Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Tsaqafah

Belajar Filsafat Tanpa Harus Tersesat: Belajar dari Prof. Garaudy dan Prof. Rasjidi

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 18 Agustus 2021 15:47 3:47 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 18 Agustus 2021 17:00
Bagikan
filsafat
Bagikan

Hidayatullah.com | PADA akhir tahun 1987, Prof. Rasjidi saat diwawancara oleh wartawan majalah Al-Muslimun Bangil, menyampaikan keresahannya di mana pada waktu itu, marak di berbagai surat kabar yang isinya kritik, celaan bahkan serangan terhadap Islam.

Ada bererapa contoh yang dikemukakan secara sekilas oleh Prof. Rasjidi, misalnya: mempermasalahkan keadilan hukum Islam, sekularisasi dengan berbagai macam tafsirnya. Juga masalah pengucapan salam, mempribumikan Islam dan lain sebagainya.

Melihat kondisi demikian, Prof. Rasjidi bersyukur karena tidak ikut-ikutan tren seperti itu. Kata beliau, “Pada masa remaja sampai usia 60 tahun, saya selalu terkecoh membaca buku-buku penulis Barat yang mencari-cari keburukan-keburukan ummat Islam serta kekeliruan-kekeliruan ajaran Islam. Saya bangga telah dapat mengikuti pelajaran filsafat di Universitas Kairo sebelum Perang Dunia II, dan dapat mengikuti pemikiran-pemikiran Barat yang bermacam-macam corak dan ragamna.”

Apa beliau jadi nyeleneh, aneh dan tersesat dengan belajar filsafat, layaknya kebanyakan orang yang mempelajarinya justru menyimpang dari ajaran Islam? Sama sekali tidak. Beliau meski belajar semua itu, tidak lantas membuat beliau menentang ajaran Islam.

Justru, beliau mengungkapkan, “Saya sangat bersyukur kepada Allah SWT bahwa saya telah dapat membaca karya seorang filosof Prancis, Roger Garaudy yang menulis karyanya pada usia 70 tahun, Wasiat Filsafat atau Biographi Abad 20.”

Baca Juga

Buya Hamka
Buya Hamka: Hari Raya sebagai Cermin Kekuatan Batin Bangsa
Salaf Saleh dan Tafsir Kata Ulil Amri
Ulama Sufi dan Islam Nusantara
Amalan di Bulan Muharram yang Dapat Kita Lakukan
Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (2)

Mengapa beliau mensyukurinya? Karena dengan membaca buku ini, beliau bisa mendudukkan filsafat dalam posisi yang semestinya. Tak hanya itu, dengan menelaah buku anggitan Garaudy ini, Prof. Rasjidi tidak berlebih-lebihan dalam menilai buruk filsafat layaknya kebanyakan orang yang mengharamkannya. Yang lebih penting dari semua itu, kata Menteri Agama Pertama RI ini, “telah pula kembali pada iman yang bersinar di hadapanku.”

Ini berarti, belajar filsafat tak membuat Rasjidi muda tersesat. Justru, dengan mempelajarinya bisa mengetahui hakikat sebenarnya, bahkan dalam berbagai bukunya digunakan untuk membela Islam saat dilecehkan.

Buku itu bukan saja dibaca, bahkan diterjemahkan oleh Prof. Rosjidi dengan judul “Janji-Janji Islam”. Pertama kali diterbitkan oleh penerbit Bulan Bintang tahun 1982.

Dari Garaudy ada banyak pelajaran besar yang didapat Prof. Rasjidi, di antaranya: tidak mengajak kembali ke romantisme manisnya sejarah Islam, tapi yang diajak adalah agar umat Islam mengulangi pengkajian Islam sehingga mendapat petunjuk ilahi. Bukan malah menggerogoti Islam dari dalam seperti orang-orang yang belajar filsafat terpengaruh pandangan Barat yang mendiskreditkan Islam.

***

Sebagai informasi, Prof. Roger Garaudy, filsuf Komunis Katholik asal Prancis yang merupakan anggota Komite Pusat Partai Komunis selama 24 tahun, sebagaimana diberitakan majalah Panji Masyarakat tahun 1983 telah masuk Islam pada 11 Ramadhan 1402 atau 2 Juli 1982 pada usianya yang ke-70 tahun.

Tajuk dalam majalah Panjimas berjudul “Masuk Islam Setengah Abad Mencari Kebenaran.” Keislamannya dinyatakan di Lembaga Kebudayaan Islam Jenewa dan disaksikan oleh istrinya sendiri: Salma Nuruddin. Namanya kemudian diganti Raja’ Garaudy.

 

***

Dari Rasjidi dan Garaudy, pembaca bisa belajar bahwa belajar filsafat tak harus jadi sesat dan nyeleneh. Belajar pemikiran Barat, tak mesti membebek atau membeo pemikiran mereka.

Belajar filsafat justru digunakan Garaudy dan Rasjidi untuk semakin mengukuhkan diri di jalan Islam. Rahimahumallah Rahmatan Waasi’ah.*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:filsafatfilsufpemikiran Islam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Turki dalam Proses Dialog dengan Semua Pihak di Afghanistan, Termasuk Taliban
Tulisan selanjutnya vaksin-covid-19-gaza BPOM Targetkan Vaksin Merah Putih Bisa Digunakan Tahun 2022

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya

Berita
30 Mei 2026 11:16
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

ArtikelTsaqafah

Pengaruh Freemason dalam Wacana Pluralisme Agama (1)

5 Januari 2023 13:30
Tsaqafah

Ijtihad sebagai Solusi Persoalan Umat

29 Desember 2022 19:00
Tsaqafah

Bahaya Sekularisasi dan Sekularisme

26 Desember 2022 13:45
Tsaqafah

Loss of Adab, Kebingungan Ilmu dan Pemimpin Palsu

18 Desember 2022 18:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?