Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

Dari Mata Turun ke Wahyu

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 5 Oktober 2020 09:26 9:26 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 5 Oktober 2020 09:26
Bagikan
Bagikan

Oleh: Kholid

 

Hidayatullah.com | DALAM satu bagian tubuh manusia yang penting adalah mata. Dalam bahasa Indonesia, kata mata kadang-kadang dikaitkan dengan hati. Biasa disebut dengan mata hati.

Frasa ini menarik untuk digarisbawahi, bahwa makna mata tidak selalu berkolerasi dengan salah satu organ inderawi yang biasa digunakan untuk melihat alam fisik yakni alam semesta sebagai manifestasi dari ciptaan-Nya, melainkan juga berkenaan dengan alam metafisik yang lebih luas cakupannya dari alam yang sebatas fisik.

Hati sebagai sandingan dari ‘Mata’, dimaksudkan adalah hati yang abstrak yang biasa dipahami untuk mengekpesikan sesuatu yang abstrak pula seperti rasa senang, sedih, bahagia, dsb. Oleh karenanya dalam Islam, mata hati tidak melulu bermakna qalb, tapi bisa bermakna aql, ruh, nafs.

Baca Juga

Buya Hamka
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan
Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

Varian indera dalaman ini disesuaikan dengan objeknya. Ketika berkenaan dengan perasaan, maka qalb berfungsi. Jika berkenan dengan intelektus dan rasio, maka aql berfungsi, dan seterunya.

Dalam bahasa arab ‘mata’ diterjemahkan dengan kata ‘ain’ ( عين ). Kata ‘ain’ memiliki beberapa makna meliputi mata air, sumber, dan yang berkedudukan tinggi. Makna-makna ini bersesuaian dengan hakekat ‘ain itu sendiri, dimana ia menjadi sumber awal dalam menilai sesuatu, yang kemudian ditransfer ke fakultas aql untuk diolah dan pada akhirnya menghasilkan suatu keputusan. Oleh karenanya, dari kata ‘ain ini muncul kata ‘ayyana’ ( عيّن ) yang memiliki makna menetapkan, menentukan, menunjukkan dengan tepat.

Namun terkadang tatapan ‘mata’ seseorang terhadap suatu objek tidaklah selalu tepat. Apa yang dikatakan benar berlandaskan pada proses penglihatan dengan mata tidaklah selamanya benar.

Mata ketika melihat tongkat yang sebagiannya berada di dalam air akan menilai bahwa tongkat itu bengkok. Padahal jika ditarik kembali ternyaat tongkat itu lurus. Di jalan aspal, mata melihat di kejauhan terdapat genangan air, ketika didekati ternyata tidak ada air. Itulah fatamorgana.

Oleh karenanya, mata tidak bisa menjadi satu-satunya sumber dalam menilai sesuatu. Ia perlu disandingkan dengan saluran pengetahuan lainnya yang bisa membantu untuk menyimpulkan sesuatu dengan benar dan tepat.

Dalam Epistemologi Islam, saluran pengetahuan terbagi menjadi empat, panca indera, rasio, khabar shadiq, dan intuisi. Mata (penglihatan) sendiri adalah salah satu bagian dari panca indera selain telinga (pendengaran) , hidung (pencium) , lidah (perasa) , dan kulit (peraba).

Jadi, ‘mata’ adalah bagian integral dari saluran pengetahuan lainnya yang harus dimaksimalkan dalam melihat suatu realitas dan kebenaran. Panca indera dan rasio adalah bagian integral dalam Islam yang berfungsi untuk saling melengkapi. Berbeda dengan filsafat Barat yang memiliki sejarah panjang perdebatan antara kubu empirisisme dan rasionalisme. Antara pengusung paham tersebut saling beradu argument dan mengklain bahwa sumber epistemenya yang lebih benar daripada lainnya.

Panca indera dan rasio juga tidak bisa dilepaskan dari khabar shadiq. Iman Nasafi membagi khabar shadiq menjadi dua, yakni khabar mutawatir ( suatu berita yang tidak diragukan lagi kebenarannya karena sudah menjadi aksioma khalayak umum ) dan ‘wahyu’ yang berupa al-Qur’an dan Sunnah. Jika kita melepaskan aspek khabar shadiq khususnya wahyu dari panca indera dan rasio, maka konsekuensinya akan sama dengan apa yang terjadi di Barat yakni timbulnya paham sekulerisme. Paham yang memisahkan aspek agama dari kehidupan.

Kembali ke aspek ‘mata’ yang disebut dengan ‘ain diatas. Bahwa dari kata ‘ain memunculkan kata lain yakni isti’anah ( استعانة  ), bentuk masdhar dari fiil sudasi ista’ana – yastainu )  ( استعان – يستعين   yang bermakna meminta pertolongan. Dalam surah al-Fatihah, lafadz isti’anah digunakan dalam konteks meminta pertolongan kepada Allah swt. Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in ( kepada-Mu lah kami menyembah dan kepada-Mu lah kami meminta pertolongan ). Hal ini menunjukkan bahwa kata ‘ain sendiri, tidak bisa dilepaskan dari sang Pencipta ‘ain tersebut. ‘Ain sebagai organ yang penuh keterbatasan perlu dibimbing dan diarahkan oleh wahyu.

Jadi ketika kita melihat suatu objek, mata adalah bagian integral yang tidak menjadi sumber satu-satunya dalam menilai. Islam telah menawarkan konsep integratif antara melihat dengan mata sebagai panca indera, dan mata hati sebagai rasio dan intuisi, disertai bimbingan dari khabar shadiq. Dengan saluran pengetahuan ini, akan membantu kita dalam menilai dan menyimpulkan bahwa realitas yang kita lihat adalah benar-benar real.*

Penulis adalah alumni Dalwa

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Dari Mata Turun ke Wahyuempiriskhabar shidiqPanca inderarasiorasional
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Amnesty International Desak Mesir untuk Bebaskan Para Tahanan yang Ditangkap Selama Protes
Tulisan selanjutnya Emir Baru Kuwait Menerima Perwakilan Saudi, Iran dan AS

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Trump Sebut Dana Iran yang Dibebaskan Akan Dipakai Beli Produk AS

Berita
24 Juni 2026 16:20
Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu
Italia Geram Sekjen NATO Ungkap Perannya Bantu Amerika dalam Perang Iran
Amerika Serikat Kembali Buka Kedutaannya di Kuwait Usai Serangan Iran
Kabar Mualaf Giancarlo Esposito: Aktor “Breaking Bad” Dilaporkan Memeluk Islam di Saudi

Terbaru

  • Zionis ‘Israel’ Habiskan Hampir Rp3.673 Triliun untuk Perang sejak 7 Oktober
  • Krisis Makna di Era Modern dan Jalan Kembali kepada Wahyu
  • Jadi Target, Koresponden Al Arabiya Tewas di Mukalla Yaman
  • Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
  • Amerika Serikat Kembali Buka Kedutaannya di Kuwait Usai Serangan Iran
  • Tujuh Negara Eropa Menyeru RSF untuk Menghentikan Segera Kekerasan di Sudan
  • Prancis Umumkan Kasus Pertama Ebola di Wilayahnya
  • Italia Geram Sekjen NATO Ungkap Perannya Bantu Amerika dalam Perang Iran
  • Seorang Pemimpin ISIS Terbunuh Dalam Serangan Amerika di Suriah
  • Iman, Ilmu, dan Amal: Tiga Pilar Kebangkitan Umat

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Tsaqafah

Loss of Adab, Kebingungan Ilmu dan Pemimpin Palsu

18 Desember 2022 18:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?