Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
ArtikelTsaqafah

Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa

Mahmud
Terakhir diupdate: 23 Maret 2026 20:00 8:00 pm
Mahmud
Dipublikasikan 23 Maret 2026 20:00
Bagikan
Buya Hamka
Bagikan

Hari Raya bukan sekadar soal baju baru atau makanan enak, melainkan soal cermin kekuatan batin. Kekuatan untuk berbagi, kekuatan untuk saling memaafkan (Halal bil Halal), dan kekuatan untuk tetap bangga pada identitas sebagai bangsa yang beriman sekaligus merdeka.

Hidayatullah.com | DALAM sejarah panjang kebudayaan Indonesia, Hari Raya Idul Fitri bukan sekadar penanda berakhirnya bulan suci Ramadhan, melainkan sebuah fenomena sosiologis yang sangat dalam maknanya.

Dalam esainya yang bertajuk “Puasa dan Hari Raja” yang dimuat dalam Majalah Hikmah No. 16-17 edisi Syawal 1375 H (1956 M), Buya Hamka membedah bagaimana hari besar ini telah bertransformasi menjadi “Hari Raja Nasional (Hari Raya Nasional)”.

Bagi Hamka, Lebaran adalah puncak di mana kekuatan batin sebuah bangsa diperlihatkan melalui kegembiraan yang meluap, solidaritas sosial, dan pengukuhan identitas keislaman dalam balutan keindonesiaan.

Hamka mencatat dengan jeli bagaimana Idul Fitri telah masuk ke dalam “inti kebudayaan seluruh bangsa-bangsa Indonesia.” Dalam perspektif beliau, Hari Raya adalah pusat gravitasi dari segala hajat hidup masyarakat. Segala rencana besar, mulai dari janji-janji perkawinan, mendirikan rumah, hingga mengkhitankan anak, hampir selalu dijadwalkan tepat setelah “hari raja” tiba.

Baca Juga

Transformasi Ekonomi Pesisir Berbasis Syariah: Dari Diversifikasi Olahan Bandeng hingga Hilirisasi Produk melalui Marketplace
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
SPI: Membenturkan Islam dengan Budaya Nusantara itu Absurd!
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Membangun Integritas di Tengah Budaya Manipulasi
Esai Buya Hamka berjudul “Puasa dan Hari Raja” di Majalah Hikmah 1956

Beliau memberikan gambaran historis yang menarik tentang pergeseran cara merayakan kemenangan ini. Pada zaman feodal dahulu, Idul Fitri adalah momen di mana kekuasaan raja-raja dan bupati diperlihatkan melalui upacara sembah bakti. Raja-raja Melayu akan diiringi dengan penuh kebesaran di bawah payung kuning menuju masjid. Namun, di zaman merdeka yang dihadapi Hamka saat itu, wajah Hari Raya berubah menjadi lebih egaliter dan nasionalis.

Di Ibu Kota, Lebaran berubah menjadi panggung kebangsaan di mana Presiden, Wakil Presiden, dan para menteri berkumpul bersama rakyat di tanah lapang. Kehadiran para Duta Besar dari berbagai negeri Islam dengan pakaian kebesaran mereka −seperti jubah dan serban simpanan− memberikan kesan bahwa Lebaran adalah momentum diplomasi sekaligus pengakuan internasional atas identitas Indonesia yang berakar kuat pada nilai-nilai Islam. Inilah yang disebut Hamka sebagai “Hari Raja Kekajaan Nasional (Hari Raya Kekayaan Nasional)”.

Solidaritas Sosial dan Keadilan di Kampung-Kampung

Bagi Hamka, kekuatan batin bangsa saat Hari Raya juga tercermin dari bagaimana masyarakat memperlakukan sesamanya, terutama mereka yang kurang beruntung. Beliau melukiskan suasana di kampung-kampung, mulai dari Minangkabau, Tapanuli, hingga Sumatera Selatan, di mana persiapan Hari Raya dilakukan dengan semangat gotong royong yang luar biasa.

Salah satu tradisi yang paling menonjol adalah “membantai” sapi atau kerbau menurut adat. Hamka menceritakan bagaimana puluhan orang bersatu membeli ternak, menyembelihnya, dan membaginya menjadi “umpuk-umpuk” atau tumpukan daging yang adil. Di sini, keadilan sosial bukan sekadar teori politik, melainkan praktik nyata. Hamka menekankan bahwa dalam momen ini, setiap orang mendapatkan bagian yang sama, termasuk hati dan limpa, sehingga kegembiraan makan daging di hari lebaran tidak hanya milik si kaya.

Majalah Hikmah Edisi Syawal 1375 H (1956 M)

Zakat fitrah dan zakat mal dari para pengusaha menjadi instrumen pendukung yang memastikan bahwa faqir miskin tidak sekadar menjadi penonton di hari kemenangan. Bagi Hamka, kesibukan menjahit pakaian baru dan mengatur berbagai macam juadah di atas meja bukan sekadar pamer kemewahan, melainkan bentuk penghormatan terhadap tamu dan perayaan atas kebersamaan yang tulus.

Di sisi lain, sebagai ulama yang kritis, Hamka juga tidak menutup mata terhadap pergeseran nilai di perkotaan yang dianggapnya sebagai tantangan moral. Beliau memotret gaya hidup modern tahun 1950-an di mana malam lebaran dihiasi dengan kembang api, musik mambo, bolero, hingga dansa. Hamka menyentil fenomena peredaran minuman keras yang digunakan untuk “memanaskan badan” sebagai bentuk penghormatan hari raya yang menyimpang.

