Hidayatullah.com – Kondisi pasca-banjir bandang di Dusun Karya, Kampung Seumadam, Kecamatan Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang, sangat mengkhawatirkan.
Hidayatullah.com bersama Tim Relawan dan SAR Hidayatullah terjun langsung ke lokasi pada Ahad (7/12/2025), menyaksikan kerusakan struktural parah dan mendengar kesaksian warga yang menyebut bencana kali ini sebagai “tsunami kedua.”
Dhiyaudin, Implementator Program BMH yang mendampingi tim di lokasi, menunjukkan bukti fisik ketinggian air yang ekstrem.
”Kami sekarang ada di Dusun Karya Kampung Seumadam. Bisa dilihat, ini pohon sawit, dan ada batas air di sana, ada batas air cukup tinggi sekali,” lapor Dhiyaudin.
Ia menjelaskan bahwa melihat jejak air di pohon dan bangunan memberikan gambaran nyata akan kekuatan bencana.
”Itu adalah batas air ketinggian. Bisa dibayangkan bagaimana suasana dan kondisi saat itu. Jadi, beberapa masyarakat mengatakan ini adalah tsunami kedua,” tambahnya mengutip keparahan yang dirasakan warga.
Rumah Bergeser, Barang Rusak Total
Wawancara dengan warga setempat mengungkap kronologi bencana yang memaksa evakuasi total.
Banjir dilaporkan mulai naik sejak tanggal 26 November dan mencapai puncaknya pada tengah malam.
”Puncak air naik sekitar jam 00.00 malam. Kami di sini jam 8 sudah mulai mengungsi,” ujar Aldo, warga setempat.
Keputusan untuk menyelamatkan diri didasarkan pada besarnya arus yang menerjang permukiman.
”Posisi tempat kami ini kan kayak tempurung. Jadi kalau di sini kita di rumah, air sudah segini (diatas lutut). Makanya kita utamakan nyawa aja dulu,” lanjutnya, membenarkan bahwa barang-barang mereka semua habis terendam.
Dhiyaudin juga menyoroti kerusakan struktural yang ditemukan.
”Ini rumah bergeser, ya. Kebanyakan rumahnya geser seperti ini. Harusnya dari sini, dia bergeser segala macam. Ini otomatis sudah tidak bisa lagi digunakan. Airnya sampai ke atas,” terangnya menunjuk bekas batas air sampai ke atap.
Ditemukan pula bukti kuatnya arus yang menyebabkan rumah jebol. “Rumah itu jebol bisa dilihat, teman-teman, saking kencangnya, air kemudian menjebol dinding rumah,” imbuh Dhiyaudin.*Srj




