Hidayatullah.com—Kepala Biro Politik Hamas, Ismail Haniyah pada hari Selasa (21/11/2023) dini menanggapi tawaran kesepakatan gencatan senjata dengan pihak penjajah ‘Israel’. Hal ini telah disampaikan pada “saudara-saudara di Qatar dan para mediator”, menekankan komitmen untuk mencapai kesepakatan mengenai hal tersebut, demikian dikutip Palestine Informastion Centre (PIC).
Sementara itu, pemimpin Hamas Izzat al-Rishq mengatakan ada kemajuan terkait pembahasan masalah ini. “Ada kemajuan nyata dalam negosiasi dan kami hampir mencapai kesepakatan gencatan senjata,” ujarnya.
Dia menekankan bahwa kesepakatan apa pun yang dapat dicapai harus sesuai dengan kondisi perlawanan. “Kami tidak khawatir dengan kebocoran, dan saudara-saudara di Qatar dan Mesir akan mengumumkan rincian perjanjian tersebut,” tambah dia.
Pada Senin malam, Otoritas Penyiaran Israel mengumumkan bahwa Pemerintahan Benjamin Netanyahu telah memberikan lampu hijau pada kesepakatan pembebasan tawanan dengan gerakan Hamas dan menunggu tanggapan gerakan tersebut, lapor media itu.
Sebelumnya juga telah diberitakan, Wakil Penasihat Keamanan Nasional AS Jonathan Finer pada hari Ahad mengatakan sebuah kesepakatan antara “Israel” dan gerakan perlawanan Palestina, Hamas untuk membebaskan sejumlah sandera kemungkinan dicapai dalam beberapa hari, meskipun belum ada persyaratan yang disepakati
“Kami rasa kami sudah lebih dekat dari sebelumnya, mungkin pada titik mana pun sejak negosiasi ini dimulai beberapa minggu yang lalu,” ujar Jonathan Finer dalam acara “State of the Union” di CNN.
Para pejabat AS sangat berhati-hati ketika berbicara secara terbuka mengenai negosiasi sandera ini, karena sifat pembicaraan yang sensitif dan mudah berubah
Sementara itu, agresi penjajah ‘Israel’ pada hari ke-46, pasukan penjajah Zionis masih terus melanjutkan agresi berdarah mereka terhadap Jalur Gaza, menyebabkan lebih dari 13.000 orang syahid dan lebih dari 31.000 orang terluka.
Sebanyak 70% di antara korban yang gugur adalah anak-anak dan perempuan, 1,7 juta orang menjadi pengungsi, dan lebih dari seperempat juta unit rumah warga Gaza hancur seluruhnya atau sebagian.*