Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
ArtikelTsaqafah

Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri

Mahmud
Terakhir diupdate: 22 Maret 2026 21:19 9:19 pm
Mahmud
Dipublikasikan 22 Maret 2026 13:00
Bagikan
Bagikan

Memahami tafsir salaf saleh terkait kata “Ulil Amri” dari berbagai literatur klasik Islam, membuat cakrawala pengetahuan umat semakin luas. Ada yang memaknainya sebagai penguasa, ulama; bahkan yang mencoba mengharmonikan keduanya. Semuanya –apapun tafsirnya– bermuara pada titik sentral: yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Hidayatullah.com | DALAM literatur Islam klasik, istilah Ulil Amri yang termaktub dalam Surah An-Nisa ayat 59 merupakan salah satu pilar utama dalam membangun struktur ketaatan masyarakat Muslim. Perintah Allah SWT sangat jelas:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, serta Ulil Amri di antara kamu.” Persoalannya, siapakah sebenarnya yang dimaksud dengan pemegang otoritas tersebut?

Untuk menjawabnya, kita tidak bisa lepas dari penjelasan para Salaf Saleh −generasi sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in− yang merupakan generasi terbaik setelah Rasulullah.

Baca Juga

Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Khalwat Digital, Fenomena Pacaran Era Media Sosial
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
Di Bawah Teduh Tauhid Rahamutiyah: Sebuah Obituari

Bila ditinjau dari buku “Mausū’ah al-Tafsīr al-Ma’tsūr” (2017: 515-518), kita akan menemukan fakta bahwa interpretasi mereka terhadap “Ulil Amri” tidaklah tunggal, melainkan mencakup spektrum yang luas antara otoritas politik dan otoritas ilmu.

Dua Arus Utama Penafsiran Kata Ulil Amri

Secara garis besar, penafsiran Salaf Saleh mengenai Ulil Amri terbagi menjadi dua pandangan utama yang saling melengkapi:

Pertama,  Ulil Amri sebagai Umara (Pemimpin Politik dan Militer). Pandangan pertama menitikberatkan pada pemegang kekuasaan eksekutif. Abu Hurairah RA, sebagaimana diriwayatkan melalui jalur Al-A’masy, menegaskan bahwa Ulil Amri adalah para pemimpin (umara).

Secara lebih spesifik, sahabat Abdullah bin Abbas RA dan tabiin seperti As-Suddi serta Maimun bin Mihran menyebutkan bahwa mereka adalah para komandan pasukan (umarā as-saraya).

Konteks ini sangat relevan pada masa awal Islam, di mana ketaatan kepada komandan di medan perang merupakan kunci stabilitas dan kemenangan dakwah. Dalam pandangan ini, Ulil Amri adalah mereka yang mengatur urusan publik, keamanan, dan ketertiban masyarakat.

Kedua, Ulil Amri sebagai Ulama (Ahli Ilmu dan Fikih). Pandangan kedua, yang juga memiliki akar kuat di kalangan sahabat, mengartikan Ulil Amri sebagai ahli ilmu dan fikih. Abdullah bin Abbas RA dalam riwayat lain (jalur Said bin Jubair dan Ali bin Abi Thalhah) menegaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang memahami agama dan mendalam pemahaman fikihnya.

Riwayat dari Ali bin Abi Thalhah memberikan deskripsi yang sangat indah:

أَهْلُ الْفِقْهِ وَالدِّينِ، وَأَهْلُ طَاعَةِ اللهِ الَّذِينَ يُعَلِّمُونَ النَّاسَ مَعَانِيَ دِينِهِمْ، وَيَأْمُرُونَهُمْ بِالْمَعْرُوفِ، وَيَنْهَوْنَهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ، فَأَوْجَبَ اللهُ طَاعَتَهُمْ عَلَى الْعِبَادِ

“Mereka adalah ahli fikih dan agama, ahli ketaatan kepada Allah yang mengajarkan manusia makna-makna agama mereka, memerintahkan yang makruf, dan mencegah yang munkar. Maka Allah mewajibkan hamba taat kepada mereka.”

Pandangan ini didukung oleh banyak tokoh besar lainnya seperti Jabir bin Abdullah, Hasan bin Muhammad bin Ali, Ibrahim An-Nakha’i, Qatadah, dan Atha’ bin Abi Rabah. Abu Al-Aliyah Ar-Riyahi bahkan memberikan argumentasi tekstual dengan menghubungkannya ke Surah An-Nisa ayat 83, yang menyebutkan bahwa urusan yang rumit seharusnya dikembalikan kepada Rasul dan Ulil Amri agar bisa di-istinbath (digali hukumnya) oleh para ahli.

Integrasi Makna: Antara Kekuasaan dan Kebenaran

Jika kita melihat keberagaman riwayat tersebut, muncul pertanyaan: Mana yang paling tepat? Para ulama tafsir kemudian menyatukan kedua pandangan ini. Ulil Amri bukanlah sosok tunggal, melainkan sebuah kolektivitas otoritas yang menjaga kemaslahatan umat.

Makhul Asy-Syami memberikan sudut pandang menarik dengan menghubungkan ayat Ulil Amri dengan ayat sebelumnya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…” (QS. An-Nisa [4]: 58). Ini menunjukkan bahwa Ulil Amri adalah siapa saja yang memegang “amanah” umat, baik itu amanah kekuasaan maupun amanah ilmu.

Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam “A’lām al-Muwaqqi’īn”, I/15-16) setelah menyebut surah An-Nisa ayat 58, beliau memberikan catatan menarik. Ketaatan kepada penguasa tidaklah mutlak, melainkan bergantung pada sejauh mana mereka memerintahkan sesuai dengan ilmu. Artinya, ketaatan kepada penguasa hanyalah cabang dari ketaatan kepada para ulama, dan ketaatan kepada ulama sendiri adalah cabang dari ketaatan kepada Rasulullah SAW. Maka, yang ditaati sejatinya adalah kebenaran yang dibawa oleh wahyu, sementara penguasa dan ulama hanyalah perantara untuk menegakkan kebenaran itu.

Beliau juga menegaskan bahwa Islam tegak dengan dua kelompok utama: ulama dan umara (penguasa). Masyarakat secara umum mengikuti keduanya. Jika ulama dan penguasa baik, maka masyarakat pun akan baik; sebaliknya, jika keduanya rusak, maka masyarakat ikut rusak. Inilah yang ditegaskan oleh Abdullah bin al-Mubarak dan para salaf: ada dua golongan manusia, bila mereka baik maka manusia seluruhnya baik, bila mereka rusak maka manusia seluruhnya rusak, yaitu raja dan ulama.

Karakteristik Ulil Amri Menurut Salaf

Berdasarkan riwayat-riwayat dalam “Tafsir al-Ma’tsur”, kita dapat menyimpulkan karakteristik Ulil Amri yang dikehendaki oleh para Salaf:

Pertama, Kualitas Intelektual dan Spiritual. Hasan bin Muhammad bin Ali menyebutkan mereka memiliki Al-Aql (akal yang sehat) dan Ar-Ra’yu (pertimbangan yang matang). Mereka bukan sekadar pemegang jabatan, tapi orang yang memiliki kedalaman hikmah.

Kedua, Kesalehan Sosial. Mereka adalah orang-orang yang “mengajarkan manusia makna agama” dan aktif dalam amar ma’ruf nahi munkar.

Ketiga, Kontinuitas Sejarah. Atha’ bin Abi Rabah bahkan menyebut Ulil Amri mencakup para Muhajirin, Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik (Tabiin). Ini menunjukkan bahwa standar otoritas harus merujuk pada pemahaman generasi awal yang lurus.

Relevansi dengan Masa Kini

Di era ini, memahami tafsir Salaf tentang Ulil Amri sangat krusial untuk menghindari dua ekstrem: sikap ekstrem menolak semua otoritas (anarkisme atau paham khawarij) atau sikap ekstrem ketaatan buta kepada pemimpin yang zalim.

Dengan memahami bahwa Ulil Amri juga mencakup para ulama, masyarakat diingatkan bahwa ketaatan kepada otoritas politik selalu dibatasi oleh koridor syariat. Sebagaimana catatan dari Ibnu Athiyyah, “Perkara” (Al-Amr) dalam kata Ulil Amri merujuk pada urusan syariat dan Al-Qur’an. Maka, siapa pun yang memegang otoritas tersebut wajib tunduk pada sumber hukum yang sama.

Berdasarkan tafsir yang dikemukakan para salaf saleh tadi, didapatkan Kesimpulan bahwa struktur sosial Islam berdiri di atas dua pilar utama: Umara yang menjaga ketertiban dan  Ulama yang menjaga kebenaran. Ulil Amri adalah mereka yang dengan ilmunya menuntun umat dan dengan kekuasaannya melindungi umat. Ketaatan kepada mereka bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk mencapai ketaatan yang sempurna kepada Allah dan Rasul-Nya. (MBS)

Redaktur: Mahmud
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Headlinesalaf salehulil amri
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kisah Jenaka Hari Raya (2) : Lebaran Berbagi Makanan
Tulisan selanjutnya Mimpi Buruk Zionis, Serangan Iran ke Israel Lukai 100 Orang Lebih

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Mossad
Berita

Turki Tangkap 209 Orang di Ankara Jelang KTT NATO

Berita
23 Juni 2026 21:41
MUI Siapkan Naskah Akademik dan RUU Pidana LGBT, Akan Didorong Masuk Prolegnas
Ledakan di Fasilitas Gas Terbesar Qatar Merenggut 13 Nyawa
Seorang Pemimpin ISIS Terbunuh Dalam Serangan Amerika di Suriah
Prancis Umumkan Kasus Pertama Ebola di Wilayahnya

Terbaru

  • MUI Siapkan Naskah Akademik dan RUU Pidana LGBT, Akan Didorong Masuk Prolegnas
  • Zionis ‘Israel’ Habiskan Hampir Rp3.673 Triliun untuk Perang sejak 7 Oktober
  • Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu
  • Jadi Target, Koresponden Al Arabiya Tewas di Mukalla Yaman
  • Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
  • Amerika Serikat Kembali Buka Kedutaannya di Kuwait Usai Serangan Iran
  • Tujuh Negara Eropa Menyeru RSF untuk Menghentikan Segera Kekerasan di Sudan
  • Prancis Umumkan Kasus Pertama Ebola di Wilayahnya
  • Italia Geram Sekjen NATO Ungkap Perannya Bantu Amerika dalam Perang Iran
  • Seorang Pemimpin ISIS Terbunuh Dalam Serangan Amerika di Suriah

Mungkin Anda Juga Suka

Artikel

Tragedi San Diego & Hipokrisi Barat

20 Mei 2026 15:30
Artikel

Tolak Penyembelihan Dam Haji di Indonesia, Begini Fatwa MUI

14 Mei 2026 05:00
Artikel

Mengelola Ikhtilaf: Menjaga Ukhuwah di Tengah Perbedaan

13 Mei 2026 11:22
BeritaGhazwul Fikr

SPI: Feminisme Hanya Melestarikan Konflik!

6 Mei 2026 12:55
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?