Hidayatullah.com– Reza Pahlavi, putra dari shah terakhir Iran yang mengasingkan diri di Amerika Serikat, mengapresiasi unjuk rasa besar-besaran hari Jumat (9/1/2026) dan menyerukan supaya rakyat Iran kembali ke jalan pada hari Sabtu dan Ahad untuk melakukan unjuk rasa besar guna mengambil alih pusat-pusat kota.
“Tujuan kita bukan lagi sekedar turun ke kjalan. Tujuan kita sekarang bersiap untuk menduduki dan menguasai pusat-pusat kota,” kata Pahlavi dalam pesannya berupa rekaman video yang diunggah ke media sosial seperti dilansir AFP Sabtu (10/1/2026).
Pahlavi merupakan putra dari Mohammad Reza Pahlavi, shah Iran terakhir yang digulingkan lewat Revolusi 1979 dan wafat pada tahun 1980.
Dalam pesan tersebut dia juga mengatakan “sedang bersiap-siap untuk pulang kembali ke tanah ait” dan masanya, sebagaimana yang dia yakini, sudah “sangat dekat”.
Pihak berwenang Iran mengatakan sejumlah personel keamanan sudah terbunuh, dan pemimpin spiritual tertinggi Syiah – pemegang kekuasaan sesungguhnya rezim Teheran sejak Revolusi 1979 – Khamenei dalam pidatonya hari Jumat mengutuk para demonstran yang disebutnya “vandal” dan menegaskan bahwa pemerintah tidak akan gentar dengan demonstransi anti-rezim.
Dia menuding Amerika Serikat sebagai pihak yang memanas-manasi rakyat untuk berunjuk rasa dan melakukan kerusuhan. Komentar senada sebelumnya juga diutarakan sejumlah pejabat Iran.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump, hari Jumat, kembali menegaskan bahwa Washington tidak ragu-ragu untuk mengerahkan kekuatan militer guna melawan rezim Iran saat ini.
“Iran dalam masalah besar. Saya lihat rakyat sudah mengambil alih beberapa kota yang beberapa pekan lalu tampaknya masih mustahil ,” kata Trump.
Ketika ditanya apa pesan Trump untuk pemimpin Iran, Presiden AS itu berkata, “Sebaiknya kalian jangan menembaki (demonstran) karena kami bisa melakukan penembakan juga.”
Para aktivis peduli hak asasi manusia mengungkapkan kekhawatiran mereka bahwa pemadaman internet akan menutupi tindakan represif yang dilakukan rezim.
Kelompok Iran Human Rights yang berbasis di Norwegia mengatakan sedikitnya 51 orang warga sudah tewas dalam tindakan keras aparat terhadap para pengunjuk rasa.*




