Hidayatullah.com – Pemerintah Indonesia mendukung penuh keikutsertaan warganya dalam Global Sumud Flotilla dan siap memastikan perlindungan bagi para WNI tersebut.
“Melalui KBRI Tunis, pemerintah telah menyediakan fasilitasi selama mereka berada di Tunisia serta menyampaikan gambaran risiko yang mungkin akan dihadapi ketika mereka berada di wilayah Gaza,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI Vahd Nabyl A. Mulachela di Jakarta pada Ahad (09/07/2025).
Menurut laporan yang diterima pemerintah, ada 30 WNI yang tergabung dalam Indonesia Global Peace Convoy (IGPC) dalam Global Sumud Flotilla. Armada kapal tersebut akan berupaya mendobrak blokade militer zionis ‘Israel’ dan mengantarkan bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza.
Selain melalui KBRI Tunis, Kemlu RI juga telah menginstruksikan KBRI Kairo di Mesir dan KBRI Roma di Italia, yang yurisdiksinya merangkap Siprus, untuk terus memonitor keadaan pelayaran bantuan kemanusiaan itu beserta keselamatan para WNI yang ikut serta di dalamnya.
“Pemerintah Indonesia secara konsisten mendukung perjuangan kemerdekaan bangsa Palestina sesuai dengan hukum dan aturan internasional,” ucap Jubir Kemlu RI, dilansir Antara.
Pada Jumat lalu (05/09/2025), KBRI telah menyelenggarakan audiensi dan doa bersama dengan para relawan IGPC yang sedang singgah di Tunisi menjelang berlayar ke Jalur Gaza.
Menurut Dubes RI untuk Tunisia, keikutsertaan Indonesia dalam pelayaran menuju Gaza menunjukkan negara ini “kokoh berjuang untuk kemerdekaan Palestina dan pembebasan blokade di Gaza.”
Tekad tersebut semakin tercermin dari lima kapal dari Indonesia untuk Global Sumud Flotilla tersebut yang dinamai dengan nama pahlawan bangsa, yaitu Soekarno, Diponegoro, Hasanuddin, Pati Unus, dan Malahayati, kata dia.
Global Sumud Flotilla akan mengirim bantuan kemanusiaan penting ke Gaza sekaligus menyampaikan pesan yang kuat bahwa dunia tidak akan tinggal diam terhadap genosida dan blokade zionis ‘Israel’ yang telah berlangsung selama 18 tahun terhadap lebih dari dua juta penduduk Gaza.
Adapun negara-negara yang terlibat dalam pelayaran tersebut antara lain Indonesia, Malaysia, Amerika Serikat, Belanda, Brasil, Italia, Kolombia, Maroko, Sri Lanka, dan Tunisia.*




