Islam minoritas di Korea Selatan tumbuh stabil melalui pendidikan inklusif KMF, ubah stereotip jadi konversi—menuju harmoni multikultural.
Hidayatullah.com | ISLAM, meskipun merupakan agama minoritas di Korea Selatan, menunjukkan perkembangan yang stabil lewat berbagai kegiatan pendidikan dan interaksi sosial.
Menurut data terbaru yang dirilis oleh Korea Muslim Federation (KMF), populasi Muslim di Korea Selatan diperkirakan mencapai sekitar 200.000 jiwa, atau kurang dari 0,4 persen dari total penduduk negara itu yang berjumlah kurang lebih 52 juta orang.
Sekitar 70–80 persen dari jumlah ini adalah warga asing, sedangkan sisanya merupakan Muslim Korea, baik yang lahir sebagai mualaf maupun yang berasal dari keluarga Muslim keturunan lokal.
Salah satu pusat aktivitas komunitas Muslim di negara ini adalah Seoul Central Mosque di distrik Itaewon, Seoul. Masjid tersebut, dibuka pada 1976, tetap menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial, termasuk kelas dan ceramah Islam dalam bahasa Korea, Arab, dan Inggris.
Setiap Jumat, salat jumat menarik antara 400–800 jamaah meskipun jumlah Muslim di Seoul sendiri beragam dan tidak seluruhnya Muslim Korea.
Korea Muslim Federation secara berkala menyelenggarakan kursus dasar Islam setiap bulan di Seoul Central Mosque untuk masyarakat umum, termasuk warga Korea non-Muslim.
Kursus ini mencakup materi dasar tentang kepercayaan Islam, praktik ibadah, dan etika sosial dalam Islam, serta bertujuan mengedukasi masyarakat luas tentang ajaran Islam secara benar dan kontekstual.
Kegiatan ini dikabarkan menarik minat sejumlah warga Korea yang ingin mempelajari lebih jauh tentang Islam dan mempertimbangkan konversi setelah mengikuti rangkaian materi pengenalan tersebut.
Dalam salah satu kasus yang dilaporkan media pada tahun 2025, setidaknya 17 warga Korea Selatan melakukan konversi ke Islam di Seoul Central Mosque setelah menyelesaikan kursus pendidikan dasar tentang Islam yang dimulai Februari 2025. Mereka mengikuti pengajaran dan kemudian melakukan syahadat secara resmi di masjid tersebut.
Pakar lokal Korea, termasuk Lee Hee-soo, Profesor Emeritus Antropologi Budaya di Hanyang University, menyatakan bahwa pemahaman masyarakat Korea terhadap Islam masih dipengaruhi oleh stereotip dan informasi media Barat yang sering menampilkan gambaran negatif tentang dunia Muslim.
Menurut Lee, kurangnya literasi agama dan pengalaman langsung berinteraksi dengan komunitas Muslim menyebabkan banyak warga Korea memiliki prasangka atau ketidaktahuan mendalam tentang tradisi Islam, kutip Koreatimes.co.kr.
Lee menambahkan bahwa, meskipun jumlah Muslim masih kecil jika dibandingkan dengan agama lain seperti Kristen atau Buddha, Korea Selatan relatif terbuka terhadap keberagaman agama, sehingga kegiatan dialog lintas agama dan pendidikan seperti yang dilakukan oleh KMF menjadi penting dalam membangun pemahaman yang lebih objektif tentang Islam di masyarakat.
Selain pendidikan dasar, KMF juga merayakan tonggak sejarah panjang Islam di Korea melalui acara seperti 70th anniversary yang turut menghadirkan tokoh internasional dari organisasi halal dan lembaga Islam lain.
Dalam pidatonya, Ketua KMF, Kim Dong-eok, menegaskan komitmen organisasi untuk memfasilitasi pemahaman Islam di Korea serta memperluas hubungan dengan komunitas Muslim global.
Sementara itu, komunitas Muslim di Korea tetap berupaya menghadapi tantangan sosial. Beberapa laporan menunjukkan adanya hambatan dalam penerimaan sosial, termasuk dalam pasar kerja atau persepsi publik.
Namun, kelompok Muslim lokal dan internasional menilai bahwa peningkatan kegiatan pendidikan serta keterlibatan lintas budaya dapat membantu memperkuat pemahaman serta hubungan antaragama di Korea Selatan.*




