Hidayatullah.com—Qatar mengumumkan bahwa ‘Israel’ dan Hamas telah menyepakati seluruh poin tahap pertama dari rencana gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat, dengan dukungan Turki dan Mesir. Kesepakatan ini diharapkan mengakhiri dua tahun perang yang menewaskan puluhan ribu warga Gaza dan mengguncang kawasan Timur Tengah.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari, mengatakan melalui platform X pada Kamis (9/10/2025) dini hari bahwa para mediator “telah mencapai kesepakatan penuh mengenai semua butir dan mekanisme pelaksanaan tahap pertama dari perjanjian penghentian perang di Gaza.”
“Kesepakatan ini akan menghasilkan penghentian total perang, pembebasan tahanan dari kedua belah pihak, serta pembukaan jalur masuk bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza,” tulis al-Ansari.
“Rincian lengkap akan diumumkan segera setelah semua pihak menyelesaikan persiapan teknis.”
Dukungan Diplomatik Internasional
Kesepakatan tersebut merupakan bagian dari rencana perdamaian yang diusulkan oleh mantan Presiden AS Donald Trump, yang kembali aktif di panggung diplomatik global. Dalam pernyataannya di Truth Social, Trump menyebut bahwa Hamas dan ‘Israel’ telah menyetujui tahap pertama dari “Rencana Perdamaian Gaza”, dan mengisyaratkan akan melakukan kunjungan ke Timur Tengah dalam beberapa hari mendatang.
“Perdamaian di Gaza kini sudah sangat dekat,” kata Trump. “Saya berencana berkunjung ke wilayah tersebut akhir pekan ini untuk memastikan implementasi berjalan sebagaimana mestinya.”
Negosiasi yang dipimpin Mesir di kota pesisir Sharm el-Sheikh itu dihadiri langsung oleh Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, Kepala Intelijen Turki Ibrahim Kalin, dan Kepala Intelijen Mesir Hassan Rashad. Kehadiran tiga negara itu, menurut para analis, memberi bobot diplomatik besar terhadap peluang keberhasilan kesepakatan tersebut.
Dalam pernyataannya, Hamas menyambut positif keterlibatan aktif Qatar dan Turki dalam perundingan itu. Anggota Biro Politik Hamas, Izzat al-Rishq, mengatakan melalui saluran Telegram bahwa kehadiran kedua negara tersebut “mempersempit ruang manuver ‘Israel’” dan memperkuat posisi tawar pihak perlawanan.
“Partisipasi Qatar dan Turki memberikan dorongan besar bagi keberhasilan negosiasi,” ujar al-Rishq. “Langkah ini menutup celah bagi Netanyahu untuk memperpanjang perang dan menggagalkan upaya perdamaian.”
Ia menambahkan, kesepakatan ini membuka jalan bagi pertukaran tahanan besar-besaran, yang mencakup pembebasan sandera ‘Israel’ dan ribuan tahanan Palestina di penjara-penjara ‘Israel’.
Perang Dua Tahun yang Mematikan
Sejak 7 Oktober 2023, ‘Israel’ melancarkan serangan militer besar-besaran ke Jalur Gaza dengan dalih menghancurkan Hamas, setelah serangan kelompok tersebut ke wilayah selatan ‘Israel’. Namun, operasi yang berlangsung selama 733 hari itu berubah menjadi perang terpanjang dan paling mematikan dalam sejarah ‘Israel’ dan Palestina.
Menurut data yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan di Gaza dan dikonfirmasi Al Jazeera, lebih dari 67.000 warga Palestina tewas dan hampir 170.000 lainnya terluka sejak awal perang, sebagian besar di antaranya perempuan dan anak-anak.
Krisis kemanusiaan yang ditimbulkan pun luar biasa: kelaparan ekstrem menyebabkan kematian sedikitnya 460 orang, termasuk 154 anak-anak, sementara akses air bersih, listrik, dan layanan kesehatan hampir sepenuhnya hancur.
