadi di alam demokrasi. Tapi itu masih terjadi di Myanmar, negeri yang “tidak rela” menjadi demokrasi sebenarnya. Militer yang kuat di sana bisa sewaktu-waktu melakukan kudeta.

Retno Marsudi, Menlu RI, lewat Twitter kemlu_RI, Senin (01/2/2021), prihatin dengan kondisi yang ada di sana.

Retno Marsudi meminta mengedepankan penggunaan prinsip-prinsip yang terkandung dalam piagam ASEAN, yang diantaranya pada komitmen hukum, kepemerintahan yang baik, prinsip demokrasi dan pemerintahan yang konstitusional.

Himbauan yang memang seharusnya dilakukan pemerintah Indonesia pada negeri sesama anggota ASEAN, dan itu pada titik tekan: pemerintahan yang baik, taat hukum dan prinsip demokrasi.

Nyaris Kudeta

Berita yang juga menggelegar yang tidak kalah dengan kudeta Myanmar, itu adalah “rencana” kudeta dalam negeri.

Berita nyaris kudeta itu disampaikan Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Dalam konferensi pers yang dibuatnya, ia mengungkap ada gerakan merebut paksa partainya, yang melibatkan pejabat di lingkungan presiden Jokowi.

AHY memaparkan informasi soal upaya “kudeta” tersebut secara gamblang, meski tidak menyebut nama pelaku secara terbuka.

“Para pimpinan dan kader Demokrat yang melapor kepada kami tersebut, merasa tidak nyaman dan bahkan menolak ketika dihubungi dan diajak untuk melakukan penggantian Ketum Partai Demokrat,” ujar nya.

Siapa pejabat di lingkaran presiden Jokowi yang disentilnya itu, lalu Andi Arief, salah satu punggawa Partai Demokrat secara terbuka menyebut satu nama, Pak Moeldoko, Kepala Staf Kepresidenan (KSP).

Wah wah wahh… itu setidaknya perasaan terkaget-kaget, perasaan untuk mengungkap kekagetan publik. Pak Moeldoko… Woi…

Kenapa mesti terkejut, bukankah mengganti kepemimpinan ketum partai, bahkan presiden sekalipun itu hal biasa. Tentu itu hal biasa jika ditempatkan pada koridor yang tepat. Jika tidak ikuti itu secara konvensi, ya itu namanya primitif.

Penggantian ketua umum sebuah partai, itu hal biasa. Boleh dilakukan dengan cara yang dibenarkan, dan lewat jalur konstitusional.

Sedang langkah yang ditempuh Pak Moeldoko, jika “tuduhan” itu benar, dengan mempengaruhi pengurus partai untuk mengadakan Kongres Luar Biasa (KLB), mengganti ketua umumnya, itu tentu hal tidak wajar. Masuk kategori primitif.

Maka AHY melayangkan surat resmi pada Presiden Jokowi, menanyakan kebenaran berita yang diterimanya, perihal rencana “kudeta” inkonstitusional itu.

Kenapa AHY mesti berkirim surat pada presiden segala, ya karena menurut kesaksian pengurus Partai Demokrat yang dibujuk itu, bahwa langkah yang diambil itu sudah mendapat “restu” pesiden Jokowi, dan menyebut juga beberapa nama Menteri dan bahkan Menko segala ikut merestui.

Ha… merestui perbuatan tidak terpuji? Maka untuk membuktikan itu semua, surat AHY itu satu keharusan dilayangkan untuk mendapat kepastian kebenarannya. Apakah presiden Jokowi lalu akan menjawab surat itu? Pastinya jika menjawab, jawabannya pun mudah ditebak.

Meski demikian, jawaban presiden Jokowi tentu dinanti. Tapi sikap AHY yang berani mengungkap “nyaris” kudeta itu patut diacungi jempol. Semua sudah dipikirkannya secara matang dan. Tahu konsekuensi dari yang “dituduhkannya” itu. Tidak asbun.

