Hidayatullah.com— Sekelompok massa yang menamakan diri sebagai cow vigilante —istilah yang merujuk pada kelompok radikal yang mengklaim pelindungi sapi dan sering melakukan aksi hakim sendiri —dilaporkan menyerang sejumlah pria Muslim miskin di negara bagian Haryana, India utara. Para korban dituduh terlibat penyembelihan dan konsumsi daging sapi, tuduhan yang kerap menjadi pemicu kekerasan komunal di wilayah tersebut.
Menurut laporan Indian Express, serangan terjadi setelah massa menghadang para korban di kawasan pedesaan dan menuduh mereka menyimpan atau mengolah daging sapi.
Para korban mengalami pemukulan dan intimidasi sebelum akhirnya dibawa ke kantor polisi setempat untuk diperiksa. Dalam beberapa insiden serupa, korban justru lebih dulu ditahan dibandingkan para penyerang.
“Kami menerima informasi adanya dugaan pelanggaran hukum terkait sapi. Para pria tersebut diamankan untuk penyelidikan lebih lanjut,” lapor pejabat kepolisian Haryana, dikutip Indian Express.
Namun, laporan media dan kelompok HAM mencatat bahwa tidak ada bukti awal yang jelas yang ditunjukkan publik untuk mendukung tuduhan tersebut.
Kelompok hak asasi manusia Indian American Muslim Council (IAMC) dalam laporan terbarunya menyoroti pola kekerasan serupa di Haryana dan negara bagian sekitarnya.
IAMC mencatat bahwa dalam sejumlah kasus, polisi dituduh hadir di lokasi kejadian tanpa mencegah kekerasan, atau bertindak setelah korban mengalami penganiayaan.
“Dalam beberapa insiden yang kami dokumentasikan, aparat penegak hukum gagal melindungi korban dan justru membiarkan kelompok vigilante sapi bertindak di luar hukum,” ujar IAMC dalam laporannya, sebagaimana dikutip oleh Sabrang India dan Human Rights Commission Tom Lantos, Kongres AS.
Media Scroll.in melaporkan bahwa fenomena kekerasan meningkat sejak diberlakukannya undang-undang ketat larangan penyembelihan sapi di sejumlah negara bagian India.
Aturan tersebut, menurut pengamat HAM, sering dimanfaatkan kelompok ekstremis berbasis ideologi Hindutva untuk melakukan kekerasan terhadap komunitas Muslim dan Dalit dengan dalih penegakan moral dan agama.
Menurut NDTV pemerintah Haryana berulang kali menyatakan tidak mentoleransi kekerasan massa. Namun, aktivis HAM menilai pernyataan tersebut belum diikuti penegakan hukum yang konsisten terhadap pelaku main hakim sendiri.
Kasus-kasus di Haryana menambah daftar panjang insiden serupa di India, termasuk pembunuhan dua pria Muslim di Bhiwani pada 2023 yang juga melibatkan tuduhan penyelundupan sapi dan menyeret nama tokoh provokator main hakim sendiri yang sangat terkenal. Perkara tersebut hingga kini masih bergulir di pengadilan.
Hingga laporan ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi tambahan dari pemerintah negara bagian Haryana terkait dugaan keterlibatan polisi dalam insiden terbaru ini.
Kelompok HAM mendesak investigasi independen dan perlindungan hukum yang setara bagi semua warga negara tanpa diskriminasi agama.*




