Hidayatullah.com— Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa pemerintah tengah mempertimbangkan memindahkan ibu kota dari Teheran. Pernyataan ini disampaikan menyusul memburuknya krisis air di kota itu, di mana pasokan air kini berada pada titik kritis, demikian dikutip laman Iran Internasional.
“Sekalipun kita melakukan penjatahan dan hujan tetap tidak turun, kita tidak akan punya air sama sekali. Mereka (warga) harus mengungsi dari Teheran, ” menurut laporan kata Pezeshkian dikutip Reuters, 12 November 2025.
Beberapa bendungan utama yang memasok air ke Teheran kini berada dalam kondisi kritis. Dalam laporan oleh Reuters disebutkan bahwa kekeringan parah telah menyebabkan keran air mulai mengering, dan kota — dengan lebih dari 10 juta penduduk — dianggap “mungkin segera tak layak huni.”
Menurut artikel di Scientific American, krisis ini bukan semata-mata akibat perubahan iklim, tapi juga dipicu oleh “kesalahan manusia selama puluhan tahun,” termasuk eksploitasi air tanah berlebihan dan inefisiensi dalam manajemen sumber daya air.
Manajemen Air dan Ancaman Evakuasi
Para pakar menyebut bahwa pembangunan bendungan tanpa kajian lingkungan, pengeboran sumur ilegal, serta praktik pertanian yang boros air berkontribusi besar terhadap krisis ini.
Situasi menjadi lebih genting bagi warga biasa. Sejumlah dam telah mencapai kapasitas yang sangat rendah — hal ini membuat suplai air menjadi tidak dapat diandalkan.
Pemerintah telah mulai menerapkan kebijakan rasionalisasi air dan pengurangan tekanan air di jaringan pasokan — namun langkah ini dinilai belum cukup untuk mencegah potensi kekeringan total.
Pezeshkian sendiri memperingatkan bahwa jika hujan tidak segera turun, evakuasi penduduk Teheran bisa menjadi opsi yang dipertimbangkan.
Kondisi ini menunjukkan krisis air di Teheran sudah berada pada titik kritis — kombinasi antara cuaca ekstrem, kekeringan berkepanjangan, dan manajemen air yang buruk telah memaksa pemerintah mempertimbangkan langkah drastis seperti pemindahan ibu kota.*