Langkah Awal Menuju Perdamaian
Pengamat menilai kesepakatan yang diumumkan Qatar bisa menjadi titik balik setelah dua tahun kekerasan tanpa henti. Namun, mereka juga memperingatkan bahwa tantangan terbesar ada pada implementasi di lapangan, terutama mengingat sikap keras sebagian faksi politik ‘Israel’ yang menolak gencatan senjata permanen.
Mesir dan Qatar berencana membentuk komite pemantau bersama untuk memastikan pelaksanaan perjanjian berjalan sesuai jadwal. Tahap pertama, menurut sumber diplomatik di Kairo, akan difokuskan pada penghentian tembakan, pembukaan perlintasan Rafah untuk bantuan kemanusiaan, dan dimulainya pertukaran tahanan secara bertahap.
“Setelah 733 hari neraka, Gaza akhirnya berpeluang keluar dari abu perang,” tulis Al Jazeera dalam laporannya. “Namun, jalan menuju perdamaian sejati masih panjang dan penuh rintangan politik.”
Hamas: Gencatan Senjata Hasil Keteguhan dan Pengorbanan Rakyat di Tengah 733 Hari Neraka Gaza
Setelah lebih dari dua tahun perang brutal yang menewaskan puluhan ribu warga sipil, Hamas dan ‘Israel’ akhirnya menyepakati gencatan senjata komprehensif di Jalur Gaza. Kesepakatan itu mencakup penghentian penuh agresi militer, penarikan pasukan ‘Israel’ dari seluruh wilayah Gaza, masuknya bantuan kemanusiaan, serta pertukaran tahanan secara bertahap.
Kesepakatan yang dimediasi oleh Qatar, Mesir, dan Turki, serta mendapat dukungan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump, diumumkan pada Kamis malam waktu Timur Tengah.
“Gencatan senjata ini adalah hasil dari pengorbanan besar rakyat kami dan keteguhan perlawanan yang tidak pernah goyah,” ujar Aziz al-Rashq, anggota Biro Politik Hamas, dalam pernyataannya yang disiarkan melalui Al-Aqsa TV.
Al-Rashq menegaskan bahwa perjanjian ini lahir dari “tanggung jawab sejarah” terhadap rakyat Palestina dan merupakan “puncak dari perjuangan panjang sejak 7 Oktober.” Ia menyebut kesepakatan itu sebagai “keberhasilan nasional murni” yang mencerminkan persatuan rakyat Palestina dan dukungan mereka terhadap perlawanan sebagai satu-satunya jalan menghadapi pendudukan Zionis.
Hasil Perlawanan dan Kesabaran Warga Gaza
Menurut al-Rashq, selama dua tahun terakhir, ‘Israel’ gagal mencapai tujuannya meski menggunakan kekuatan militer besar-besaran, blokade ketat, serta kelaparan sistematis.
“Apa yang gagal dicapai musuh dengan bom dan kelaparan, tidak akan mereka dapatkan lewat meja negosiasi,” tegasnya.
Dalam pernyataannya, Hamas juga mengapresiasi peran rakyat Gaza yang tetap teguh di tengah penderitaan luar biasa. “Mereka yang kehilangan rumah, keluarga, dan anak-anaknya, justru menjadi alasan lahirnya perjanjian ini,” tambahnya.
Pengamat menilai kesepakatan yang diumumkan di Doha dan Kairo ini bisa menjadi titik balik setelah 733 hari kekerasan tanpa henti. Namun, mereka mengingatkan bahwa tantangan terbesar terletak pada implementasi di lapangan, mengingat masih kuatnya penolakan di sebagian faksi politik ‘Israel’ terhadap gencatan senjata permanen.
Mesir dan Qatar berencana membentuk komite pemantau bersama untuk memastikan pelaksanaan perjanjian berjalan sesuai jadwal. Tahap pertama akan fokus pada penghentian tembakan, pembukaan perlintasan Rafah untuk bantuan kemanusiaan, dan pertukaran tahanan secara bertahap.
“Setelah 733 hari neraka, Gaza akhirnya berpeluang keluar dari abu perang,” tulis Al Jazeera dalam laporannya.*




