Hidayatullah.com – Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon menilai Wasathiyyat Islam dan ajaran Tionghoa memiliki peranan penting dalam perjalanan diplomasi budaya Indonesia. Kedua tradisi moral itu dinilai memiliki pondasi yang sama, tentang keseimbangan, toleransi, dan harmoni sebagai dasar kehidupan berbangsa serta peradaban global.
“Dalam tradisi Islam, prinsip wasathiyat mengajarkan nilai keseimbangan, dan toleransi. Nilai-nilai ini telah lama membentuk ritme kehidupan masyarakat Indonesia, bagaimana kita menegosiasikan perbedaan, berbagi ruang publik, dan membangun konsensus,” ujar Fadli di pembukaan Center for Dialogue and Cooperation Among Civilizations (CDCC) bersama Cheng Hoo Multicultural Education Trust Malaysia, Global Forum of Wasathiyat Islam, dan Muhammadiyah di Galeri Nasional, Jakarta, Minggu (09/11/2025).
Menurutnya, konsep jalan tengah bukan hanya milik satu peradaban, tetapi warisan bersama yang membentuk karakter kebudayaan Indonesia. Karena itu, Ia menegaskan, Indonesia tumbuh sebagai bangsa yang mampu menegosiasikan perbedaan tanpa meniadakan keberagaman, hal itu menjadi kunci diplomasi budaya Indonesia ke dunia internasional.
Fadli mencontohkan bahwa akar filosofi tersebut tercermin dalam sejarah panjang perjumpaan Islam dan Tionghoa di Nusantara. Dari sanalah lahir identitas Indonesia yang seimbang antara iman dan rasionalitas, antara spiritualitas dan kemajuan peradaban.
“Dari warisan Tionghoa, kita diingatkan tentang kebajikan harmoni dan kebaikan. He, Ren, dan Li adalah nilai-nilai yang menekankan penghormatan dan pembentukan moral. Persatuan bukanlah ketiadaan perbedaan, tetapi kebijaksanaan untuk memelihara saling pengertian di tengah keberagaman,” sambungnya.
Mantan Wakil Ketua DPR RI ini mengingatkan bahwa budaya harus dipahami bukan hanya sebagai warisan, tapi sebagai sistem kerja yang hidup bagi perdamaian. “Budaya adalah bahasa universal yang menerjemahkan keyakinan menjadi empati, dan identitas menjadi pemahaman lintas bangsa,”tutur Fadli.
Lebih lanjut, Fadli mengatakan Indonesia adalah contoh nyata konsistensi damai. Dengan lebih dari 280 juta penduduk yang hidup di 17 ribu pulau, berbicara lebih dari 700 bahasa, dan berasal dari lebih dari seribu kelompok etnis, Indonesia menjadi mosaik kemanusiaan yang merepresentasikan Bhinneka Tunggal Ika dalam praktik nyata.
Ia menuturkan sejarah panjang peradaban Nusantara menunjukkan Islam datang tidak dengan kekerasan, tetapi melalui budaya dan pengetahuan. Temuan arkeologis di Bongal, Sumatera Utara, yang menandai kehadiran Islam sejak abad ke-7 Masehi, menjadi bukti kuat Islam tumbuh di Indonesia lewat jalur peradaban yang damai.
Menutup sambutan itu, Fadli menyebut kebudayaan sama pentingnya bagi dunia, maka perlu menempatkan budaya sejajar dengan ekonomi dan lingkungan dalam agenda global pasca 2030. Prinsip ini menurutnya, yang dapat menjaga peradaban agar tetap manusiawi di tengah disrupsi dunia modern.* Azim Arrasyid




