Hidayatullah.com—Netflix kembali menjadi sorotan setelah Concerned Women for America (CWA), kelompok advokasi konservatif yang berbasis di Amerika Serikat, merilis laporan yang menyoroti meningkatnya konten LGBTQ dalam program anak-anak di platform tersebut. Laporan itu menilai perubahan konten ini berpotensi memengaruhi audiens usia dini.
“Banyak orang tua tidak menyadari sejauh mana konten anak-anak telah berubah dalam beberapa tahun terakhir,” demikian pernyataan CWA dalam laporannya, sebagaimana dikutip Fox News.
Kelompok tersebut menilai perubahan ini terjadi secara konsisten di berbagai judul yang dipasarkan sebagai tontonan keluarga.
Dalam laporan tersebut, CWA mengklaim bahwa lebih dari 41 persen tayangan Netflix yang diklasifikasikan untuk penonton usia muda—termasuk kategori G, TV-Y, TV-G, dan TV-Y7—mengandung karakter, tema, atau alur cerita yang berkaitan dengan LGBTQ.
CWA juga menyoroti sejumlah waralaba populer yang sebelumnya dikenal luas sebagai tayangan anak-anak. Dalam laporannya, kelompok ini menyebut versi terbaru The Magic School Bus, Strawberry Shortcake: Berry in the Big City, Power Rangers, She-Ra, dan The Fairly OddParents kini menampilkan karakter transgender atau nonbiner, serta narasi yang berfokus pada identitas gender dan orientasi seksual.
Ketika cakupan diperluas ke seluruh kategori usia anak, sekitar sepertiga judul program anak dinilai memuat elemen serupa.
“Temuan kami menunjukkan adanya pola yang konsisten, di mana konten yang menyasar anak-anak semakin sering memasukkan narasi seputar identitas gender dan orientasi seksual,” demikian pernyataan CWA dalam laporannya.
Kelompok tersebut menyebut tren ini sebagai perubahan signifikan dalam lanskap hiburan anak.
CWA juga menyoroti sejumlah waralaba populer yang sebelumnya dikenal sebagai tontonan ramah anak.
“Banyak orang tua mengenal waralaba ini sebagai tontonan klasik anak-anak. Karena itu, mereka kerap tidak menyadari bahwa versi terbarunya telah mengalami perubahan substansial dalam pesan dan tema yang disampaikan,” ujar seorang juru bicara Concerned Women for America.
Menurut CWA, perkembangan tersebut memunculkan kekhawatiran terkait kesesuaian konten dengan usia anak dan peran orang tua dalam mengawasi konsumsi media keluarga.
Kelompok ini mendorong penyedia layanan streaming untuk memberikan pelabelan konten yang lebih transparan serta memperkuat fitur kontrol orang tua.
“Kami tidak berbicara tentang konten dewasa, melainkan program yang secara eksplisit dipasarkan untuk anak-anak. Orang tua berhak mengetahui apa yang ditonton anak mereka,” tulis CWA dalam bagian rekomendasinya.
Hingga laporan ini dipublikasikan, Netflix belum memberikan tanggapan resmi terkait temuan tersebut. Sebelumnya, perusahaan menyatakan komitmennya untuk menghadirkan beragam konten yang mencerminkan berbagai latar belakang dan pengalaman, sekaligus menyediakan pengaturan orang tua agar keluarga dapat menyesuaikan tontonan sesuai kebutuhan.
Perdebatan mengenai representasi LGBTQ dalam konten anak terus mengemuka di Amerika Serikat, seiring meningkatnya perhatian publik terhadap peran industri hiburan dalam membentuk nilai dan persepsi anak-anak.
Laporan CWA ini diperkirakan akan kembali memicu diskusi luas mengenai batasan konten, tanggung jawab platform digital, dan kebebasan berekspresi dalam media hiburan.*




