Hidayatullah.com– Lembaga penyiaran publik Spanyol, hari Jumat (11/4/2025), mengajak publik untuk memperdebatkan soal keikutsertaan Israel dalam ajang kompetisi Eurovision Song Contest, yang tehaun ini akan digelar di Swiss, sehubungan dengan kekejaman tentara dan pemerintah Zionis atas rakyat Palestina terutama di Gaza.
RTVE sudah mengirimkan surat kepada European Broadcasting Union (EBU), penyelenggara Eurovision, guna meminta debat publik perihal partisipasi televisi publik Israel (KAN) dalam lomba menyanyi itu, kata lembaga penyiaran publik Spanyol tersebut dalam sebuah pernyataan seperti dilansir AFP.
Kota Basel di Swiss tahun ini akan menjadi tuan rumah acara tahunan super meriah itu – salah satu siaran langsung televisi terbesar di dunia yang melibatkan negara-negara Eropa hingga Australia, di mana setiap lembaga penyiaran publik negara peserta menyaring dan mengirimkan wakil mereka. Tahun ini Eurovision akan digelar di St. Jakobshalle indoor arena, dengan babak semifinal pada 13 dan 15 Mei, serta puncak final 17 Mei.
RTVE menegaskan kembali dukungan untuk Eurovision, tetapi pada saat yang sama memahami kondisi menyedihkan yang terjadi di Gaza dan keikutsertaan KAN kemungkinan akan menimbulkan kemarahan warga Spanyol.
“Sepantasnya EBU memaklumi adanya perdebatan ini dan menyediakan forum diskusi bagi lembaga-lembaga penyiaran publik negara anggota guna membahas soal keikutsertaan KAN,” imbuh pernyataan itu.
EBU mengatakan pihaknya memahami kekhawatiran tentang konflik di Timur Tengah saat ini, tetapi menambahkan bahwa semua anggotanya berhak untuk ambil bagian dalam kompetisi Eurovision.
Tahun lalu, ribuan orang melakukan aksi protes di kota Malmo, Swedia, guna menentang partisipasi KAN (Israel) dalam lomba itu.Penyanyi utusan Israel Eden Golan terpaksa mengubah lirik lagunya yang menyinggung soal serangan Hamas 7 Oktober 2023.
Tahun ini, seorang penyanyi yang merupakan penyintas dari serangan Hamas itu akan mewakili Israel di Basel.
Lembaga penyiaran publik Finlandia Yle bulan lalu menerima dua petisi berisi tuntutan supaya pihaknya mendesak pelarangan keikutsertaan Israel dalam kontes itu disebabkan peperangan biadab yang dilakoni Zionis di Gaza.
Salah satu petisi ditandatangani oleh lebih dari 500 profesional industri musik dan kebudayaan, sementara petisi satunya ditandatangani oleh lebih dari 10.000 anggota masyarakat.
Israel sudah memenangkan kontes itu empat kali, terakhir pada 2018 di Lisbon, Portugal.*




