Hidayatullah.com – Jika bangsa Indonesia ingin maju dan diberkahi Allah, maka kita harus memperbaiki adab kepada para guru. Hal itu disampaikan Dr. Akmal Sjafril, Kepala Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Pusat, dalam kajian daring Tuesday’s Special yang digelar Selasa (08/09) silam.
Pada kajian daring yang bertajuk “Guru & Pedagang: Beberapa Catatan Atas Pernyataan Menag” itu, Akmal menegaskan bahwa SPI tidak bermaksud memperpanjang masalah, sebab Menag sudah menyatakan permintaan maafnya. Akan tetapi, SPI menganggap bahwa pernyataan tersebut tetap layak untuk didiskusikan dan ditanggapi.
“Insiden tersebut perlu didiskusikan agar semua dapat mengambil hikmahnya, menemukan kekeliruan dan menghindari potensi terjadinya kesalahan yang sama di masa depan,” ungkap doktor Ilmu Sejarah dari UI ini.
Insiden yang dimaksud adalah serangkaian komentar yang diberikan oleh Menag Nasaruddin Umar dalam kegiatan Pendidikan Profesi Guru (PPG) Batch 3 Tahun 2025 di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, pada Rabu (03/09) silam. Dalam acara tersebut, Nasaruddin di antaranya menyebutkan bahwa profesi guru bukan untuk mencari uang dan memperbandingkannya dengan profesi pedagang.
Dalam bagian awal komentarnya, Menag menyatakan bahwa profesi guru itu suci, dan guru harus seperti seorang ‘nabi kecil’. Meski pernyataan ini sekilas terdengar simpatik, namun menurut Akmal tetap perlu dikritisi. “Sekilas terdengar baik, namun sebenarnya tidak tepat. Pertama, kewajiban untuk menjadi manusia suci adalah beban yang terlalu berat untuk para guru. Kedua, kalau masyarakat benar-benar menganggap para guru sebagai orang suci, maka mereka akan kecewa ketika melihat bahwa para guru juga memiliki kekurangan yang sesungguhnya manusiawi,” ungkap penulis buku Islam Liberal 101 ini.
Catatan terpenting yang diberikan adalah mengenai penekanan bahwa seorang guru tidak boleh seperti pedagang yang bertujuan mencari uang. Menurut Akmal, pernyataan ini sangat problematik.
“Baik guru maupun pedagang sama-sama memiliki kewajiban mencari nafkah, dan itu artinya mereka sama-sama membutuhkan uang. Membangun rumah tangga, menghidupi anak-istri, menyekolahkan anak dan seterusnya, semua itu membutuhkan uang. Memang dalam Islam uang bukanlah tujuan akhirnya, baik bagi seorang guru, pedagang atau profesi lainnya. Akan tetapi, janganlah ada yang mengira bahwa seorang guru tidak membutuhkan uang,” ujar ayah dari dua anak ini.
Pernyataan semacam ini juga dikhawatirkan telah lahir dari kurangnya kepekaan terhadap nasib para guru. “Mengesankan bahwa ‘guru jangan mencari uang’ di tengah-tengah kenyataan bahwa banyak guru yang hidup dengan penghasilan tak seberapa menunjukkan bahwa bangsa ini belum sensitif dengan kesulitan hidup yang mereka alami,” tandasnya lagi.
Akmal mengajak seluruh peserta kajian untuk berpikir lebih mendalam tentang penghidupan para guru. “Kalau kita membayangkan penghidupan para guru, kita membayangkan penghasilan mereka harus cukup untuk kredit rumah yang seadanya, keluarganya makan seadanya, dan anak-anaknya bersekolah di mana saja asal murah. Padahal mereka, seperti rakyat lainnya, juga perlu rumah yang cukup baik, makanan yang benar-benar bergizi, dan anak-anaknya bersekolah di tempat yang baik. Kalau para guru harus menopang hidup dengan kerja sampingan, padahal mereka sudah kerja sepanjang hari, lantas tidak ada waktu untuk anak-anaknya. Para guru juga berhak untuk memiliki kehidupan dan rumah tangga yang layak,” ungkap tokoh dari Kota Hujan Bogor ini.
Meski kesejahteraan guru bukan tugas langsung dari Menag, namun sebagai wakil pemerintah semestinya Menag memiliki perspektif lain tentang persoalan ini. “Sebagai bagian dari pemerintah yang memiliki wewenang untuk membuat kebijakan, Menag semestinya mendorong peningkatan kesejahteraan guru, bukannya menyuruh para guru untuk bersabar,” ujar Akmal lagi.
Di akhir kajian, Akmal mengingatkan bahwa kurangnya perhatian kepada para guru adalah salah satu wajah dari fenomena hilangnya adab (loss of adab). “Cendekiawan Muslim Prof. Naquib al-Attas telah lama memperingatkan bahwa salah satu persoalan paling mendasar dari Dunia Islam saat ini adalah hilangnya adab. Persoalannya, ilmu yang benar hanya bisa didapatkan dengan adab yang baik, dan salah satu bagian penting dari adab terhadap ilmu adalah adab terhadap para guru,” tandasnya.
Tuesday’s Special adalah kajian daring yang diadakan secara rutin oleh SPI pada hari Selasa kedua setiap bulannya untuk menanggapi isu-isu terkini yang hangat diperbincangkan oleh masyarakat. Menurut Akmal, ada kemungkinan SPI akan menggelar kegiatan ini lebih dari sekali dalam sebulan, karena cukup banyak peserta kajian yang menyampaikan permintaan itu.*SPI Media Center




