Hidayatullah.com– Badan Pertahanan Sipil Suriah, hari Ahad (13/7/2025), mengatakan karhutla yang berkobar di bagian barat negaranya dan menghanguskan kawasan hutan dan lahan pertanian serta memaksa penduduk untuk mengevakuasi diri, berhasil dikendalikan setelah 10 hari.
Dalam sebuah pernyataan yang dimuat di laman Facebook, bafan tersebut mengatakan bahwa pada hari Sabtu api berhasil dihentikan penyebarannya di semua arah, dan petugas di lapangan bergegas melakukan upaya pendinginan guna mencegah kemungkinan api berkobar kembali, lansir AFP.
Kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Latakia terjadi ketika gelombang hawa panas menerjang kawasan pesisir itu.Badan urusan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa OCHA mengatakan api merusak area hutan dan lahan pertanian seluas sekitar 100 kilometer persegi.
Petugas kedaruratan Suriah menghadapi kondisi sulit di lapangan seperti temperatur udara yang tinggi, angin kencang, medan pegunungan yang terjal serta bahaya bahan peledak sisa perang.
Raed al-Saleh, menteri kedaruratan dan penanggulangan bencana Suriah, lewat platform X mengatakan bahwa dengan bantuan dari tim Turki, Yordania, Libanon, Qatar dan Iraq, petugas pemadam kebakaran “berhasil menghentikan laju api di semua sisi, bagian penting dari upaya pemadaman karhutla.
“Masih ada ancaman akibat aktivitas angin, tetapi kami berupaya mencegah meluasnya lagi kebakaran ini,” imbuhnya.
Pihak berwenang belum melaporkan adanya korban nyawa, tetapi sejumlah kota di Provinsi Latakia sudah dievakuasi.
Selain perubahan iklim akibat ulah tangan manusia yang meningkatkan kemungkinan dan intensitas kekeringan dan kebakaran hutan di seluruh dunia, Suriah juga dilanda gelombang panas dan curah hujan rendah.
Pada bulan Juni, organisasi pangan Perserikatan Bangsa-Bangsa FAO mengatakan kepada AFP bahwa Suriah tidak pernah mengalami kondisi iklim seburuk itu kurun 60 tahun terakhir.*




