Hidayatullah.com– PT MAP Boga Adiperkasa Tbk (MAPB), emiten pengelola gerai Starbucks di Indonesia, melaporkan kerugian bersih sebesar Rp 108,69 miliar pada sembilan bulan pertama tahun 2025, naik dari kerugian sebesar Rp 79,13 miliar pada periode yang sama tahun lalu—mencapai kenaikan sekitar 37,36 %, kutip CNBC Indonesia.
Perusahaan juga mencatat penurunan pendapatan menjadi sekitar Rp 2,35 triliun, dari Rp 2,42 triliun pada periode sebelumnya.
Manajemen MAPB memberikan tanggapan pada kondisi ini. Dalam keterbukaan publik, pihak perusahaan menyatakan bahwa tantangan tidak hanya datang dari tekanan biaya dan kondisi pasar, tetapi juga dari sentimen publik.
“Jadi memang dampak boikot ini kan memang masih berlangsung sampai sekarang, ” kata VP Investor Relations Corporate Communications Ratih D. Gianda dikutip laman MetroTVNews.
Sentimen boikot dan pengaruh ke kinerja
Kumparan mencatat bahwa MAPB “terimbas aksi boikot” ketika merugi Rp 22,23 miliar pada kuartal I 2024. Sementara itu, laporan Tempo menyebut bahwa sejumlah gerai Starbucks melakukan penutupan sebagai respons terhadap dampak boikot.
Meskipun demikian, korelasi langsung antara kerugian MAPB dan boikot tidak secara eksplisit dijabarkan oleh perusahaan. Analisis menunjukkan bahwa kerugian terjadi di lingkungan bisnis yang kompleks—meliputi faktor seperti rendahnya daya beli konsumen, persaingan yang intens, dan tekanan biaya operasional.
Kasus MAPB menyoroti bahwa merek global seperti Starbucks, yang berbisnis di Indonesia melalui entitas lokal, dapat terkena dampak dari sentimen publik yang terkait isu geopolitik — bahkan jika secara operasional mereka berbasis di dalam negeri.
Hal ini memperingatkan pelaku industri bahwa risiko reputasi bisa berdampak nyata ke keuangan. Sementara MAPB menghadapi kerugian dan tantangan reputasi, para pengamat menyarankan agar perusahaan memperkuat transparansi brand‑by‑brand, meningkatkan efisiensi, serta memperjelas posisi operasional lokal agar konsumen memahami bahwa bisnis ini berbasis Indonesia.*