Di sini muncul perdebatan menarik yang dicatat Hamka antara mereka yang taat dan mereka yang “fasik.” Ada kelompok yang mengeluh karena merasa kesucian Hari Raya dikotori oleh orang-orang yang bahkan tidak ikut berpuasa namun ikut berpesta. Namun, Hamka justru menampilkan sisi kearifan yang luar biasa melalui jawaban seorang kawannya yang berlapang dada.

Beliau menyimpulkan bahwa meluapnya kegembiraan seluruh bangsa −terlepas dari cara mereka yang mungkin belum sempurna secara agama− adalah “alamat kemenangan Islam atas kebudayaan bangsa kita.”

Hamka melihat bahwa secara budaya, Islam telah menang telak di Indonesia karena mampu membuat seluruh rakyat merasa memiliki Hari Raya ini. Kegembiraan mereka, dengan caranya sendiri, tidak akan mengurangi kemurnian ruhani bagi mereka yang benar-benar berpuasa.

Hari Raya sebagai Penjaga Ingatan Sejarah

Terakhir, Hamka menegaskan bahwa Hari Raya adalah penjaga memori kolektif bangsa. Beliau sangat menekankan kaitan batin antara Idul Fitri dan Proklamasi Kemerdekaan. Baginya, kegembiraan Lebaran adalah energi yang sama yang digunakan rakyat untuk mempertahankan Republik dari serangan penjajah.

Melalui esai ini, Hamka mengajak kita melihat bahwa Hari Raya bukan sekadar soal baju baru atau makanan enak, melainkan soal cermin kekuatan batin. Kekuatan untuk berbagi, kekuatan untuk saling memaafkan (Halal bil Halal), dan kekuatan untuk tetap bangga pada identitas sebagai bangsa yang beriman sekaligus merdeka.

Bagi Hamka, Idul Fitri adalah ruang di mana perbedaan strata sosial, mulai dari “si Amat” di lorong becek hingga Presiden di tanah lapang, melebur dalam satu perasaan syukur yang sama. Sebuah kemenangan kebudayaan yang memastikan bahwa nilai-nilai Islam akan terus menjadi napas bagi kehidupan berbangsa di Indonesia. (MBS)

Redaktur: Mahmud
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:bangsaBuya Hamkahari rayaHeadlineIdul fitri
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kisah Jenaka Hari Raya (3): Jamuan Lebaran dan Hadiah dari Penguasa
Tulisan selanjutnya Kisah Jenaka Hari Raya (4) : Lebaran, Menjilat Sultan, dan Urusan Kavling Surga

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Tiga Negara Muslim Bersatu, Serangan ke Satu Negara Dianggap Serangan ke Semua
Berita

Tiga Negara Muslim Bersatu, Serangan ke Satu Negara Dianggap Serangan ke Semua

Berita
8 Agustus 2026 05:00
‘Israel’ Kembali Langgar Gencatan Senjata, Bunuh Kepala Polisi Gaza
Tangkap Dua Pelaku Promosi Miras Pakai Ayat Al-Quran, Polisi: Masih Kami Periksa
Hari Literasi Muhammadiyah, Pers Didorong Jadi Penguat Demokrasi dan Ekosistem Ilmu Pengetahuan
Kecam Pengakuan Kolombia atas Kedaulatan ‘Israel’ di Golan, Oman: Melanggar Hukum Internasional

Terbaru

  • ‘Israel’ Kembali Langgar Gencatan Senjata, Bunuh Kepala Polisi Gaza
  • Lima Strategi PBNU untuk Wujudkan Pesantren Aman
  • RMI PBNU: Jangan Tutup-tutupi Kekerasan di Pesantren
  • Bertemu Pimpinan US CENTCOM, PM Ali al-Zaidi Tegaskan Komitmen Mengakhiri Kehadiran Militer Amerika di Iraq
  • Muhammadiyah Dorong Media AfiliasiMu Terhubung dalam Satu Ekosistem Digital
  • Jambore Media Afiliasi Muhammadiyah, Dorong Media Tetap Cepat, Akurat dan Harus Benar di Era Digital
  • CDCC Siapkan Persidangan Kedua MCM Malindo, Bahas Konsep Negara Madani
  • Hari Literasi Muhammadiyah, Pers Didorong Jadi Penguat Demokrasi dan Ekosistem Ilmu Pengetahuan
  • Kasus Pilot Bawa 26 Kg Ekstasi, Malaysia Kirim Tim Investigasi ke Indonesia
  • Serangan Misil Houthi Tewaskan 3 ABK Kapal Komersial di Selat Bab al-Mandeb, Satu Korban WN Indonesia

Mungkin Anda Juga Suka

Artikel

Menghidupkan Kembali Budaya Membaca di Kalangan Umat Islam

1 Agustus 2026 11:24
Pustaka

Al-Rushafi dan Catatan Kritis Seputar Sirah Nabi Muhammad

31 Juli 2026 20:21
Menjaga Warisan Ulama di Era Disrupsi Informasi
Artikel

Menjaga Warisan Ulama di Era Disrupsi Informasi

24 Juli 2026 16:00
Artikel

Pena Muballigh Menentukan Masa Depan Peradaban Islam

21 Juli 2026 07:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?