Hidayatullah.com – Ada suasana berbeda pada Ahad pagi, 16 November 2025, di Gedung Dewan Da’wah Islamiyyah Indonesia. Puluhan remaja dan pemuda dari berbagai daerah berkumpul dalam kegiatan Rihlah Ilmiah, sebuah perjalanan sejarah untuk mengenal lebih dekat perjuangan Mohammad Natsir, tokoh besar umat dan bangsa.
Sebanyak 40 peserta dari Jabodetabek, Sukabumi, Bandung, Karawang, Banten hingga Papua hadir dengan satu tekad: menjemput inspirasi dari sang maestro dakwah dan negarawan.
Menelusuri Jejak Sang Pejuang
Perjalanan dimulai dari Gedung Dewan Da’wah, tempat lahirnya gagasan dakwah dan gerakan peradaban yang pernah dirintis Natsir dan para tokoh Masyumi. Di lobi, foto-foto perjuangan M. Natsir menyambut para peserta, menghadirkan kembali jejak perjuangan sang tokoh pada masa penuh ujian.
Rihlah berlanjut ke Perpustakaan Lantai 7, titik penting dokumentasi sejarah. Di M. Natsir Corner, para peserta menyaksikan buku pribadi, arsip, surat-surat dakwah, hingga dokumen orisinal perjuangan Natsir. Banyak yang merasakan pengalaman emosional.
“Saat melihat arsip-arsip asli itu, kita seperti diajak kembali ke masa ketika Natsir berjuang dengan segala keterbatasan. Ini bukan sekadar dokumen, tapi cermin keteguhan,” ujar Hadi Nur Ramadhan, narasumber kegiatan.
Rombongan kemudian mengunjungi gedung bekas MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia), titik penting konsolidasi ulama pada masa penjajahan. Sebelumnya, peserta melaksanakan shalat Dzuhur di Masjid Cut Meutia, masjid bersejarah yang memadukan arsitektur kolonial dengan tradisi Islam Jakarta tempo dulu.
Rangkaian ditutup dengan ziarah ke makam Mohammad Natsir di TPU Karet Bivak. Para peserta larut dalam keheningan, merenungi betapa besar jasa Natsir dalam membela kemerdekaan Indonesia, memajukan pendidikan, dan memelihara akidah umat.
Menggali Hikmah Bersama Narasumber
Ulasan sejarah disampaikan oleh Hadi Nur Ramadhan, Pendiri Pusat Dokumentasi Islam Indonesia Tamaddun dan penggagas Rumah Sejarah Indonesia. Dengan bahasa yang renyah dan mengalir, Hadi menggambarkan sosok Natsir sebagai ulama, negarawan, pendidik, dan pemimpin yang visioner.
“Generasi muda perlu mengenal tokoh seperti Mohammad Natsir, supaya mereka tidak kehilangan akar dan arah. Beliau adalah contoh bahwa ilmu, akhlak, dan keberanian bisa berjalan seiring,” ungkap Hadi dalam pemaparannya.
Penyampaian Hadi telah menyalakan kembali semangat para peserta terhadap jejak perjuangan Natsir. “Rihlah seperti ini penting bukan untuk romantisme sejarah, tapi untuk memastikan kita memahami pondasi peradaban yang dibangun para tokoh bangsa,” tambah Hadi.
Menguatkan Tekad Melanjutkan Estafet Peradaban
Bagi panitia, kegiatan ini bukan sekadar wisata sejarah. Ia adalah upaya membangkitkan kembali ruh perjuangan Natsir ruh keilmuan, keteguhan, kecerdasan, kesantunan, dan keberanian berkata benar. “Kita berharap lahir generasi yang bukan hanya membaca sejarah, tapi ikut menuliskan babak berikutnya,” kata Hadi menegaskan.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Perpustakaan Dewan Da’wah Islamiyyah Indonesia, Pusat Dokumentasi Islam Indonesia Tamaddun, Pustaka Al-Kautsar, dan Natsir Film Project.
Pada bulan berikutnya, panitia merencanakan kegiatan Melancong Sejarah Buya Hamka, sebagai lanjutan dari upaya menuntun generasi muda mengenal para pendiri bangsa yang sejati.
Dengan penuh harap, program ini menjadi momentum tumbuhnya generasi “patah tumbuh, hilang berganti” generasi yang teguh menghadapi zaman tanpa tercerabut dari akarnya.*Azim Arrasyid




