Oleh: Khoirun Nisak
KETELADANAN kepemimpinan hari ini terasa kering dan kehilangan makna. Hampir di setiap sendi kehidupan, kita tidak lagi mampu menemukan sosok pemimpin yang pantas dicontoh dan dikagumi.
Bila berbicara tentang sosok pemimpin masa kini, maka yang akan muncul di benak adalah mereka yang berada di pucuk tertinggi lembaga pemerintahan namun terjerat kasus korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, berlaku sewenang-wenang terhadap rakyat, dan hal-hal sejenis yang seharusnya tidak melekat kepada sosok seorang pemimpin.
Maka sangat tepat bila di tengah kegersangan keteladanan ini, kita kembali menengok ke belakang, mengambil saripati kepemimpinan dan kearifan dari para founding fathers negeri ini. Pemimpin masa depan harus tahu bagaimana penopang Republik ini memimpin dan melayani rakyat dengan sepenuh cinta hingga namanya tetap dikenang dengan penuh kebanggaan hingga masa kini. Salah satu pemimpin dan negarawan besar yang menjadi ujung tombak negeri ini adalah Mohammad Natsir.
Artawijaya dalam bukunya “Belajar dari Partai Masjumi” menuliskan sepenggal kisah keteladanan Natsir, tentang kesederhanaan. Suatu hari di tahun 1948, George Mc. T. Kahin, professor dari Cornell University bertemu dengan Haji Agus Salim. Kahin yang ingin mengetahui lebih dekat denyut pergerakan kemerdekaan Indonesia, disarankan untuk bertemu dengan Mohammad Natsir yang saat itu menjabat sebagai Menteri Penerangan RI.
Haji Agus Salim menjelaskan singkat sosok Natsir kepada Kahin, “Dia tidak bakal berpakaian seperti seorang menteri. Namun demikian dia adalah seorang yang amat cakap dan penuh kejujuran. Jadi kalau Anda hendak memahami apa yang sedang terjadi dalam Republik, Anda seharusnya berbicara dengannya.”
Keesokan harinya, Kahin datang kantor Kementerian Penerangan untuk bertemu Natsir. “Saya menemukan seorang yang sederhana dan rendah hati, yang pakaiannya sungguh tidak memamerkan sebagai seorang menteri dari suatu pemerintahan. Malah ia memakai kemeja yang bertambal-tambal yang belum pernah saya lihat pada pegawai manapun dalam suatu pemerintahan; di mana kesederhanaan berpakaian berlaku sebagai suatu norma.” Kenang Kahin.
Kesederhanaan yang dilakukan oleh Natsir bukanlah pencitraan semata. Karena setelah ia tidak lagi duduk sebagai pejabat eksekutif di pemerintahan, gaya hidupnya tidak berubah. Ia tetaplah seorang Natsir, sang negarawan besar yang hidup penuh kesederhanaan. Sangat jauh bila dibandingkan dengan para pemimpin kita hari ini.
Mereka yang selalu menuntut mendapatkan fasilitas kelas satu, tetapi tidak pernah tuntas dalam bekerja mewujudkan kesejahteraan bagi rakyat. Apalagi di tengah kondisi ekonomi yang tidak selalu menguntungkan seperti ini, seharusnya pemimpin terlebih dahulu memberikan contoh bagaimana hidup dengan sederhana. Hidup sederhana tidak akan pernah menjatuhkan wibawa seorang pemimpin, justru pemimpin yang bermegah-megahan di tengah kesulitan hidup rakyatnya merupakan contoh yang tidak baik.
Selanjutnya,bagi Natsir pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang memahami, mengakui, dan juga menjalankan sepenuh hati kepemimpinannya sebagai amanah dari Allah yang akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat. Pemimpin yang ideal bukan sekadar bertanggungjawab terhadap rakyatnya dengan melaksanakan program yang mensejahterakan mereka, bukan pula sekadar mempertanggungjawabkan masa kepemimpinannya kepada dewan yang telah melantiknya dengan berusaha mengikuti peraturan yang telah ditentukan. Namun, pertanggungjawaban tertinggi seorang pemimpin adalah kepada Allah Subhanahu Wata’ala yang telah menitipkan kepemimpinan kepadanya sebagai tugas ilahiyah. Dengan demikian, maka seorang pemimpin akan merasa selalu diawasi oleh Allah sehingga tidak akan pernah sengaja melakukan penyalahgunaan dan berkhianat di dalam kepemimpinannya.
Poin ini menjadi sangat penting dan krusial dalam diskursus kepemimpinan. Jika para pemimpin sadar bahwa segala kepemimpinannya selalu diawasi dan kelak akan dipertanggungjawabkan di akhirat, kemudian nilai itu terinternalisasi dengan baik dalam dirinya, maka sedikit kemungkinan terjadinya pengkhianatan dalam proses memimpin. Namun sayang, saat ini proses sekularisasi yang awalnya muncul di Barat kemudian diekspor ke negara-negara dunia ketiga menjadi worldview (pandangan hidup) yang di-amin-i oleh para pemimpin kita. Politik harus dilepaskan dari agama. Agama biarlah letaknya di dalam masjid, bukan di dalam Istana Negara, ruang rapat kementerian, dan ruang rapat anggota dewan. Sehingga ketika para pemimpin itu tengah merumuskan kebijakan besar bagi rakyat, mereka tidak melibatkan Allah. Sehingga santai saja kalau pada akhirnya kebijakan-kebijakan tersebut malah membuat rakyat semakin menderita.
Maka dengan segala pengorbanan dan ketulusannya dalam memimpin, sejarah telah mencatat dengan tinta emas bahwa Natsir adalah seorang negarawan besar yang dihormati kawan dan disegani lawan. Bahkan seorang Aidit dari PKI yang terkenal sangat keras mendebat Natsir dalam forum-forum Konstituante untuk merumuskan dasar negara Indonesia, bisa menjadikan Natsir teman ngopi dan diskusi di luar sidang Konstituante. Kebesaran jiwa Natsir yang menjadikan lawan-lawan politiknya tetap menaruh rasa hormat kepadanya.
Selain itu, Natsir juga berpendapat bahwa pengorbanan seorang pemimpin haruslah tidak mengenal batas. Dalam setiap bentuk perjuangan pemimpin harus mengorbankan segala apa yang dimiliki bahkan sampai nyawa sekalipun. Dalam berkorban, pemimpin tidak boleh setengah-setengah. Pengorbanan yang tidak dilakukan dengan sepenuh hati hanya akan melemahkan posisinya sebagai pemimpin, juga melemahkan semangat umat yang dipimpin.
Demikianlah, yang anak muda butuhkan saat ini adalah sedikit menengok ke belakang, untuk mengambil sebanyak-banyaknya pelajaran untuk dijadikan bekal memimpin kelak. Menuju Indonesia yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghaffur.*
Sedang menempuh magister sains ekonomi Islam di Universitas Airlangga