Hidayatullah.com—Pendidikan holistik yang benar adalah pendidikan yang mengembalikan manusia kepada fitrahnya melalui adab. Pernyataan tersebut disampaikan Dr. Henri Shalahuddin, MIRKH, Direktur Eksekutif Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) Jakarta, sebuah lembaga riset pemikiran dan peradaban Islam dalam “Temu Ilmiah Akhir Tahun INSISTS” yang digelar di markas lembaga tersebut, Kalibata, Jakarta, Sabtu (6/12/2025).
Dalam paparannya, ia menyoroti kegagalan model pendidikan modern—baik di Indonesia maupun di berbagai negara—yang hanya menekankan aspek teknis, tetapi kehilangan ruh pembentuk manusia.
“Pendidikan holistik itu bukan sekadar mengumpulkan pengetahuan. Pendidikan itu harus membentuk manusia sesuai fitrah universalnya—melalui adab, melalui pengenalan pada Allah, bukan sekadar menguasai fakta,” ujar pria yang juga Dosen di Universitas Darussalam Gontor (Unida Gontor) ini.
Pendidikan Meningkat, Moral Merosot
Terkait paparannya, Henri mengungkap paradoks pendidikan modern: semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin rapuh bangunan sosialnya. Hal ini merujuk lonjakan mahasiswa dari 5,8 juta (2014) ke 9,9 juta (2025) tapi pernikahan turun, perceraian naik 13,2%, dan kejahatan susila justru naik 64%.
Ia juga menunjukkan fenomena antrean panjang di pengadilan agama yang didominasi perempuan mengajukan cerai. Di beberapa daerah seperti Cibinong, Gresik, Bandung, dan Pemalang, permohonan cerai mencapai ribuan kasus.
Di kalangan pelajar, situasinya lebih memprihatinkan. Henri menyebut 82.000 pelajar NTT hamil di luar nikah, ratusan siswi SMP di Ponorogo hamil, dan dispensasi nikah remaja meningkat signifikan.
“Angka pendidikan meningkat, tapi perceraian meningkat, kejahatan susila meningkat, pernikahan menurun. Ada yang salah besar,” katanya.
Belum lagi fenomena semakin banyak orang terpelajar, tapi faktanya semakin banyak mereka takut menikah. “Menunjukkan pendidikan hari ini alih-alih mendewasakan, justru memperpanjang masa kanak-kanak,” ujarnya. “Ini realita pendidikan kita. Ilmu bertambah, tapi adab hilang,” tambahnya.
Ia menyinggung kebijakan seks edukasi di negara Barat yang dianggap menormalisasi perilaku menyimpang tanpa penguatan adab. “Di Australia, anak SMP kalau pesta kelulusan dibekali kontrasepsi. Ini bukan pendidikan, ini legalisasi kerusakan,” tegasnya.
Dalam kacamata Islamic Worldview, ini adalah gejala akut dari kerusakan ilmu (corruption of knowledge). Pendidikan sekular hari ini telah membuang nilai sakral dari tubuh manusia.
Maksiat “diwajarkan” dengan dalih HAM, Friends with Benefits (FWB), dan “otonomi tubuh”. Solusi yang ditawarkan pun bersifat teknis-ateistik: Sexual Consent (persetujuan seksual) dan pembagian alat kontrasepsi, seolah-olah zina itu boleh asalkan “suka sama suka” dan “aman”.
Akibatnya, lahirlah generasi yang cerdas otaknya namun buta hatinya. Ia menyebutnya sebagai budaya kemunafikan yang berujung pada kriminalitas.
Pendidikan yang hanya mengejar keterampilan teknis (skill) tanpa penanaman adab hanya akan melahirkan koruptor yang terampil membocorkan uang negara lewat “Pusdiklat”. Mereka cerdas secara angka, tapi bodoh secara makna.
Akar masalahnya ada pada penyempitan makna ilmu. Hari ini, ilmu direduksi hanya menjadi “informasi” dan data empiris. Padahal, merujuk pada Imam Al-Ghazali dalam Al-Iqtishad fil I’tiqad, ilmu seharusnya mengantarkan pada pengenalan akan zat Yang Maha Tahu.
Ia menegaskan perlunya revolusi cara pandang. Ketika melihat alam semesta, kita tidak boleh hanya berhenti pada aspek fisik-empiris (geologi, astronomi), tetapi harus menembusnya hingga melihatnya sebagai ciptaan Allah (khalqullah). Ketika membaca hadits, itu bukan sekadar teks sejarah, melainkan ta’rifat (pengenalan) dari Allah lewat lisan Nabi.
