Hidayatullah.com – Presiden Argentina, yang dikenal sebagai pendukung ‘Israel’, menunda rencana memindahkan kedutaan besarnya dari Tel Aviv ke Baitul Maqdis yang diduduki.
Javier Milei sebelumnya telah berjanji untuk memindahkan kedutaan negaranya ke Baitul Maqdis, sebagai bentuk dukungan terhadap penjajah ‘Israel’.
Rencana tersebut, yang dijadwalkan pada peringatan Hari Pendirian ‘Israel’, ditunda pada menit terakhir karena pengeboran minyak ‘Israel’ di dekat Kepulauan Falkland, wilayah yang diklaim Argentina tetapi dikendalikan Inggris, lapor saluran 12 Israel.
Perusahaan Israel Navitas akan melakukan pengeboran, dengan target produksi hanya 32.000 barel minyak per hari. Proyek yang bernilai $1,8 miliar ini diharapkan akan dimulai dalam beberapa minggu mendatang berdasarkan lisensi yang dikeluarkan oleh pemerintah Falkland. ‘Israel’ tetap melanjutkan, meskipun Argentina menganggapnya sebagai garis merah.
Keputusan penundaan ini menampilkan realitas kompleks: seorang presiden yang ingin menyenangkan ‘Israel’ kini menghadapi ketegangan dengan klaim teritorial negaranya sendiri.
Pejabat Argentina memperingatkan bahwa pengeboran tersebut dapat merusak hubungan bilateral, yang membaik sejak Javier Milei menjabat sebagai presiden.
Presiden Argentina Javier Milei telah memposisikan dirinya sebagai salah satu pendukung internasional terkuat ‘Israel’, mematahkan kebijakan luar negeri yang lebih netral selama beberapa dekade di Buenos Aires.
Sejak menjabat, ia secara terbuka memuji perang dan serangan ‘Israel’, termasuk genosida Gaza, dan menegaskan kembali keselarasan negaranya dengan ‘Israel’ dan Amerika Serikat di arena diplomatik.
Milei menyampaikan pidato di Knesset di Yerusalem yang diduduki, menyatakan dukungan yang tak tergoyahkan, dan telah menegaskan kembali janji untuk memindahkan kedutaan Argentina dari Tel Aviv ke Yerusalem yang diduduki pada tahun 2026; sebuah isyarat diplomatik penting yang mendukung pendudukan Israel atas ibu kota Palestina.
Sikap pro-Israel Milei juga termasuk memperdalam hubungan politik dan ekonomi. Ia menggunakan hadiah Genesis Prize senilai $1 juta untuk meluncurkan “Kesepakatan Isaac,” sebuah kerangka kerja diplomatik yang bertujuan untuk menormalisasi hubungan antara negara pendudukan ‘Israel’ dan negara-negara Amerika Latin di berbagai bidang termasuk teknologi dan pendidikan.*




