Hidayatullah.com— Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) hari Senin (2/9/2028) mengatakan kelompok pejuang itu sejak Juni mengikuti instruksi baru tentang cara menangani tawanan jika pasukan penjajah ‘Israel’ mendekati lokasinya di Gaza.
Hal itu terungkap beberapa hari setelah tentara penjajah menemukan enam jenazah tawanan di sebuah terowongan di Rafah yang terletak di selatan Gaza.
‘Israel’ mengklaim keenam tawanan tersebut ditembak mati oleh Hamas karena pasukan ‘Israel’ mendekati mereka. Namun hal ini dibantah juru bicara Brigade Hamas al-Qassam, Abu Ubaidah.
Dia juga mengatakan kelompoknya menyalahkan ‘Israel’ atas kematian para tawanan.
Instruksi baru tersebut, kata Ubaidah, diberikan kepada para pejuangnya menyusul operasi yang dilakukan penjajah ‘Israel’ pada Juni lalu.
Dalam operasi tersebut, ‘Israel’ menyelamatkan empat tawanan dalam serangan yang menewaskan puluhan warga Palestina, termasuk wanita dan anak-anak.
“Desakan Netanyahu untuk membebaskan para tahanan dengan memberikan tekanan kepada militer, alih-alih bernegosiasi, hanya akan membuat kita mengembalikan para tawanan dalam keadaan mati. Keluarga (para tawanan) harus memilih apakah mereka ingin para tawanan kembali hidup atau mati,” kata Ubaidah dikutip Reuters.
Hari Senin, 2 September, sayap bersenjata Hamas menerbitkan sebuah video yang menampilkan salah satu dari enam tawanan yang tewas. Tidak jelas kapan video itu diedit.
Perdana Menteri ‘Israel’ Benjamin Netanyahu dalam konferensi pers, membenarkan para tawanan ditembak di bagian belakang kepala dan berjanji Hamas akan ‘menanggung risiko besar’.
Pejabat senior Hamas, Sami Abu Zuhri, mengatakan tuduhan Netanyahu terhadap Hamas adalah upaya untuk mengalihkan tanggung jawab atas kematian para tawanan.
“Netanyahu membunuh enam tahanan dan dia bertekad untuk membunuh yang lainnya juga. Rakyat ‘Israel’ harus memilih antara Netanyahu atau (mencapai) kesepakatan,” kata Abu Zuhri.
Hamas menginginkan kesepakatan yang menghentikan perang dan menarik pasukan ‘Israel’ dari Gaza.*