Hidayatullah.com – Insiden penembakan di Pantai Bondi menjadi dalih pemerintah Australia untuk mengeluarkan langkah-langkah menindas gerakan pro-Palestina yang telah populer di seluruh dunia. Salah satunya dengan melarang kata “intifada” dalam demonstrasi dan konvoi.
Para pejabat negara bagian New South Wales bahkan menyebut istilah itu sebagai “hasutan”. Sedangkan perdana menterinya, Chris Minss, mengisyaratkan akan memberlakukan undang-undang demonstrasi yang lebih keras yang secara luas dipandang sebagai upaya untuk menargetkan demonstrasi solidaritas Palestina di Gaza.
Minns sendiri menginstruksi komisi kerajaan untuk menyelidiki penembakan Bondi, sementara pemerintah negara bagian dan federal mengumumkan serangkaian langkah yang mereka sebut untuk “memerangi ekstremisme”.
Pada hari Senin, parlemen New South Wales terus menggodok peraturan yang dianggap sebagai undang-undang senjata api terketat di negara itu, bersamaan dengan undang-undang yang melarang simbol-simbol yang ditetapkan sebagai “teroris”. Reformasi tersebut diperkirakan akan disahkan minggu ini.
Aksi penembakan yang menewaskan 15 orang dan melukai puluhan orang dalam perayaan Yahudi di Pantai Bondi, Sydney, pekan lalu, telah diikuti oleh serangkaian usulan pembatasan terhadap protes, slogan, dan kebebasan berbicara, khususnya yang terkait dengan solidaritas Palestina.
Katerina Cosgrove, jurnalis dan penulis Australia, mengatakan kesedihan atas penembakan itu dieksploitasi untuk memecah belah komunitas dan menekan aksi demo yang sah.
Dalam sebuah opini yang diterbitkan oleh The New Arab, Cosgrove berpendapat bahwa “komentator dan politisi yang beritikad buruk mempersenjatai tragedi ini, mengeksploitasi situasi dan menyamakan gerakan pro-Palestina dengan penembakan di Bondi.”
Cosgrove mengatakan bahwa protes pro-Palestina yang damai di Australia telah menarik orang-orang dari berbagai lapisan masyarakat, dan memperingatkan bahwa menyalahkan secara kolektif berisiko memicu Islamofobia dan memperdalam perpecahan sosial.
Ia juga mengkritik komentar utusan anti-Semitisme Australia, Jillian Segal, yang mengaitkan penembakan Bondi dengan gerakan pro-Palestina, serta pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang menuduh Albanese “memungkinkan anti-Semitisme” dengan mengakui negara Palestina.
Menteri Luar Negeri ‘Israel’ Gideon Saar pada hari Ahad mendesak orang Yahudi di Australia dan negara-negara Barat lainnya untuk pindah ke ‘Israel’, dengan alasan mereka “diburu di seluruh dunia”.
“Orang Yahudi berhak hidup aman di mana pun,” kata Saar dalam upacara penyalaan lilin Hanukkah di depan umum. “Tetapi kita melihat dan sepenuhnya memahami apa yang terjadi… Hari ini saya menyerukan kepada orang Yahudi di Australia, Inggris, Prancis, Kanada, dan Belgia: datanglah ke Tanah Israel. Pulanglah.”
Sejak penjajah ‘Israel’ memulai perang genosida di Gaza, para pemimpin zionis berulang kali menyamakan demonstrasi pro-Palestina dengan antisemitisme dan menyerukan kepada negara-negara untuk menindak aksi kritis terhadap kejahatan mereka di Jalur Gaza, di mana lebih dari 71.000 orang—sebagian besar perempuan dan anak-anak—telah syahid.*




