Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Bersih-bersih KPK dari Kaum Taliban

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 5 Mei 2021 09:49 9:49 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 5 Mei 2021 06:50
Bagikan
pegawai KPK
Bagikan

oleh: Ady Amar

Hidayatullah.com | INI bukan Taliban di Afghanistan, sebuah gerakan Islam Sunni garda depan yang dianggap puritan. Ini tentang sekelompok mereka yang bekerja di KPK, dan mendapat julukan Taliban. Lebih pada julukan olok-olok, karena penampilan Novel Baswedan dengan jenggotnya yang terurai cukup lebat.

Orang mengatakan, apa jadinya jika KPK tanpa kelompok yang disebut taliban itu. Siapa pencetus julukan “taliban”, itu kurang jelas siapa pemulanya, atau siapa yang memulai mempopulerkan sebuah faksi KPK bernama taliban. Tapi yang jelas itu julukan “menyesatkan”, dan tampaknya diniatkan dikonotasikan negatif.

Kaum taliban dikonotasikan pada Penyidik Senior KPK, khususnya Novel Baswedan dan mereka yang bekerja di sana dengan integritas tinggi. Bekerja sepenuh hati dalam “menghajar” koruptor tanpa ampun. Menjadi aneh kalau lalu integritas mereka itu dikecilkan dengan sebutan sinis taliban.

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi
Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

Bubarkan Saja KPK

Tidak bisa dihitung betapa jasa “kelompok taliban” itu buat KPK. Maka pertanyaan, akan jadi apa KPK tanpa mereka, itu jadi relevan  ditanyakan. Tanpa mereka, yang menurut kabar yang hampir pasti, mereka akan terusir dari KPK. Ada sekitar 75 pegawai KPK yang berintegritas, termasuk penyidik, yang dinyatakan gagal dalam tes wawasan kebangsaan (TWK), termasuk Novel Baswedan.

TWK itu tampaknya upaya akal-akalan untuk menyingkirkan “kaum taliban”. TWK ini memang bagian dari alih status pegawai KPK menjadi Aparat Sipil Negara (ASN), yang diatur dalam Undang-undang Komisi Pemberantasan Korupsi (UU KPK).

 

“Tes ini upaya untuk menyingkirkan pegawai independen, diantaranya penyidik dan penyelidik yang diangkat oleh KPK,” ujar Novel saat ditanya Tempo.co soal pemecatannya.

Segala cara untuk melemahkan KPK dilakukan, dan Undang-undang KPK hasil revisi 2019 itu biang keroknya. Maka janganlah berharap dari lembaga anti rasuah itu. Pantaslah dengan kekecewaannya, Zainal Arifin Mochtar, pakar hukum Tata Negara UGM, mengatakan, “Bubarkan saja KPK.”

Juga mantan Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto pun geram melihat KPK yang sedang dilemahkan. Begini katanya, “Pembusukan di KPK makin degil dan bengis. Insan terbaik di KPK tengah disingkirkan. Mereka yang menegakkan marwah KPK dihabisi. Padahal ada belasan kasus mega korupsi yang sedang diperiksa mereka…,” ujarnya.

Revisi Undang-undang KPK awal pintu masuk melemahkan, dan menjadikan mereka ASN. Maka pegawai yang direkrut secara independen tidak ada lagi. Maka, TWK itulah alat menjegal kelompok taliban dari KPK. Pemecatan dengan dalih tidak lulus tes.

Sholat Pakai Qunut atau Tidak

Materi TWK banyak yang gak nyambung dengan substansi pada pekerjaan mereka di lembaga anti rasuah. Menjadi aneh saat yang ditanyakan adalah pandangan mereka tentang Habib Rizieq Shihab (HRS), FPI, HTI, bahkan kalau sholat shubuh pakai qunut atau tidak.

Dan buzzer Denny Siregar yang sok tahu itu mengatakan, bahwa dia dapat bocoran, mereka yang tidak lulus TWK, itu jatuh pada soal HRS. Katanya, ternyata mereka masih banyak yang suka HRS.

Lalu, pertanyaan yang menyasar khilafiyah dalam keberagamaan, berkenaan dengan sholat shubuh pakai qunut atau tidak. Apa Badan Kepegawaian Nasional (BKN) itu punya parameter, jika sholat pakai qunut itu Islam moderat. Dan itu diwakili Omas Islam NU. Sedang yang tidak pakai qunut itu radikal? Tahu tidak kalau ubudiyahnya HRS itu memakai qunut, sama dengan NU. Lalu apa bisa disimpulkan, bahwa HRS itu moderat. BKN masuk pada wilayah sensitif yang sepertinya diskenariokan. Upaya mendikotomikan muslim dilihat dari pakai dan tidak pakai qunut.

TWK yang dilakukan BKN, ini mengingatkan lembaga sejenis di era Orde Baru, Litsus, guna menyelidiki seseorang berfaham komunis atau tidak. Jadi FPI di era rezim Jokowi ini coba disamakan dengan PKI, yang sama-sama terlarang. Dan apa Habib Rizieq Shihab juga diperhadapkan dengan DN Aidit. Apa skenarionya akan dimainkan ke sana?

Ada lagi yang absurd, dimana Ketua KPK mengatakan, bahwa dokumen dari BKN belum dibukanya, masih tersegel rapi. Tapi orang diluaran sudah tahu siapa yang tersingkir dari KPK. Lantas untuk apa dokumen itu tidak dibukanya, apa menunggu respons masyarakat anti korupsi dulu.

Maka pertanyaan, bagaimana KPK tanpa “kelompok taliban”, itu memang belum bisa dijawab dengan tepat. Tapi setidaknya pastilah KPK sulit bisa memperoleh kepercayaan dari masyarakat. Kalau begitu untuk apa dipertahankan lembaga anti rasuah itu, bubarkan saja KPK. (*)

Kolumnis, tinggal di Surabaya

Baca Opini Ady Amar lainnya

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:KPKNovel BaswedanQunut
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Keputusan Pemerintah yang Cenderung Islamofobia Buat Muslim Prancis Khawatir
Tulisan selanjutnya pembatasan Covid 19 Pemerintah Memperluas Pembatasan Kegiatan Masyarakat Hingga 30 Provinsi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Feature

Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”

Feature
13 Juli 2026 06:38
Korban di Gaza Capai 73.223, Barghouthi: Penjajah Jalankan Perang Pembersihan Etnis
Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Opini

Dampak Genosida Gaza, Ekspor Produk Pertanian ‘Israel’ Terancam Kolaps

22 Januari 2026 07:40
Opini

Zohran Mamdani, Venezuela, dan Ingatan Panjang Kekerasan Amerika

5 Januari 2026 11:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?