Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

Pentingnya Mengawal Sikap Tegas MUI [2]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 19 Oktober 2016 12:57 12:57 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 19 Oktober 2016 12:57
Bagikan
[Ilustrasi] KH Ma'ruf Amin (dua dari kanan) dan jajarannya di kantor MUI Pusat, Jakarta.
Bagikan

Sambungan artikel PERTAMA

 

Oleh: Qosim Nurseha Zulhadi

 

Fatwa MUI mengenai pelecehan Gubernur DKI ayat Al-Quran QS.5:51 yang sangat “menyengat” orang-orang yang tak suka kepada MUI dan ulama’ memang sangat tepat waktunya. Selain pada tahun 2005 fatwa yang sangat “mengigit” juga pernah keluar mengenai ‘haramnya’ Sekularisme, Pluralisme, dan Liberalisme (SePILIS). Kedua fatwa ini ternyata banyak diserang oleh kaum liberal dan anti-MUI. Sampai-sampai ada yang menyebut MUI “tolol” – konon namanya Ulil Abshar Abdalla, salah seorang aktivis JIL. Namun kemudian dia mencabut pernyataannya. Karena dalam fatwanya MUI mengharamkan Ahmadiyah. Menurut Ulil argumen fatwa MUI konyol, tidak masuk akal, dan tolol. (lihat: www.news.detik.com, “Ulil Cabut Pernyataan MUI Tolol”, Jum’at, 5/8/2015).

Baca Juga

Maulid Nabi dan Kritik Agus Salim: Mengapa Kita Tertinggal dari Barat?
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan

Nah, sikap dan fatwa MUI kali ini pun demikian: dicela, diserang, bahkan opini digalang untuk melakukan delegitimasi MUI. Ini tentu harus dilawan. Caranya adalah dengan mengawal dan membawa fatwa yang sangat tegas dan argumentatif itu.

Nah, ketika sikap MUI sudah diambil dan disampaikan ke tengah-tengah ummat Islam, apa yang harus kita kerjakan? Jawabannya: seluruh elemen ummat dan kekuatan mereka harus difokuskan kepada sikap dan keputusan MUI ini. Karena mereka adalah rujukan hukum agama yang sah dan legal di Indonesia. Sikap mereka harus didukung, dikuatkan, dan dikawal. Mengapa harus dikawal?

Jangan Cela Pewaris Nabi [2]

Karena sejak sikap itu dikeluarkan, suara-suara sumbang dari kalangan SePILIS (Sekularis, Pluralis, dan Liberalis) hampir setiap saat menyerang sikap ini. Tuduhan kepada MUI pun macam-macam. Ada yang mengatakan kemunduran. Ada juga yang mengatakan akan memecah-belah kebangsaan. Bahkan ada yang mengatakan itu sebagai anti-Pancasila. Bahkan, sudah ada kelompok yang menggalang petisi untuk bubarkan MUI.

Sejatinya, orang-orang yang besuara sumbang itu adalah minoritas: tidak banyak. Tapi karena disebarkan lewat media – apalagi medos – maka dapat menyebar secara massif. Dan tidak semua mereka juga paham apa itu Bhinneka Tunggal Ika. Apa maksud dari Pancasila pun kebanyakan mereka sepertinya tak mendalami. Belum lagi tentang silanya: mengapa harus Ketuhanan yang Maha Esa (bukankah ini Tauhid?); Kemanusiaan yang Adil dan Beradab (bukan kata “adil” dan “adab” adalah konsepsi Islam?); Persatuan Indonesia (tidakkah ini mencerminkan hebatnya ukhuwwah wathaniyyah kita?); Kemanusiaan yang Dipimpin oleh hikmat kebijaksaaan dalam permusyawaratan perwakilan (bukan kata “hikmah”, “musyawarah”, dan “wakil” adalah murni konsep Al-Quran?); dan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia (bukankah ini konsep ‘sosialisme’ Islam, yang pernah dijelaskan oleh Sayyid Quthb, Syekh Musthafa as-Siba’i bahkan oleh Buya Hamka?).

