Hidayatullah.com—Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Dr. Sudarnoto Abdul Hakim, mengecam keras serangan militer penjajah (IDF) terhadap sebuah gereja Katolik di Gaza. Dalam pernyataan resminya, Sudarnoto menyampaikan duka yang mendalam atas tragedi yang kembali mencederai kemanusiaan dan kebebasan beragama.
“Saya berduka mendalam atas serangan IDF terhadap gereja Katolik di Gaza. Tragedi ini menyusul dihancurkannya banyak masjid dan gereja selama genosida dan penghancuran brutal rezim ekstremis Netanyahu di Gaza,” tegasnya, Jumat (19/7/2025).
Serangan terhadap rumah ibadah Kristen tersebut terjadi di tengah eskalasi kekerasan yang dilakukan pasukan Israel sejak Oktober 2023. Menurut berbagai laporan internasional, lebih dari 300 masjid telah dihancurkan dan sejumlah gereja juga menjadi target, termasuk gereja tua yang memiliki nilai sejarah dan spiritual tinggi bagi komunitas Kristen Palestina.
Sudarnoto juga menyoroti tindakan terbaru otoritas Israel yang mengambil alih Masjid Ibrahim (Ibrahimiyah) di Hebron dan menyerahkan otoritas penuh pengelolaannya kepada kelompok Yahudi. Tindakan tersebut dinilai sebagai bagian dari proyek sistematis kolonialisme dan pembersihan etnis.
“Rezim Israel—di balik spirit imperialistik yang paling kejam dan mengerikan—adalah monster kemanusiaan dan anti-agama,” ungkapnya. Ia menyebut kombinasi antara imperialisme, genosida, dan doktrin keagamaan Yahudi ekstrem telah memporak-porandakan kehidupan warga Palestina dan menghancurkan tatanan kemanusiaan global.
Untuk itu, Sudarnoto kembali menegaskan bahwa Israel merupakan musuh bersama umat manusia. Ia menyerukan kepada seluruh bangsa dan pemimpin dunia untuk tidak tinggal diam menyaksikan pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia, agama, hukum, dan kedaulatan yang dilakukan oleh rezim Tel Aviv.
“Jihad bersama melawan Israel harus terus dilakukan,” tegasnya, mengajak umat Islam dan komunitas internasional untuk bersatu melawan kezaliman dan ketidakadilan.
Serangan terhadap gereja Katolik ini menambah panjang daftar pelanggaran Israel terhadap tempat suci di Gaza dan Tepi Barat.*




