Hidayatullah.com– Seorang wanita muda Thailand meninggal dunia setelah menjalani tetapi pijat intensif di Thailand. Kematiannya terjadi setelah kematian turis Singapura yang ditemukan tidak bernyawa usai menjalani terapi pijat di Pantai Patong.
Chayada Prao-hom, 20, dinyatakan meninggal pada hari Ahad (8/12/2024) karena infeksi darah dan pembengkakan otak sekitar pukul 6 pagi di ruang ICU rumah sakit di Udon Thani, lapor Bangkok Post seperti dilansir South China Morning Post (9/12/2024).
Pada hari-hari dan pekan-pekan sebelum kematiannya, dia menceritakan di akun media sosial mengenai tiga sesi pijat yang telah dijalaninya sejak Oktober yang menurutnya menyebabkan dia harus terbaring di tempat tidur, dengan sensasi mati rasa menyebar ke seluruh tubuhnya.
Dia mengabarkan bahwa kondisinya bertambah usai setiap sesi pijat. Pada 6 November, seorang penyanyi tradisional Mo Lam – mengunggah di laman Facebook foto hasil X-ray tulang belakangnya, dan mengatakan kepada para penggemarnya bahwa dia menjalani terapi tiga kali semua di panti pijat yang sama.
Pada dua kunjungan pertama, seorang terapis yang sama “mengkretek” lehernya dengan gerakan memutar. Pada kunjungan ketiga, dia dipijat oleh terapis lain yang “memijat keras” sehingga seluruh tubuhnya mengalami bengkak selama sepekan.
Dia menceritakan sensasi mati rasa (baal) kemudian menyebar dan dua pekan kemudian dia tidak bisa mengangkat lengan kanannya.Kepala dinas kesehatan wilayah Udon Thani, hari Senin (9/12/2024) mengatakan kepada awak media bahwa pihak berwenang menyatakan Chayada meninggal dunia akibat septicemia atau keracunan darah.
Dia menggarisbawahi bahwa meskipun pasien tersebut menderita gejala seperti mati rasa, nyeri, dan mielitis transversal setelah pemijatan, otopsi diperlukan untuk menentukan apakah kematiannya terkait dengan terapi pijat tersebut. Dia juga mengkonfirmasi bahwa panti pijat dan terapis yang didatangi Chayada memiliki lisensi.
Kematian Chayada terjadi satu hari setelah seorang pria Singapura berusia 52 tahun dilaporkan meninggal dunia setelah menjalani terapi pijat dengan dibaluri minyak di seluruh tubuhnya selama 45 menit di Pantai Patong, Phuket.
Menurut laporan Bangkok Post, polisi mendapatkan laporan dari sebuah panti pijat di Patong bahwa ada masalah dengan seorang turis Singapura, sekitar pukul 11:03 malam hari Sabtu (7/12/2024).
Lee Mun Tuck, 52, dibaluri minyak urut selama 45 menit menjalani terapi pijat. Dia kelihatan rileks usai dipijat dan kemudian berhenti bernapas, kata Kepala Kepolisian Patong Kolonel Chalermchai Hernsawad.
Pihak pengelola panti meminta polisi dan tenaga medis membantu setelah pria itu diberikan tindakan CPR tetapi tetap tidak sadarkan diri.
Polisi mengatakan istri Lee menolak otopsi dan membawa jasad suaminya pulang untuk menjalani ritual pemakaman.
Nama panti pijat tersebut tidak diungkapkan.
Menyusul berita kematian Chayada, para dokter Thailand memperingatkan melalui media sosial tentang risiko pijat kretek di bagian leher.
“Seorang tukang pijat yang berpengalaman tidak akan memutar leher klien karena itu dikenal sebagai titik yang berbahaya,” kata Dr Chatpon Kongfeangfung kepada 1,1 juta pengikutnya di TikTok, memperingatkan risiko cedera di bagian “tulang belakang C”.
“Saya sudah pernah memperingatkan orang-orang sebelumnya, jangan pernah membiarkan tukang pijat memutar leher Anda karena bisa berakibat fatal.” Di leher terdapat arteri karotis yang memasok darah beroksigen ke otak. Penyempitan apa pun dapat menyebabkan stroke atau cedera otak serius lainnya, papar Dr Chatpon Kongfeangfung.
Seorang dokter lain berspekulasi bahwa kematian Chayada kemungkinan tidak berkaitan dengan cedera pada bagian tulang belakangnya. Meskipun demikian, dia memperingatkan bahwa pijat di bagian leher.
“Inilah yang disebut hiperalgesia. Artinya, sel-sel merasa tidak berfungsi dengan baik. Sel itu sendiri kemudian akan memunculkan rasa sakit. Biasanya karena peradangan,” tulis ahli saraf DR Surat Tanprawate di Facebook. Masalahnya, kata dia, kalau rasa sakit parah tukang pijat biasanya akan menekan sekuat tenaga, yang ada kalanya atas permintaan klien sendiri.
Pijat tradisional Thailand “Nuad Thai” sudah mendapatkan pengakuan dari UNESCO sebagai salah satu warisan budaya dunia tak benda. Terapi pijat itu berakar pada tradisi petani di pedesaan, yang berkembang sebagai sarana menghilangkan rasa capek fisik setelah berjam-jam bekerja.
Banyak terapis di Thailand mendapatkan pelatihan di sekolah-sekolah tukang urut yang berlisensi. Namun, beribu-ribu tukang pijat lainnya juga berpraktik tanpa pelatihan ketrampilan yang memadai, terutama di daerah-daerah wisata.*