SBY Masih Hidup, Lho

Semua terheran-heran dengan dua peristiwa yang terjadi Senin kemarin. Februari 2021 diawali dengan peristiwa dan kabar tidak mengenakkan.

Tapi jujur, peristiwa Partai Demokrat yang akan “dikudeta” itu setidaknya paling mendapat pemberitaan luas. Nilai pemberitaannya lebih “menjual” ketimbang kudeta Myanmar, yang memang sudah “langganan” kudeta.

Semalam Pak Moeldoko mengadakan konferensi pers, sepertinya dadakan. Tidak dipersiapkan. Bicaranya gak keruan, tidak terstruktur. Istilah “gua”, saat menyebut dirinya. Juga agar AHY tidak “baperan”. Istilah yang jauh dari budaya keadaban, saat klarifikasi resmi dilakukan.  Mau coba rileks bicara, tapi gesturnya pun gak keruan.

Pak Moeldoko, menegaskan bahwa Pak Jokowi tidak tahu apa-apa. Jadi jangan bawa-bawa Pak Jokowi. Ini urusan Moeldoko sendiri, lebih kurang demikian ungkapnya.

Makanya itu, AHY “wajib” klarifikasi pada Presiden Jokowi, karena namanya diseret-seret, juga nama beberapa Menteri/Menko. Karenanya, langkah yang ditempuhnya itu langkah terukur.

Memakai nama Presiden, dan beberapa Menteri bahkan Menko yang katanya “merestui” langkahnya. Jika itu benar, memangnya perbuatan “primitif” itu lalu jadi sah, halal, dan dibenarkan?

Sehari sebelum AHY “teriak” ada upaya kudeta di Partai Demokrat, sang Ayah, Pak SBY yang presiden ke-6 RI, memberikan ujaran wisdom  yang dalam, dan itu tentang kepemimpinan dan pemegang kekuasaan politik.

Ditulis dalam akun Twitternya, Ahad malam (31/1/2021), “Ada 3 golongan manusia, yaitu “the good”, “the bad”, “the ugly”. Kalau tidak bisa menjadi “the good” janganlah menjadi “the ugly,” tuturnya.

Intinya, berpolitik itu dengan cara bermoral dan beradab. Itu inti pernyataannya. (Entah siapa yang disasarnya!)

Banyak yang lalu bertanya, meski cuma dalam hati. Jika “tuduhan” pada apa yang dilakukan Pak Moeldoko itu benar, kok gak sungkan ya beliau dengan Pak SBY, itu.

Bukankah perjalanan karir militernya sampai menjadi Kastaf AD, dan lalu Menjadi Panglima TNI, itu setidaknya kan ada jasa Pak SBY, dan itu di zaman saat presidennya Pak SBY.

Maka dijawab, juga dalam hati saja, Ya itu kan dulu. Sekarang presidennya kan sudah berganti. Era berganti, maka pilihan-pilihan dimungkinkan untuk melakukan apa saja. Tidak ada yang abadi, kecuali kepentingan. (*)

Kolumnis, tinggal di Surabaya

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Agus Harimurti YudhoyonoKLBKongres Luar BiasakudetaPartai Demokrat
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Tiga Kelezatan Iman
Tulisan selanjutnya Sebut Abu Gosok, Emha Ainun Nadjib Menanggapi Pernyataan Permadi Arya soal “Islam Arogan”

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

AHWA Tetapkan KH. Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU 2026–2031

Berita
31 Agustus 2026 06:08
Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
Buka Muktamar NU ke-35, Presiden Prabowo: Jangan Sekali-Kali Lupakan Jasa Ulama
Mayat Hanyut Hingga ke India, Korban Jiwa Banjir Nepal-China 750 dan >3.000 Orang Hilang
Bahtsul Masail Qanuniyah Muktamar ke-35 NU akan Bahas RUU Perampasan Aset

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?