Hidayatullah.com— Apple Inc. dilaporkan mengakuisisi startup kecerdasan buatan (AI) asal ‘Israel’, Q.ai, dalam kesepakatan bernilai mendekati US$2 miliar. Langkah ini menjadi salah satu akuisisi terbesar Apple dan menunjukkan keseriusan perusahaan dalam memperkuat teknologi AI serta perangkat wearable generasi berikutnya.
Perusahaan mengonfirmasi pembelian tersebut pada Kamis (29/1/2026). Startup itu diketahui mengembangkan teknologi pembelajaran mesin yang membantu perangkat memahami bisikan serta meningkatkan kualitas audio dalam kondisi sulit.
“Apple tidak mengungkapkan nilai pasti transaksi maupun rencana penggunaan teknologi Q.ai, tetapi menyebut startup tersebut telah mengembangkan aplikasi baru pembelajaran mesin untuk membantu perangkat memahami ucapan berbisik,” demikian dikutip Reuters (29/1/2026).
Senior Vice President Hardware Technologies Apple, Johny Srouji, memuji kapabilitas Q.ai. “Q.ai adalah perusahaan luar biasa yang merintis cara baru dan kreatif dalam memanfaatkan teknologi pencitraan dan pembelajaran mesin,” katanya.
“Kami sangat senang mengakuisisi perusahaan ini, dengan Aviad sebagai pemimpin, dan semakin antusias menyambut berbagai inovasi yang akan datang,” demikian dikutip Reuters.
Q.ai didirikan pada 2022 oleh Aviad Maizels bersama Yonatan Wexler dan Avi Barliya. Tim pendiri, termasuk sekitar 100 karyawan perusahaan, akan bergabung dengan Apple setelah proses akuisisi rampung.
Teknologi perusahaan ini memungkinkan perangkat mendeteksi “ucapan tanpa suara” melalui sensor optik yang menganalisis mikrogerakan kulit wajah, sehingga pengguna dapat berkomunikasi dengan asisten AI tanpa harus berbicara. Inovasi tersebut berpotensi diterapkan pada produk seperti AirPods, Vision Pro, iPhone, hingga Mac.
CEO Q.ai, Aviad Maizels, menyatakan optimisme terhadap masa depan teknologi yang mereka bangun. “Bergabung dengan Apple membuka kemungkinan luar biasa untuk mendorong batas inovasi dan mewujudkan potensi penuh dari apa yang telah kami ciptakan. Kami sangat antusias menghadirkan pengalaman ini kepada orang-orang di seluruh dunia,” demikian dikutip Reuters (29/1/2026).
Akuisisi ini juga dipandang sebagai bagian dari strategi Apple untuk mengejar ketertinggalan dalam perlombaan AI melawan pesaing seperti Meta, Google, dan OpenAI, sekaligus memperkuat pengembangan perangkat yang semakin bergantung pada kecerdasan buatan.
Selain memperluas kemampuan audio dan komunikasi nonverbal, pembelian Q.ai menegaskan pendekatan Apple yang kerap mengakuisisi perusahaan teknologi spesialis untuk diintegrasikan ke dalam ekosistem produknya.
Jika berhasil diimplementasikan, teknologi ini berpotensi mengubah cara manusia berinteraksi dengan perangkat—beralih dari perintah suara menuju komunikasi digital tanpa suara.*




