Hidayatullah.com | PADA akhir tahun 1987, Prof. Rasjidi saat diwawancara oleh wartawan majalah Al-Muslimun Bangil, menyampaikan keresahannya di mana pada waktu itu, marak di berbagai surat kabar yang isinya kritik, celaan bahkan serangan terhadap Islam.
Ada bererapa contoh yang dikemukakan secara sekilas oleh Prof. Rasjidi, misalnya: mempermasalahkan keadilan hukum Islam, sekularisasi dengan berbagai macam tafsirnya. Juga masalah pengucapan salam, mempribumikan Islam dan lain sebagainya.
Melihat kondisi demikian, Prof. Rasjidi bersyukur karena tidak ikut-ikutan tren seperti itu. Kata beliau, “Pada masa remaja sampai usia 60 tahun, saya selalu terkecoh membaca buku-buku penulis Barat yang mencari-cari keburukan-keburukan ummat Islam serta kekeliruan-kekeliruan ajaran Islam. Saya bangga telah dapat mengikuti pelajaran filsafat di Universitas Kairo sebelum Perang Dunia II, dan dapat mengikuti pemikiran-pemikiran Barat yang bermacam-macam corak dan ragamna.”
Apa beliau jadi nyeleneh, aneh dan tersesat dengan belajar filsafat, layaknya kebanyakan orang yang mempelajarinya justru menyimpang dari ajaran Islam? Sama sekali tidak. Beliau meski belajar semua itu, tidak lantas membuat beliau menentang ajaran Islam.
Justru, beliau mengungkapkan, “Saya sangat bersyukur kepada Allah SWT bahwa saya telah dapat membaca karya seorang filosof Prancis, Roger Garaudy yang menulis karyanya pada usia 70 tahun, Wasiat Filsafat atau Biographi Abad 20.”
Mengapa beliau mensyukurinya? Karena dengan membaca buku ini, beliau bisa mendudukkan filsafat dalam posisi yang semestinya. Tak hanya itu, dengan menelaah buku anggitan Garaudy ini, Prof. Rasjidi tidak berlebih-lebihan dalam menilai buruk filsafat layaknya kebanyakan orang yang mengharamkannya. Yang lebih penting dari semua itu, kata Menteri Agama Pertama RI ini, “telah pula kembali pada iman yang bersinar di hadapanku.”
Ini berarti, belajar filsafat tak membuat Rasjidi muda tersesat. Justru, dengan mempelajarinya bisa mengetahui hakikat sebenarnya, bahkan dalam berbagai bukunya digunakan untuk membela Islam saat dilecehkan.
Buku itu bukan saja dibaca, bahkan diterjemahkan oleh Prof. Rosjidi dengan judul “Janji-Janji Islam”. Pertama kali diterbitkan oleh penerbit Bulan Bintang tahun 1982.
Dari Garaudy ada banyak pelajaran besar yang didapat Prof. Rasjidi, di antaranya: tidak mengajak kembali ke romantisme manisnya sejarah Islam, tapi yang diajak adalah agar umat Islam mengulangi pengkajian Islam sehingga mendapat petunjuk ilahi. Bukan malah menggerogoti Islam dari dalam seperti orang-orang yang belajar filsafat terpengaruh pandangan Barat yang mendiskreditkan Islam.
***
Sebagai informasi, Prof. Roger Garaudy, filsuf Komunis Katholik asal Prancis yang merupakan anggota Komite Pusat Partai Komunis selama 24 tahun, sebagaimana diberitakan majalah Panji Masyarakat tahun 1983 telah masuk Islam pada 11 Ramadhan 1402 atau 2 Juli 1982 pada usianya yang ke-70 tahun.
Tajuk dalam majalah Panjimas berjudul “Masuk Islam Setengah Abad Mencari Kebenaran.” Keislamannya dinyatakan di Lembaga Kebudayaan Islam Jenewa dan disaksikan oleh istrinya sendiri: Salma Nuruddin. Namanya kemudian diganti Raja’ Garaudy.
***
Dari Rasjidi dan Garaudy, pembaca bisa belajar bahwa belajar filsafat tak harus jadi sesat dan nyeleneh. Belajar pemikiran Barat, tak mesti membebek atau membeo pemikiran mereka.
Belajar filsafat justru digunakan Garaudy dan Rasjidi untuk semakin mengukuhkan diri di jalan Islam. Rahimahumallah Rahmatan Waasi’ah.*/Mahmud Budi Setiawan