Kita sebagai Muslim sudahkah memahami bahwa Pancasila itu sangat Islami? Kalau demikian, yang paham Pancasila sebenarnya siapa? Yang konsisten dan konsekuen membela bangsa ini berikut pilar-pilarnya sejatinya siapa kalau bukan Muslim? Mari kita lihat daftar dan deretan nama-nama Pahlawan Nasional: siapa mereka semuanya? Mereka adalah para ulama’. Lalu mengapa sekarang banyak orang menuduh sikap ummat Islam yang menuntut keadilan di tengah-tengah kehidupan sosial mereka dituduh rasis? Dituduh akan pecah-belah keutuhan NKRI dan lain sebagainya.

Jangan-jangan memang benar adalah orang-orang yang sedang memancing kemarahan ummat Islam. Ketika mereka terpancing dan marah, mereka pun serentak ngomong: “Benar bukan, ummat Islam adalah rasis, pemarah, radikal, kasar, dan merusak keutuhan bangsa!”

Bukan kasus sederhana sudah mulai puncul pasca Aksi Damai pada Jum’at (14/10/2016) lalu? Konon katanya taman bunga di Balai Kota rusak. Kemudian mulai cari-cari alasan bahwa itu ulah para demonstran yang tuntun Ahok untuk diadili secara adil lewat jalur hukum. Tapi marilah kita bandingkan kerusakan pada Jum’at yang lalu – jika benar itu ada – dengan beberapa kerusakan hebat dan lebih besar berikut:

  1. Usai pelantikan Jokowi-Ahok, Taman DPRD DKI Rusak dan Penuh sampah (2012);
  2. Malam Tahun Baru di Jakarta Sisakan 700 Ton Sampah;
  3. Tanggungjawab Siapa Sampah Pelantikan Jokowi-JK? (2014);
  4. Taman Monas Rusak, Ahok tak Minta Pertanggungjawaban Jokowi (2014);
  5. Sampai pesata Pelantikan Jokowi Diprediksi capai 100 Ton; dan
  6. JNF (Jakarta Night Festival) dan Jakarnaval Sisakan sampai 24 Ton.

Marilah kita jujur pada diri sendiri, agar bisa jujur kepada orang lain. Bersikap adillah, kata Allah, karena sikap adil itu membawa kepada ketakwaan (Qs. 5: 8). Maka, sekali lagi, apa yang disampaikan oleh MUI mengenai penghinaan terhadap Qs. 5: 51 sudah tepat, final, dan mengikat sikap ummat. Maka tugas ummat ini untuk mengawalnya. Jangan sampai kita dilemahkan oleh orang-orang yang tak suka kepada ketegasan MUI dan para ulama’ kita yang sangat kita cintai. Sungguh tidak sopan jika kita (yang ilmunya terbatas) mencela MUI dan membela orang yang jelas-jelas menghina dan menista Al-Quran dan agama kita. Ini namanya dungu, bahlul, bahkan bisa disebut hipokrit alias munafiq. Wallahu Aʻlam bis-Shawab.*

Penulis adalah Pengasuh di Pondok Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah, Medan. Penulis buku “Membongkar Kedok Liberalisme di Indonesia” (2012) dan “Jejak Sofisme dalam Liberalisasi Pemikiran di Indonesia” (2016)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ahli ilmuahokahok menghina alquranBasuki Tjahaja PurnamaFatwa MUIkedudukan ulamaMajelis Ulama IndonesiaPernitaan Agamapewaris nabiulama
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Mustafa Nashwan : Sidang Mavi Marmara Lebih Penting Daripada Pemakaman Keluarganya
Tulisan selanjutnya Dunia Hanya Diberikan Empat Orang

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia

Berita
1 September 2026 12:00
Buka Muktamar NU ke-35, Presiden Prabowo: Jangan Sekali-Kali Lupakan Jasa Ulama
Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika
10 Ribu Porsi Bakso untuk Ukhuwah di Muktamar NU
Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing

Terbaru

  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
  • PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
  • Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
  • Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
  • DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
  • Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

5 Januari 2023 14:30
ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?