Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

MUI: Vasektomi Haram, Tak Boleh Jadi Alat Tekanan Sosial

Ahmad
Terakhir diupdate: 5 Mei 2025 15:45 3:45 pm
Ahmad
Dipublikasikan 5 Mei 2025 18:00
Bagikan
Ketua Bidang Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), Prof KH Asrorun Niam Sholeh
Bagikan

Hidayatullah.com—Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan peringatan keras terhadap kebijakan yang mengaitkan prosedur vasektomi dengan bantuan sosial. Ketua Bidang Fatwa MUI Pusat, Prof KH Asrorun Niam Sholeh, menegaskan bahwa vasektomi hukumnya haram kecuali dalam kondisi darurat yang dibenarkan secara syariat, dan tidak boleh dijadikan syarat administratif dalam penyaluran bantuan negara.

Peringatan ini dikeluarkan menyusul rencana Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang mewacanakan vasektomi sebagai syarat agar keluarga bisa mendapatkan bantuan sosial (bansos) hingga beasiswa pendidikan.

Menurut MUI, kebijakan ini tidak hanya melanggar prinsip-prinsip syariah, tetapi juga menyalahi etika kebijakan publik.

“Islam membolehkan program Keluarga Berencana (KB), tapi tidak dengan cara yang melanggar syariat. Vasektomi termasuk kontrasepsi permanen yang menyebabkan kemandulan tetap. Itu jelas terlarang,” tegas Niam Sholeh kepada MUIDigital, Senin (5/5/2025).

Kebijakan yang Harus Dikoreksi

Baca Juga

Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta

MUI menilai, menjadikan vasektomi sebagai syarat menerima bansos adalah bentuk pemaksaan kebijakan yang keliru dan bertentangan dengan nilai-nilai keadilan sosial.

“Kebijakan seperti itu wajib dikoreksi. Jika tetap dipaksakan, maka secara hukum tidak boleh ditaati, karena mengandung unsur pemaksaan terhadap hal yang dilarang dalam syariat,” tambahnya.

Niam Sholeh mengingatkan, setiap kebijakan publik seharusnya lahir dari proses kajian mendalam, dialog terbuka, dan didasarkan pada prinsip maslahat, bukan sekadar target administratif.

“Jangan sampai niat baik untuk menyejahterakan rakyat berubah menjadi kebijakan yang menimbulkan penolakan luas. Ini justru bisa menjadi beban bagi Presiden dan pemerintah pusat yang sedang serius mengatasi persoalan kemiskinan dan pembangunan manusia,” ujarnya.

Fatwa Haram yang Konsisten Sejak 1979

MUI telah membahas hukum vasektomi dalam beberapa forum ijtima ulama, sejak tahun 1979, dan hasilnya tetap konsisten: vasektomi haram karena menyebabkan kemandulan permanen.

Pada 2009, meski ada pertanyaan dari BKKBN soal kemungkinan teknologi rekanalisasi (penyambungan kembali saluran sperma), para ulama menyepakati bahwa prosedur tersebut tetap haram karena tidak ada jaminan keberhasilan dan kesuburan tidak bisa dipulihkan sepenuhnya.

“Perkembangan teknologi belum mengubah substansi hukum vasektomi. Hingga 2025, belum ada bukti medis yang dapat mengubah status haram tersebut,” kata Niam Sholeh, merujuk pada hasil Ijtima Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia IV di Cipasung, Tasikmalaya.

Namun, menurut Niam Sholeh, hampir tidak ada kasus umum yang memenuhi kelima syarat itu. Karena itu, MUI tetap menegaskan haramnya praktik vasektomi dalam konteks kampanye KB nasional.

Jangan Jadikan Keluarga Miskin Sebagai Objek Eksperimen

Selain menolak kebijakan yang menjadikan vasektomi sebagai alat seleksi bansos, MUI juga mengingatkan pemerintah, khususnya BKKBN, agar tidak mengampanyekan vasektomi secara terbuka, apalagi menyasar komunitas Muslim.

“Pemerintah harus transparan soal risiko vasektomi, termasuk biaya mahal rekanalisasi dan potensi kegagalannya. Jangan ada pembohongan publik,” ujar Guru Besar Fikih ini dengan nada tegas.

Menurut MUI, kampanye massal semacam itu berisiko menyesatkan masyarakat dan melemahkan ketahanan keluarga. KB seharusnya bertujuan mengatur kelahiran (tanzhim al-nasl), bukan membatasi keturunan secara permanen (tahdid al-nasl).

Lebih lanjut, Niam Sholeh menegaskan bahwa keluarga miskin tidak boleh dijadikan objek eksperimen kebijakan yang bertentangan dengan nilai agama dan kemanusiaan.

“Bansos dan pendidikan adalah hak warga negara. Tidak bisa disyaratkan dengan tindakan medis yang membatasi hak dasar seseorang untuk memiliki keturunan,” pungkasnya.

MUI menyatakan kesiapan untuk berdialog dengan pemerintah daerah agar kebijakan pengendalian penduduk tetap berada dalam jalur syariat dan nilai luhur bangsa.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Dedi MulyadiHeadlineKBKetahanan KeluargaMUIvasektomi. Keluarga Berencana
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pejuang Palestina Beberkan Keberhasilan Menumpas tentara Penjajah di Rafah
Tulisan selanjutnya Didakwa Terorisme Mantan PM Tunisia Ali Laarayedh Dihukum Penjara 34 Tahun

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Laporan: 370 Anak-Anak Palestina Masih Ditahan di Penjara ‘Israel’

Berita
29 Agustus 2026 19:05
Ahwa Mufakat Pilih Gus Kikin, Cicit Pendiri NU dari Tebuireng Jadi Ketum PBNU
STAI Al Bayan Gelar Wisuda Angkatan II, Ketum DPP Hidayatullah Pesankan Alumni Kuatkan Takwa Hadapi Tantangan Zaman
PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
Sering Rugikan Pabrik Senjata ‘Israel’, Palestine Action Ditetapkan AS sebagai “Kelompok Teroris”

Terbaru

  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
  • PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
  • Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
  • Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
  • DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
  • Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika
  • UEA Bantah Laporan Serangan di Pangkalan Udara Al Minhad

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September

31 Agustus 2026 20:47
Berita

Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global

31 Agustus 2026 20:11
Berita

DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah

31 Agustus 2026 20:04
Berita

Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika

31 Agustus 2026 19:36
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?