Pesantren sebagai Model Pendidikan Holistik
Henri menekankan bahwa model pendidikan paling holistik yang ada saat ini adalah pesantren. “Di pesantren, ilmu, adab, ruhani, dan akal dibentuk bersamaan. Ada Kiai sebagai teladan, masjid sebagai pusat ruhani, dan pengajaran agama yang menyatu dengan kehidupan,” jelasnya.
Ia menjelaskan, tujuan pendidikan Islam adalah melahirkan kemampuan al-furqan: kemampuan membedakan antara kebenaran (al-haqq) dan kepalsuan (al-batil). Budaya ilmu dalam Islam adalah budaya perlawanan terhadap sufastha’iyyah (kaum Sofis), yaitu orang-orang yang pandai bersilat lidah membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar.
Dalam wacana modern, “holistik” sering diartikan sekadar “menyeluruh” (whole). Namun, Prof. Al-Attas membawa pemaknaan ini ke level ontologis yang lebih tinggi. Holistik dalam Islam merujuk pada konsep kamil (sempurna) atau kulli (universal). Tujuannya adalah mencetak al-insan al-kamil (manusia sempurna) dengan Rasulullah ﷺ sebagai prototipe utamanya.
Mengutip Imam Al-Ghazali dalam al-Iqtisad, ia menjelaskan bahwa ilmu harus membawa manusia mengenal Allah. “Ketika melihat alam, jangan hanya melihat fisiknya. Lihat bahwa ia ciptaan Allah,” ujarnya.
Ia juga membantah anggapan bahwa sufi hanya identik dengan kehidupan zuhud. Ia menyebut Syamsuddin—guru Sultan Muhammad Al-Fatih—sebagai penemu konsep mikroba pertama dalam teks Maddat al-Hayat. “Sufi bukan anti-ilmu. Justru mereka memadukan adab dan sains dengan sangat tinggi,” jelasnya.
Henri memberi contoh kegagalan pendidikan universitas modern berdasarkan pengalamannya mengajar. Dari puluhan mahasiswa yang pernah dia tanya, banyak yang tidak tahu arti dasar “Islam”, atau perbedaan fardhu ‘ain dan fardhu kifayah.
“Mahasiswa tahu rumus fisika, tapi tidak tahu arti Islam. Ini tragedi,” katanya.
Ia menyoroti bahwa banyak guru dibekali aspek teknis tetapi tidak diajarkan bagaimana menangani siswa yang berbohong atau bermasalah akhlaknya.
Belajar dari Turki Utsmani
Untuk membangun kembali peradaban, Henri mengajak menengok model pendidikan Turki Utsmani, khususnya pada sosok Akşemseddin (guru spiritual Muhammad Al-Fatih). Akşemseddin bukan hanya seorang sufi dan mursyid, tetapi juga seorang dokter dan ilmuwan yang menguasai sains.
Ini membuktikan bahwa dalam Islam, tidak ada dikotomi antara “ilmu agama” dan “ilmu dunia”. Lembaga pendidikan seperti Sahn-i Seman kala itu melahirkan peradaban besar karena dibangun di atas disiplin adab yang ketat.
Ia juga menjelaskan sistem pendidikan kulliye (kompleks pendidikan Islam terintegrasi) sebagai model holistik yang menggabungkan masjid, medrese, rumah sakit (darussifa), dan fasilitas sosial yang melingkupinya.
Secara etimologis, kulliye berasal dari kata kulli (universal) inilah lahir istilah kulliyyah (fakultas/kampus), yang kemudian diserap Barat menjadi college. Sejatinya, universitas (kulliyyah) adalah tempat mencetak manusia yang berpikir universal, bukan manusia yang terkotak-kotak dalam spesialisasi sempit (partikular) hingga kehilangan perspektif besarnya.
Ia membandingkan pesantren yang ada saat ini dengan model kulliye di masa Turki Utsmani, ketika masjid, sekolah hadis, rumah sakit, dan pusat ilmu berada dalam satu kompleks.
“Itulah pendidikan yang membangun peradaban,” katanya.
Anak Takut Sekolah
Henri menutup pidatonya dengan kritik mendalam terhadap realita pendidikan Indonesia, di mana banyak anak justru takut berangkat ke sekolah. Ia menyaksikan fenomena anak-anak yang malas kembali ke sekolah atau pondok pesantren meski masa liburan sudah habis.
“Ini pasti ada yang terbalik. Sebab sekolah seharusnya menjadi tempat paling aman untuk anak. Kalau anak takut sekolah, takut bertemu gurunya, berarti sistem pendidikannya tidak membangun jiwa, tidak membangun adab, dan tidak mengembalikan manusia pada fitrahnya,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pendidikan holistik adalah pendidikan yang menyatukan ilmu, adab, ruhani, dan pengenalan terhadap Tuhan. “Kalau pendidikan tidak melahirkan manusia beradab, maka pendidikan itu gagal membangun peradaban,” tegasnya.*




