Hidayatullah.com– Raja Charles III untuk pertama kalinya memberi isyarat dukungan untuk penelitian tentang hubungan monarki Inggris dengan perbudakan setelah sebuah dokumen menunjukkan adanya raja yang memiliki saham di perusahaan perdagangan budak.
Raja Charles menganggap masalah ini “sangat serius” dan akademisi akan diberi akses ke koleksi dan arsip kerajaan, kata seorang juru bicara Istana Buckingham hari Kamis (7/4/2023), seperti dilansir Associated Press.
Pernyataan itu merupakan respon atas artikel yang dimuat koran The Guardian, yang mengungkap adanya dokumen yang menunjukkan transfer saham bernilai 1.000 pound ke Raja William III pada 1689 oleh wakil gubernur atau bos perusahaan perdagangan budak Royal African Company.
Surat kabar tersebut melaporkan keberadaan dokumen itu sebagai bagian dari rangkaian laporan perihal kekayaan dan keuangan kerajaan, serta hubungan monarki Inggris dengan perbudakan.
Charles menduduki tahta Inggris tahun lalu menyusul kemangkatan ibunya Ratu Elizabeth II. Penobatannya sebagai raja dijadwalkan akan digelar pada 6 Mei.
Charles dan putra tertuanya, Pangeran William, pernah mengungkapkan keprihatinan terhadap perbudakan tetapi belum pernah mengakui adanya keterlibatan monarki dalam perdagangan budak.
Penelitian terhadap keterkaitan keluarga kerajaan dengan perbudakan ini disponsori bersama oleh Historic Royal Palaces dan Manchester University, dan diharapkan rampung pada 2026.*